Kain batik tidak hanya dibuat pakaian. Rustika Dewi Wijayanti memanfaatkan limbah perca itu menjadi hiasan jam dinding berbentuk tiga dimensi. Karyanya ambil bagian dalam ekspo virtual Bank Indonesia Kediri.
SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun
DUA buah karung berisi perca batik tulis berada di pojok ruang rumah Rustika Dewi Wijayanti. Beberapa lembar kain di dalamnya dijumput perempuan 41 tahun itu. Menggunakan gunting, dia memotong motif batik pada kain itu mengikuti pola. Hasilnya lantas direkatkan pada plastik mika. ‘’Seperti ini proses awal membuat jam dinding batik tiga dimensi (3D),’’ kata Tika, sapaan akrab Rustika Dewi Wijayanti.
Mika yang bersatu dengan kain batik dijemur selama sekitar 15 menit. Supaya rekatannya kuat, bagian permukaan mika dipanaskan di atas api lilin beberapa detik. Nah, untuk memunculkan kesan unik dan 3D-nya, Tika menggunakan alat khusus dan teknik sospeso trasparente. Sejumlah ujung mika ditekan menggunakan alat yang ujungnya bulat.
Potongan batik yang sudah mengeras dan berbentuk 3D itu kemudian disatukan dengan kerangka jam. Background yang dipakai adalah kain goni atau bahan lain sesuai keinginan. Peranti jarum jam dan angka lantas dipasang di salah satu sisinya. Setelah terlihat rapi, jam dipigura. ‘’Jam bisa dikreasikan tema alam, hewan, atau bunga. Pembuatannya tidak terlalu sulit,’’ ujar warga Jalan Glatik, Nambangan kidul, Manguharjo, Kota Madiun, itu.
Tiga bulan berjalan Tika menekuni kerajinan jam batik tiga dimensi –yang dalam istilah seni rupa disebut trimatra. Sejak dimulai Oktober lalu, 16 karya dihasilkan. Tujuh di antaranya dijual dengan harga variatif. Antara lain, 30x40 sentimeter Rp 400 ribu dan Rp 150 ribu untuk ukuran 30x25 sentimeter tanpa peranti jam. ‘’Yang bikin mahal adalah piguranya,’’ tutur ibu tiga anak itu.
Belakangan pesanan datang dari luar daerah. Jam batik 3D bisa dijadikan cenderamata, mahar, atau hiasan dinding. Beberapa waktu lalu, produk buatan Tika ambil bagian ekspo virtual yang digelar Bank Indonesia Kediri. Pameran itu upaya memasarkan produk para crafter yang sepi order akibat pandemi Covid-19. ‘’Ada lima karya yang ambil bagian ekspo,’’ ungkapnya.
Tika menangkap peluang dari kain perca sisa jahitan temannya. Limbah itu coba dikreasikan menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat. ‘’Awalnya dibuat celemek, lalu mulai mencoba jam batik Oktober lalu. Pokoknya buat saja, tidak memikirkan laku nggak lakunya,’’ ucapnya. ***(cor/c1/JPG) Editor : Administrator