Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Gunung Cycloop Bukan Tempat Rekreasi

Administrator • Senin, 7 Desember 2020 - 23:30 WIB
Marcel Mauri dari Rumah Bakau Jayapura menaiki tebing batu untuk mencari sampah di Gunung Cycloop, Sabtu (5/12). Dari kegiatan ini berhasil dikumpulkan 39 Kg sampah plastik. (Foto:Gamel Cepos)
Marcel Mauri dari Rumah Bakau Jayapura menaiki tebing batu untuk mencari sampah di Gunung Cycloop, Sabtu (5/12). Dari kegiatan ini berhasil dikumpulkan 39 Kg sampah plastik. (Foto:Gamel Cepos)


Temukan 39 Kg Sampah Plastik di Sepanjang Tracking Air Terjun

SENTANI–Keberadaan Gunung Cycloop hingga kini hanya sebagian kecil yang memahami tentang status dan fungsinya. Gunung Cycloop sejatinya bukan tempat untuk dikunjungi, apalagi dipakai untuk rekreasi. Pasalnya dengan status cagar dan yang memiliki fungsi hidrologis sebagai tempat menyimpan air dan mengatur beredarnya air tanah, menjaga kelembaban udara, termasuk memastikan kelengkapan keanekaragaman hayati.
Hanya saja hingga kini tak bisa dipungkiri jika Cycloop masih dikunjungi warga termasuk adanya aktifitas perambahan dalam bentuk kebun milik warga.
Ini juga dibuktikan dengan ditemukannya 39 Kg sampah plastik disepanjang jalur tracking menuju intake PDAM Cycloop. “Kami coba sambangi lokasi ini untuk membantu mengedukasi bahwa Gunung Cycloop memiliki peran penting untuk masyarakat di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Ada air dan keanekaragaman hayati yang harus dijaga,” kata Marcel Mauri, salah satu penggiat lingkungan dari Rumah Bakau Jayapura, Sabtu (5/12).
Dikatakan, jika ingin naik ke gunung ini maka harus mengantongi Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi (Simaksi) dan tujuannyapun harus jelas yakni tak lepas dari penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. “Tapi dengan adanya sampah plastik yang kami temukan paling tidak ini menunjukkan bahwa adanya aktifitas manusia di kawasan ini,” beber Marcel. Dari sampah yang diperoleh dikatakan kebanyakan sampah sekitar tahun 2000 ke atas. “Selain itu kami juga meminta teman – teman BBKSDA untuk menjelaskan soal Cycloop dan persoalannya sehingga ada diskusi dan edukasi khususnya bagi mahasiswa yang ikut,” tambahnya.
Sementara Adrian dari BBKSDA yang ikut mendampingi menyampaikan bahwa untuk menahan laju bentuk aktifitas perkebunan di Cycloop pihaknya melakukan tanda tangan perjanjian kerjasama (PKS) dengan warga di sekitar kaki Gunung Cycloop. “Kami coba menahan laju aktifitas ke atas (Cycloop) dan memberikan bantuan seperti tanaman organik termasuk ternak sapi agar konsentrasi kegiatan tidak lagi ke Cycloop,” singkatnya. (ade/tho) Editor : Administrator