CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Dingin itu tidak sekadar menusuk kulit; ia merayap masuk ke dalam tulang, seolah mencoba menguji seberapa besar nyali yang dibawa manusia ke rumah para dewa.
Pada Senin, 23 Maret 2026 di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (MDPL), di mana oksigen menipis dan kabut kerap menelan pandangan, Venus Beanal berdiri tegak.
Bagi dunia, tempat itu adalah Puncak Cartenzs, salah satu dari tujuh puncak tertinggi dunia (Seven Summits).
Namun bagi Venus, pemuda asli suku Amungme, itu adalah Nemangkawi—puncak suci yang selama berabad-abad hanya ia pandangi dari balik jendela rumah di kaki gunung.
Malam itu, Selasa 24 Maret 2026, binar mata Venus masih menyimpan pantulan cahaya salju abadi. Ia baru saja turun, bukan sebagai penonton yang mengagumi gunungnya dari jauh, melainkan sebagai sang penakluk yang membawa misi mulia: memandu pendaki mancanegara menuju atap Indonesia.
Perjalanan Venus bukan dimulai dari basecamp, melainkan dari sebuah pertanyaan yang mengusik batinnya selama bertahun-tahun. "Kenapa orang lain bisa, sementara saya yang lahir di sini tidak?"
Pertanyaan itu menjadi bahan bakar saat ia bergabung dalam ekspedisi yang dikawal oleh PT Tropis Cartenz Jaya.
Meski tumbuh di lingkungan pegunungan, teknik pendakian profesional—dengan tali-temali, karabiner, dan prosedur keselamatan ketat—adalah bahasa baru baginya.
"Jujur, awalnya saya buta soal pendakian teknis," saya Venus dengan nada bicara yang mantap, tanpa kesan minder. "Tapi saya punya prinsip: saya putra daerah, saya harus bisa. Masa kita hanya jadi penonton di tanah sendiri?"
Di bawah bimbingan pemandu senior, Venus memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat dari sekadar tas keril di punggungnya. Ia memikul nyawa para tamu asing dan, yang terpenting, ia memikul harga diri sukunya.
Setiap langkah di jalur vertikal yang ekstrem itu adalah pembuktian bahwa pemuda Amungme bukan sekadar pemilik lahan, melainkan ahli di medannya sendiri—meski bagi Venus, aktivitas ini baru pertama kali ia tekuni.
Keberhasilan Venus tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak gunung es dari sebuah gerakan besar yang digerakkan oleh sosok seperti Betho Beanal, pendiri Treking Beanal Mountain Nemangkawi Ningok.
Bagi Betho, melibatkan pemuda lokal dalam industri pariwisata pegunungan adalah soal kedaulatan.
Selama puluhan tahun, industri ini didominasi oleh wajah-wajah dari luar Papua. Kini, melalui wadah Asosiasi Amungme Mountainering Papua (AAMP) di bawah bendera Treking Beanal Mountain Nemangkawi Ningok, mereka mulai merebut kembali peran itu.
"Kami tidak mau lagi hanya menjadi penonton," tegas Betho. "Anak-anak asli daerah sekarang mulai bangkit. Kami membekali mereka dengan standar internasional—mulai dari teknik safety hingga etika pelayanan tamu."
Dukungan dari PT Tropis Cartenzs Jaya menjadi jembatan krusial. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga mengorbitkan Sumber Daya Manusia (SDM) Amungme agar memiliki daya saing global. Hasilnya? Seorang Venus Beanal yang kini mampu berdiri sejajar dengan para pemandu profesional dunia.
Ia mengikuti Jejak Betho Beanal dan Simon Beanal yang sebelumnya telah lebih dulu memijakkan kaki di Puncak Nemangkawi pada 2025 lalu.
Meski puncak telah dicapai, perjuangan belum usai. Betho dan rekan-rekannya tahu bahwa semangat saja bisa patah jika tidak dipayungi oleh legalitas. Mereka kini mengetuk pintu para pemangku kebijakan.
Mereka butuh sertifikasi formal, pengakuan hitam di atas putih bahwa pemuda Amungme adalah pemandu profesional yang diakui secara hukum.
"Mari bergabung," ajak Betho kepada pemuda Mimika lainnya. "Kita harus tahu bagaimana cara memimpin, membawa tamu, dan mengajar orang lain. Kita harus jadi tuan di atas tanah sendiri."
Kisah Venus Beanal adalah sebuah anomali yang indah. Ia membuktikan bahwa Puncak Cartenzs yang dingin dan terjal itu sesungguhnya merindukan sentuhan anak-anak aslinya.
Saat Venus memijakkan kaki di puncak tertinggi itu, ia tidak hanya sedang berdiri di atas batu; ia sedang berdiri di atas ketakutan masa lalunya, menatap masa depan di mana pemuda Amungme memegang kendali atas takdir mereka di atas awan.
Nemangkawi mungkin tetap dingin, namun kini ia terasa lebih hangat bagi mereka yang pulang untuk menjaganya dengan martabat.
(*)
Editor : Lucky Ireeuw