Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Upayakan Kedamaian, Kepala Suku Besar Mee Dorong Penyelesaian Adat Terkait Tapal Batas di Kapiraya

Wahyu Welerubun • 2026-03-23 10:28:26

 

Kepala Suku Besar Mee Papua Tengah, Melkias Moyapa, saat menyapa warga dalam kunjungan kasih di Kapiraya, Kamis (19/3/2026). (Ceposonline.com/ Istimewa).
Kepala Suku Besar Mee Papua Tengah, Melkias Moyapa, saat menyapa warga dalam kunjungan kasih di Kapiraya, Kamis (19/3/2026). (Ceposonline.com/ Istimewa).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA – Kepala Suku Besar Mee Papua Tengah, Melkias Moyapa, mengajak Pemerintah Provinsi Papua Tengah beserta Pemerintah Kabupaten Mimika, Deiyai, dan Dogiyai untuk bersinergi mempercepat penyelesaian persoalan tapal batas antara Suku Mee dan Suku Kamoro di wilayah Kapiraya.

 

Melkias memandang bahwa proses penyelesaian yang berlarut-larut berpotensi memunculkan opini liar di tengah masyarakat. Ia menegaskan, setelah turun langsung dan berdialog dengan warga, persoalan di Kapiraya murni merupakan urusan adat mengenai batas wilayah, bukan komoditas politik pihak tertentu.

 

"Selama ini ada anggapan bahwa persoalan di Kapiraya ditunggangi kepentingan politik. Saya tegaskan itu tidak benar. Ini adalah murni persoalan adat yang harus kita selesaikan dengan hati yang dingin," ujar Melkias melalui sambungan telepon, Senin (23/3/2026).

 

Sebagai pemimpin adat, Melkias menyampaikan pernyataan sikap demi mengembalikan harmoni antara kedua suku. Ia memahami bahwa bagi Suku Mee, batas tanah adalah hal prinsipil yang menyangkut harkat dan nilai budaya. Oleh karena itu, pendekatan kekeluargaan dan kearifan lokal menjadi kunci utama.

 

Dalam pertemuan yang sebelumnya dilaksanakan di Hotel Grand Tembaga, Timika, Melkias telah mengusulkan agar pemerintah berperan sebagai fasilitator dan mediator. Ia merumuskan tiga poin krusial untuk memulihkan keadaan:

 

Yang pertama mengenai kepastian hukum. Melkias mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas tindakan kriminal yang terjadi agar keadilan tetap tegak.

 

Kedua mengenai pemulihan kemanusiaan. Dalam kesempatan itu Melkias memohon kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk membangun kembali rumah warga yang terbakar sebagai bentuk pemulihan hak dasar masyarakat.

 

Dan yang ketiga adalah mandat lembaga adat. Melkias mendorong agar proses penyelesaian tapal batas diserahkan kepada para Kepala Suku, tokoh agama, dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) melalui musyawarah untuk mufakat.

 

“Kita tidak ingin lagi ada pertikaian yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran Tuhan. Sudah saatnya kita duduk bersama sebagai saudara," ungkapnya. 

 

Melkias juga memberikan pesan khusus kepada saudara-saudaranya dari Suku Kamoro. Ia berharap para tokoh masyarakat dan lembaga adat Suku Kamoro memiliki kesiapan yang sama untuk berdialog secara adat.

 

"Mari kita selesaikan ini dengan cara yang bermartabat, agar anak cucu kita di Kapiraya dapat hidup berdampingan dengan damai dan tenang di masa depan," pungkasnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
#Papua Tengah #kepala suku #mimika #Ceposonlline.com #MEE