CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Kondisi konflik timur tengah membuat lonjakan harga minyak dunia tak bisa dihindari. Kondisi ini membuat harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami peningkatan di sejumlah negara.
Dilansir dari Jawapos.Com, Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono mengatakan, dampak krisis energi ini juga tak bisa dihindari oleh Indonesia. Kenaikan harga BBM menjadi hal yang wajar sebagai langkah rasional untuk menjaga stabilitas fiskal dan menghindari tekanan lebih dalam terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tanpa kenaikan harga, maka beban subsidi akan melonjak, dan berisiko memperlebar defisit APBN melewati batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp 10,3 triliun. Selain itu, defisit APBN juga dapat melebar sekitar Rp 6,8 triliun untuk setiap kenaikan tersebut.
Dengan asumsi harga minyak berada di kisaran 85–92 dolar AS per barel, Hendry memperkirakan kenaikan harga Pertalite berada pada rentang 5–10 persen atau menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.000. Sementara itu, harga solar subsidi diperkirakan naik ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari harga sebelumnya yakni Rp 6.800. Dalam skenario ini, defisit APBN diperkirakan masih berada di ambang batas aman, yakni mendekati 3 persen terhadap PDB.
Namun, jika harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu yang berkepanjangan, maka kenaikan harga BBM berpotensi lebih tinggi. Harga Pertalite dapat naik 15–20 persen menjadi Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter, sedangkan solar naik ke kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.200 per liter. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser