Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Isu Merger Gerindra–NasDem, Pakar Nilai Cermin Kegagalan Suksesi Internal

Yohanes Palen • Kamis, 16 April 2026 - 19:04 WIB
Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli. (CEPOSONLINE.COM/DOK PRIBADI).
Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli. (CEPOSONLINE.COM/DOK PRIBADI).

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Isu kedekatan hingga spekulasi merger antara Partai Gerindra dan Partai NasDem kian menguat di tengah dinamika politik nasional. 

 

Namun di balik wacana tersebut, pakar menilai ada persoalan fundamental yang justru menjadi akar kerentanan internal partai, yakni kegagalan dalam mengelola transisi kepemimpinan.

 

Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli mengatakan, krisis dalam partai politik personalistik umumnya tidak berasal dari faktor eksternal, melainkan dari lemahnya mekanisme suksesi di dalam tubuh partai itu sendiri.

 

Menurutnya, NasDem merupakan contoh klasik dari personalistic party, di mana figur pendiri, Surya Paloh, menjadi pusat kekuatan sekaligus sumber legitimasi utama partai. 

 

“Ia bukan hanya pemimpin formal, tetapi juga simbol, penggerak, dan penentu arah politik partai,”ujarnya.

 

Dalam kerangka party institutionalization, kondisi tersebut menunjukkan bahwa NasDem belum sepenuhnya matang sebagai institusi politik. 

 

Ketergantungan tinggi pada satu figur tanpa sistem regenerasi yang kuat membuat partai rentan terhadap guncangan internal.

 

Nasarudin menjelaskan, persoalan suksesi menjadi titik krusial dalam situasi ini.

 

Namun alih-alih menghadirkan kepastian, proses regenerasi di tubuh NasDem justru menimbulkan tanda tanya besar, tidak hanya di mata publik tetapi juga di kalangan internal kader.

 

Nama Prananda Paloh yang mencuat sebagai calon penerus dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan partai akan sosok pemimpin masa depan yang kuat dan kredibel. 

 

“Ketika masa depan kepemimpinan tidak meyakinkan, maka stabilitas partai ikut terguncang,” jelasnya.

 

Ia menilai, isu akuisisi atau merger yang beredar saat ini bukan semata dinamika eksternal, melainkan refleksi dari melemahnya fondasi internal partai. 

 

Partai yang tidak memiliki kepastian suksesi dinilai lebih mudah dinegosiasikan, baik secara politik maupun ekonomi.

 

Dalam literatur politik dinasti, Nasarudin mengaitkan fenomena ini dengan konsep The Prince Problem, yakni kegagalan pewarisan kekuasaan ketika figur penerus tidak mampu menyamai legitimasi dan kapasitas pendahulunya.

 

“Dalam konteks NasDem, relasi antara Surya Paloh dan Prananda Paloh menunjukkan gejala tersebut,"ujarnya

 

Ia menyebut bahwa, Surya Paloh adalah figur dengan kaliber politik tinggi, memiliki jaringan luas, pengalaman panjang, serta kemampuan komunikasi politik yang kuat. Ia berperan sebagai power broker sekaligus opinion shaper.

 

Namun, tingginya standar kepemimpinan itu justru menjadi tantangan besar dalam proses suksesi. 

 

Prananda dinilai masih memiliki keterbatasan, baik dari sisi political grooming, pengalaman, hingga kemampuan komunikasi politik di ruang publik maupun dalam interaksi dengan elite.

 

“Kritik ini bukan semata soal garis keturunan, tetapi lebih pada kapasitas dan kesiapan memimpin. Jika hal ini tidak segera dibenahi, maka krisis suksesi berpotensi berkembang menjadi krisis kedaulatan partai,” pungkasnya. (*).

Editor : Yohanes Palen
#papua #Ceposonline.com