
Oleh: Yosua Noak Douw
Tokoh Muda Gereja-Gereja Injili di Tanah Papua
Pemerintah Kabupaten Tolikara dan masyarakat setempat, khususnya umat lintas denominasi gereja-gereja Kristen Protestan di wilayah Toli, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu, 14 April 2026 memperingati 69 Tahun Injil Masuk Wilayah Toli pada 14 April 1957, Injil masuk wilayah Toli melalui para hamba Tuhan, misionaris asing dari benua Amerika dan Eropa. Dari tangan para hamba Tuhan, Injil, Kabar Gembira Allah menerangi hati orang asli Papua yang hidup akrab dengan budaya dan adat-istiadat kental.
Perjalanan dan ziarah pewartaan Injil tentulah bukan pekerjaan mudah. Namun, kuasa Tuhan selalu indah adanya. Injil menjadi pemandu iman bagi orang asli Papua memahami arti cinta kasih, persaudaraan, solidaritas di antara orang asli Papua. Karena itu, perjalanan pewartaan Injil hingga menyentuh usia 69 tahun sungguh karya Allah bagi umat-Nya di atas wilayah Toli. Peringatan 69 tahun itu bukan sekadar penanda bertambahnya usia masuknya Injil di Karubaga.
Bagi masyarakat Tolikara, umat lintas denominasi gereja-gereja Protestan khususnya GIDI, tanggal 14 April 2026 menjadi tonggak sejarah baru. Sebuah momentum iman yang untuk pertama kalinya dideklarasikan secara resmi sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Injil Masuk di Karubaga, Wilayah Toli. Puncak peringatan HUT ke-69 Injil Masuk Wilayah Toli tentu tidak dibaca sekadar seremoni tahunan.
Lebih dari itu, dalam pandangan penulis puncak peringatan itu sekaligus menandai perubahan penting dalam cara masyarakat, gereja, dan pemerintah memandang sejarah Injil di Tolikara. Dari yang selama ini hidup sebagai memori kolektif umat, kini Injil mulai memperoleh pengakuan formal dalam ruang publik dan tata pemerintahan daerah.
Agenda Rohani Bersama
Kesepakatan antara Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara untuk menjadikan momentum ini sebagai agenda bersama, bahkan mengarahkannya menjadi hari libur fakultatif melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tolikara, merupakan langkah yang sarat makna. Langkah tersebut bukan sekadar keputusan administratif, melainkan pengakuan bahwa Injil telah menjadi fondasi penting yang membentuk kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Tolikara.
Penetapan HUT Injil Masuk Wilayah Toli tentu bukan sekadar dimaksudkan sebagai awal lahirnya secara kelembagaan. Penetapan ini lebih tepat dipahami sebagai hari peringatan iman umat Tuhan di Wilayah Toli, sebuah momen untuk mengenang karya Tuhan dalam sejarah pelayanan Injil di lembah ini. Artinya, 14 April 2026 adalah momen awal yang baru dalam penataan kesadaran sejarah, bukan penciptaan sejarah baru yang meniadakan perjalanan gereja sebelumnya.
Penetapan HUT Injil Masuk Wilayah Toli ini penting agar dari waktu ke waktu setiap generasi tidak kehilangan ingatan kolektifnya tentang akar makna rohaninya. Sebab gereja yang kuat bukan hanya gereja yang giat melayani, tetapi juga gereja yang tahu dari mana Tuhan memulainya. Dengan adanya hari peringatan itu, umat Tuhan di Wilayah Toli memiliki satu momentum rohani bersama untuk mengenang, mensyukuri, dan meneruskan warisan iman. Sejarah tidak lagi hanya hidup dalam cerita lisan para orang tua, tetapi mulai dirawat sebagai kesadaran kolektif yang diwariskan kepada setiap generasi.
Injil yang Mengubah Peradaban
Sejak pertama kali diberitakan di Karubaga tahun 1957, Injil bekerja dengan cara yang tenang, tetapi nyata. Ia tidak selalu hadir melalui perubahan besar seketika bahkan instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan kesadaran iman dan kesetiaan masyarakat, jemaat. Dari sana, cara hidup masyarakat perlahan berubah. Kesadaran akan pendidikan mulai tumbuh.



