Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Dari Jamu Gendong ke Tanah Suci, Perjuangan Pasutri Boyolali Menabung 14 Tahun Hingga Berangkat Haji

Weny Firmansyah • Jumat, 17 April 2026 - 09:39 WIB
CEKATAN : Hadi, penjual jamu tradisional Boyolali, sedang meracik jamu. (ISTIMEWA)
CEKATAN : Hadi, penjual jamu tradisional Boyolali, sedang meracik jamu. (ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Di balik kesederhanaan hidup dan penghasilan yang tak menentu, tersimpan mimpi besar yang tak pernah padam.

Hal itulah yang dialami Pasangan suami istri penjual jamu tradisional di Boyolali, Hadi Wiyono (63) dan Sutiyah (55), akhirnya bisa mewujudkan impian suci mereka: berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.


Dikutip dari solobalapan.jawapos.com, Tahun 2026 menjadi momen yang tak terlupakan. Setelah penantian panjang selama 14 tahun sejak mendaftar, keduanya dipastikan berangkat menunaikan rukun Islam kelima.


“Syukur, Alhamdulillah. Saya bersyukur banget, nggak ngira bisa seperti ini. Terharu, bahagia,” ujar Sutiyah dengan mata berkaca-kaca di kediamannya di Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Rabu (15/4/2026).

 

Perjalanan mereka menuju Tanah Suci bukanlah hal instan. Niat untuk berhaji mulai muncul pada 2012, usai mereka menikahkan anak pertama. Dengan sisa tabungan Rp50 juta, keduanya memberanikan diri mendaftar.


Namun, waktu tunggu yang diperkirakan 8–10 tahun sempat membuat mereka diliputi kekhawatiran. Biaya pelunasan haji bukanlah angka kecil bagi keluarga dengan penghasilan harian yang tak menentu.

 

Tak menyerah, Hadi mencari cara. Ia membeli sapi kecil, merawatnya hingga besar, lalu menjualnya untuk mendapatkan keuntungan yang kemudian ditabung.


“Saya beli sapi kecil, setelah besar saya jual. Keuntungannya kami tabung. Lalu beli lagi yang kecil, begitu terus,” kenangnya.


Selain dari usaha ternak, tabungan haji juga berasal dari sisa penghasilan mereka sehari-hari. Hadi dan Sutiyah telah berjualan jamu racikan sendiri selama kurang lebih 30 tahun di Pasar Sunggingan.


Usaha tersebut bahkan sudah mereka tekuni sejak awal pernikahan, jauh sebelum anak pertama mereka lahir. Keterampilan meracik jamu didapat Hadi dari sang ibu, yang dahulu juga seorang penjual jamu gendong.

 

“Pendapatan harian tidak pasti. Kadang habis, kadang masih. Tapi kami tetap menyisihkan sedikit demi sedikit untuk tabungan haji,” tutur Hadi.


Kesabaran panjang itu akhirnya terbayar. Setelah 14 tahun menunggu, panggilan haji datang pada 2026. Keduanya tergabung dalam Kloter 56 Kabupaten Boyolali dan dijadwalkan berangkat pada 10 Mei 2026.


Momen ini menjadi titik haru dalam perjalanan hidup mereka. Hadi bahkan tak kuasa menahan air mata saat mengenang masa-masa sulit yang pernah dilalui.


“Saya bersyukur, sejak kecil hidup kami bukan orang yang kecukupan. Nggak ngira sekarang bisa berangkat haji,” ucapnya lirih.

 

Meski keberangkatan semakin dekat, pasangan ini tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka masih setia berjualan jamu di pasar untuk menambah bekal selama di Tanah Suci.


Di tengah kebahagiaan, keduanya juga menjaga kondisi fisik dengan rutin berolahraga agar siap menjalani seluruh rangkaian ibadah haji.


Kisah Hadi dan Sutiyah menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja, selama ada tekad, kesabaran, dan keteguhan hati. Dari racikan jamu sederhana, mereka melangkah menuju panggilan suci ke Tanah Suci. 

Sekadar diketahui, Biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp 87.409.365,45 per jemaah, dengan biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang ditanggung oleh calon jemaah sebesar Rp 54.193.806,58. 
Rincian penggunaan Bipih 2026 adalah Embarkasi Aceh: Rp 45.109.422,00, Embarkasi Medan Rp 46.163.512,00, Embarkasi Batam: Rp 54.125.422,00, Embarkasi Padang: Rp 47.869.922,00, Embarkasi Palembang: Rp 54.206.922,00, Embarkasi Jakarta (Pondok Gede, Cipondoh, Bekasi): Rp 58.542.722,00, Embarkasi Solo: Rp 53.233.422,00, Embarkasi Surabaya: Rp 60.645.422,00, Embarkasi Balikpapan: Rp 55.575.922,00, Embarkasi Banjarmasin, Rp 55.538.922,00, Embarkasi Makassar: Rp 55.893.179,00, dan Embarkasi Lombok: Rp 54.951.822,00. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#TANAH SUCI #haji