CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Aktivitas di kampus Universitas Cendrawasih (Uncen) kembali lumpuh setelah sejumlah mahasiswa melakukan aksi pemalangan di pintu masuk utama kampus di Perumnas lll, Waena, Rabu (24/6/2026).
Aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap kebijakan birokrasi kampus yang dinilai memberatkan, khususnya terkait penerimaan mahasiswa baru.
Pantauan di lokasi menunjukkan gerbang utama kampus ditutup rapat menggunakan palang besi dan kayu, serta dibentangkan sejumlah spanduk berisi tuntutan dan kritik tajam yang ditujukan kepada pihak rektorat.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan mahasiswa adalah dugaan adanya komersialisasi di lingkungan kampus. Sebagaimana terlihat dalam sepanduk putih besar bertuliskan: 'Lembaga Uncen menjalankan lahan bisnis di Uncen melalui mahasiswa baru senilai Rp 400'.
Mahasiswa menilai pihak kampus memanfaatkan momentum penerimaan mahasiswa baru sebagai ladang bisnis, yang dianggap mencederai marwah Uncen sebagai institusi pendidikan tinggi negeri di tanah Papua.
Selain isu komersialisasi, massa aksi juga menyuarakan mandat historis berdirinya Uncen untuk mengangkat harkat dan martabat Orang Asli Papua (OAP). Hal ini terlihat massa membentangkan spanduk-spanduk dengan seruan ideologis dan sosial: 10 November 1962 Uncen hadir untuk Orang Asli Papua, Orang Papua merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.
Melalui pengeras suara, Enes Dapla selaku korlap umum aksi menegaskan bahwa Uncen harus tetap berpihak pada akses pendidikan yang terjangkau dan berkualitas bagi anak-anak Papua, bukan justru mempersulit mereka dengan biaya-biaya tinggi.
"Kami minta Rektor turun! Kami rindu dengan Rektor!" tegas Enes dalam orasinya.
Pernyataan tersebut diteriakkan secara berulang-ulang oleh orator di hadapan massa aksi sebagai bentuk tuntutan agar pimpinan tertinggi Universitas Cendrawasih segera menemui mahasiswa dan membuka ruang dialog langsung di lokasi pemalangan.
Dari pantauan di lokasi puluhan mahasiswa tampak berjaga-jaga di sekitar area gerbang yang dipalang. Beberapa mahasiswa mengenakan almamater kuning khas Uncen dan baju bebas, berkumpul untuk mengawal jalannya aksi.
Akibat pemalangan ini, kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat memasuki kawasan kampus, sehingga mengganggu jalannya aktivitas akademik dan administrasi.
Mahasiswa menegaskan tidak akan membuka palang tersebut hingga ada respons konkret dan ruang dialog yang dibuka langsung oleh Rektor Universitas Cendrawasih guna menyelesaikan persoalan ini.
Sampai berita ini diturunkan, pihak rektorat Universitas Cendrawasih belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan mahasiswa maupun aksi pemalangan tersebut. (*)
Editor : Lucky Ireeuw