Situasi Perdamaian Indonesia Tidak Stabil Jadi Sorotan Pejabat Tahta Suci Vatikan

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Situasi perdamaian di Indonesia saat ini dinilai sedang dalam kondisi tidak stabil. Untuk memperbaiki situasi ini, Pemerintah Indonesia diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang berlandaskan pada asas keadilan sosial dan dialog lintas agama.
Kondisi ini menjadi perhatian serius dari Pastor Markus Solo Kewuta SVD, Staf Dikasteri Dialog Antar Agama Takhta Suci Vatikan, usai menghadiri briefing perilisan Indeks Perdamaian Global 2026 di Kedutaan Australia untuk Takhta Suci Vatikan di Roma, Senin (22/6/2026) sore waktu setempat.
”Saya yakin, saat ini dan ke depannya Indonesia butuh sekali stabilitas sektor kesejahteraan ekonomi dan dialog lintas agama demi terwujudnya perdamaian,” tandas Padre Marco, sapaan akrab satu-satunya pejabat Takhta Suci asal Indonesia ini.
Padre Marco menjelaskan bahwa Institute Economics & Peace (IEP), sebuah organisasi non-governmental (NGO) berbasis di Sydney, Australia, melakukan riset untuk memastikan fluktuasi dan pergerakan situasi perdamaian di negara-negara di dunia, berbasis pada kesejahteraan ekonomi negara-negara tersebut.
Ia menambahkan, ada banyak rumusan yang dipakai di dalam perhitungan untuk menentukan kesejahteraan ekonomi, termasuk kalkulasi Gross National Products (GNP), Gross Domestic Products (GDP), total devisa negara, dan juga mekanisme distribusi sumber daya alam (SDA) dan kekayaan negara untuk kesejahteraan semua warga negara yang disebut keadilan sosial.
”Tentu saja, tingkat perdamaian dunia tidak hanya diukur melalui kesejahteraan ekonomi, tetapi Organisasi IEP ini bekerja di garis ini atas keyakinan seperti yang dianut oleh orang Romawi Kuno: Roti dan Permainan (panem et circenses). Bahwa kehidupan hanya bisa dinikmati dengan sesungguhnya kalau perut sudah kenyang,” ujarnya.
Kalau manusia merasa lapar, tandas Padre Marco, di sana ada gejolak ketidakpuasan dan ada kecenderungan yang tinggi menuju penggunaan kekerasan terhadap pihak di luar dirinya.
”Kesejahteraan ekonomi adalah barometer terhadap tingkat perdamaian sebuah negara. Kurang lebih demikian sintesis briefing dari Prof Steve Killelea, pendiri IEP, dalam pertemuan kemarin sore,” ucap Padre Marco.
Posisi Indonesia
Padre Marco mengungkapkan dalam Indeks Perdamaian Global 2026 yang baru dirilis minggu lalu, Indonesia berada pada peringkat 69, atau kategori zona MEDIUM, artinya situasi perdamaian negara Indonesia tidak stabil. Indonesia berada di bawah Sri Lanka dan Yordania, di atas Jamaika dan Serbia, dan negara-negara lainnya.
Dibandingkan dengan Malaysia, situasi perdamaian Indonesia memprihatinkan. Dalam Indeks perdamaian global dunia 2026 itu, Malaysia berada di peringkat 12, pada kategori zona TINGGI, artinya situasi perdamaian negaranya TINGGI. Tahun 2025 lalu, Malaysia berada pada peringkat 13, pada kategori yang sama, yakni TINGGI.



