Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Punya Banyak Kandungan Nutrisi dan Tinggi Protein 

Administrator • 2020-03-23 15:16:31
Serangga Tonggeret. 
Serangga Tonggeret. 

Serangga Tonggeret, Salah Satu Serangga yang Paling Banyak Diburu oleh Anak-anak Suku Mee


Ada ratusan serangga di Papua, tetapi ada salah satu serangga, yaitu Tonggeret yang menjadi salah serangga yang bisa dimakan dan memiliki nutrisi yang tinggi. Seperti apa serangga tonggeret dan apa saja khasiatnya?


Laporan: Roberth Yewen


Secara umum serangga di Indonesia sangat banyak, bahkan ada ratusan spesies serangga yang ada di berbagai daerah dan pulau di Indonesia. Untuk Papua sendiri serangga banyak sekali di jumpai diberbagai daerah.


Secara umum di Papua serangga banyak dijumpai, setidaknya ada sekitar kurang lebih seratus spesies. Dari spesies serangga yang ada, bisa dikatakan jumlah kumbanglah yang terbanyak. Dari semua itu ada serangga yang dimakan dan memiliki nutrisi yang cukup tinggi.


"Dari ratusan jenis serangga yang ada di Papua, ternyata ada serangga yang enak di makan dan penuh nutrisi, salah salah satunya adalah tonggeret," kata Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada Cenderawasih Pos, Senin (23/3).


Tonggeret atau garengpung adalah sebutan untuk segala jenis serangga anggota subordo Cicadomorpha, ordo Homoptera. Serangga ini dikenal dari banyak anggotanya yang mengeluarkan suara Nuraini dari pepohonan dan berlangsung lama.


Tonggeret mempunyai sepasang mata faset yang letaknya terpisah jau di kepalanya dan biasanya juga memiliki sayap yang tembus pandang. Bentuknya kadang-kadang seperti lalat yang besar, meskipun ada ada tonggeret yang berukuran kecil. Tonggeret hidup di daerah yang beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara serangga lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan akustik luar biasa yang dihasilkan dari alat penghasil suara di bawah sayapnya.


Suroto mengatakan, serangga menjadi makanan favorit di daratan tinggi Papua. Serangga jenis tonggeret paling banyak diburu untuk dijadikan lauk. Misalnya anak-anak suku Mee di Mapia menggunakan ranting pohon yang ujungnya diberi getah perekat untuk menangkap tonggeret.


Suroto yang juga sehari-hari menjadi staf dosen di salah satu kampus di Jayapura ini menyatakan, tonggeret biasanya hidup di pepohonan, dikenal suka mengeluarkan suara Nuraini dan berlangsung lama.


"Tonggeret mudah didapat di pekarangan rumah maupun di kebun serta di hutan, karena suaranya yang khas," ujar Peneliti Arkeolog terbaik Indonesia tahun 2019 ini.


Suroto sendiri telah melakukan penelitian tentang Tonggeret selama 10 hari di Kampung Modio Distrik Mapia Kabupaten Dogiyai pada tahun 2017. Tidak hanya itu, dirinya juga melakukan penelitian di daerah pegunungan lainnya seperti di Lembah Baliem tahun 2019, Mamberamo Raya tahun 2012, dan Mamberamo Tengah (Mamteng) tahun 2013.


Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap Tonggeret teryata memiliki kandungan nutrisi yang tingg, seperti berprotein tinggi, mengandung kalsium, magnesium, potasium, sodium, fosfor, zat besi, zinc, mangan, tembaga, vitamin A, B, B1, B2, B6, C dan E, asam folat hingga berbagai jenis asam lemak.


Suroto menjelaskan, untuk pengelolaan tonggeret sangat mudah. Tonggeret hasil tangkapan bisa dibakar ramai-ramai untuk di makan bersama teman-teman atau dibawa pulang untuk dimasak. Tonggeret yang di bawa pulang biasanya di masak dengan cara di goreng. Tonggeret goreng ini memiliki rasa yang gurih dan lezat.


Badan Pangan Dunia (FAO) PBB berkampanye beberapa tahun lalu untuk “menyarankan” untuk mengkonsumsi serangga sebagai sumber makanan masa depan.


PBB memperkirakan pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai 9.7 miliar dan manusia terancam kelaparan, karena itu FAO menyarankan untuk mengkonsumsi serangga, sebagai salah satu alternatif pangan.


"Serangga juga dianggap sangat efisien untuk dijadikan pangan yang dikatakan lebih ramah lingkungan," jelas pria yang sehari-hari menghabiskan waktu melakukan penelitian mengenai situs-situs peradaban di Papua ini.


Suroto mengatakan, perlu belajar dari Gunungkidul di Yogjakarta yang teryata serangga jenis belalang dapat diolah menjadi oleh-oleh khas, bahkan pada libur lebaran, harganya bisa mencapai Rp 400 ribu per kilogram.


Oleh karena itu, tonggeret di dataran tinggi Papua selama ini hanya dikonsumsi sebagai lauk sehari-hari, sebenarnya bisa diolah menjadi tonggeret goreng dan bisa dijual sebagai oleh-oleh khas dari Papua.  Tonggeret bisa dapat di jual pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX tahun 2020 mendatang dan juga bisa di jual di restoran-restoran yang ada di Papua, terutama yang banyak dikunjungi para turis asing (warga negara asing).  "Tonggeret yang di jual ini harus memiliki kualitas pengolahan serangga yang terbaik," ujar Suroto. (*/wen)

Editor : Administrator