Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Gereja Katolik Kutuk Kematian Gembala Elianus Agimbau di Intan Jaya, Pastor Yance: Jangan Jadikan Pelayan Tuhan Sasaran Konflik

Theresia F. Tekege • Kamis, 2 Juli 2026 | 08:00 WIB
Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni Puncak, Pastor Yance Yogi, Pr (Jubah putih). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni Puncak, Pastor Yance Yogi, Pr (Jubah putih). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni-Puncak yang membawahi administrasi pemerintahan Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak Papua dan Kabupaten Puncak Jaya di Provinsi Papua Tengah mengutuk keras penembakan yang menewaskan Gembala Gereja Kemah Injil  Indonesia (GKII), Elianus Agimbau, di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya.

Peristiwa tersebut dinilai mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan semakin memperburuk situasi keamanan di wilayah yang selama ini dilanda konflik.

Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni-Puncak, Pastor Yance Yogi, Pr, mengatakan Elianus Agimbau merupakan seorang gembala yang selama ini melayani jemaat di Distrik Agisiga.

 Karena itu, ia sangat menyayangkan hilangnya nyawa seorang pelayan Tuhan yang seharusnya dilindungi, bukan menjadi korban konflik.

"Elianus benar-benar seorang Gembala Gereja GKII di wilayah Distrik Agisiga. Kita semua yang dipercaya untuk mendekati masyarakat, baik pemerintah, TNI-Polri dan semua pihak, seharusnya hadir secara humanis. Tidak boleh lagi ada korban jiwa," ujar Pastor Yance saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, tugas para pelayan gereja adalah mendampingi masyarakat, membangun harapan, dan menghadirkan kedamaian, bukan menjadi bagian dari konflik.

"Kami hadir untuk melayani, bukan musuh. Tugas kami mendekati masyarakat, berdialog, memberi penguatan, dan menghadirkan kedamaian di tengah situasi yang sulit," tegasnya.

Pastor Yance juga mempertanyakan tindakan aparat yang dinilai tidak memastikan terlebih dahulu identitas korban sebelum mengambil tindakan.

"Sebenarnya kita sebagai orang-orang yang terlatih, dalam hal ini TNI, kenapa tidak bisa memastikan dan melihat situasi keberadaan gembala dan anaknya dalam suasana konflik? Tetapi justru langsung menembak," katanya.

Atas peristiwa tersebut, Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni-Puncak yang meliputi Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, dan wilayah Ilaga, mengutuk keras pihak yang bertanggung jawab atas kematian Gembala Elianus Alom.

Ia juga mengimbau pihak-pihak yang bertikai, baik TNI-Polri maupun TPN-OPM, agar bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa dan segera menghentikan kekerasan yang terus terjadi di Intan Jaya.

"Oleh karena itu, Pimpinan Gereja mengimbau kepada pihak yang bertikai, dalam hal ini TNI-Polri dan TPN-OPM, segera bertanggung jawab atas kematian Gembala Elianus Alom ini," ujarnya.

Selain mendesak pertanggungjawaban, Pastor Yance meminta agar pelaku diproses sesuai hukum sehingga penyebab kematian Elianus Alom dapat diungkap secara terbuka.

"Kami imbau kepada pelaku agar segera dilakukan proses hukum supaya kematian Gembala Elianus ini benar-benar teruji, terukur, dan kita bisa menilai bersama. Apalagi ini seorang gembala. Gembala saja dimusuhi, pastor saja dimusuhi, ini bahaya," katanya.

Menurut Pastor Yance, kekerasan terhadap pelayan gereja hanya akan mempersempit ruang dialog dan menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap upaya menghadirkan perdamaian di Intan Jaya.

"Sekarang daerah ini mau jadi apa? Intan Jaya ini mau jadi apa? Kita mau dekat dengan siapa? Kita mau bicara dengan siapa? Kita mau diskusi dengan siapa? Kalau kita mau mendekati orang, bukan caranya membunuh. Harus mendekati, memanggil, berkumpul, lalu membicarakan bersama untuk menciptakan kedamaian di Kabupaten Intan Jaya," ujarnya.

Pastor Yance mengaku rentetan kekerasan yang terus terjadi membuat para pemimpin gereja dan masyarakat hidup dalam kecemasan.

Menurutnya, perdamaian tidak akan pernah tercipta apabila korban jiwa terus berjatuhan.

"Dengan pengalaman ini membuat kami, keluarga dan pimpinan gereja, semakin panik karena kita tidak punya kontrol atas peristiwa-peristiwa kematian ini. Nilai apa yang kita kejar hari ini? Kedamaian apa yang mau kita ciptakan di Kabupaten Intan Jaya ini? Sadar dan bertobat," ujarnya.

Ia berharap seluruh pihak yang bertikai dapat menahan diri, menghentikan segala bentuk kekerasan, serta lebih mengedepankan dialog dan penyelesaian melalui jalur hukum. 

“Gereja akan terus hadir mendampingi masyarakat dan menjadi jembatan perdamaian, sehingga tidak ada lagi warga sipil maupun pelayan Tuhan yang menjadi korban dalam konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya,” tutup Yogi. (*)

Editor : Elfira Halifa
#INTAN JAYA #Ceposonline.com