Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Liku-Liku Raymond Sihombing sampai Menjadi Pakar Hukum Antariksa di Rusia

Administrator • Sabtu, 20 Oktober 2018 - 03:30 WIB
KINI MENGAJAR: Raymond Sihombing bersama sejumlah mahasiswa Akademi Hukum Rusia.  RAYMOND SIHOMBING FOR JAWA POS
KINI MENGAJAR: Raymond Sihombing bersama sejumlah mahasiswa Akademi Hukum Rusia. RAYMOND SIHOMBING FOR JAWA POS

Proses Adaptasi Terbantu Keterampilan Menyanyi


Pertemuan dengan sang pencetus hukum luar angkasa meyakinkan Raymond Sihombing untuk menekuni bidang langka itu. Selain menjadi dosen, di Rusia dia juga aktif dalam forum muda yang membahas beasiswa, penerjemahan, sampai syarat nikah.


TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta


PERTEMUAN tak terduga itulah yang akhirnya meyakinkan Raymond Sihombing. Untuk mengambil pilihan tesis. Yang berbuntut menjadikan dirinya pakar dalam bidang yang masih langka di Indonesia: hukum luar angkasa.


’’Saya ketemu Profesor Gennady Petrovich Zhukov saat mencari dosen pembimbing tesis,’’ kenang Raymond dalam wawancara melalui surat elektronik dengan Jawa Pos dua pekan lalu.


Zhukov seorang ilmuwan Rusia yang disebut-sebut sebagai pencetus hukum luar angkasa. Persisnya lewat bukunya, Space Treaty atau Perjanjian Luar Angkasa, yang dirilis pada 1950.


Zhukov pula yang mendorong Raymond untuk menjadi orang Asia pertama yang menulis perihal luar angkasa. Sebab, banyak orang yang menilai Asia tidak patut diperhitungkan dalam persaingan antarnegara di luar angkasa.


Raymond mengiyakan tawaran itu. Sebab, dia menganggap tantangan tersebut mudah-mudah susah. ’’Mudah karena Profesor Zhukov pasti mampu mengajari saya sampai paham dan susah karena harus membuat tulisan ilmiah dalam bahasa Rusia. Sementara saya belum lama belajar (bahasa Rusia),’’ ujar pria bernama lengkap Raymond Jr. Pardamean Sihombing tersebut.


Ayah satu anak itu akhirnya menyelesaikan pendidikan S-2 pada 2011 di People’s Friendship University of Russia atau yang dalam bahasa Rusia disingkat RUDN. Lalu berlanjut menyelesaikan gelar PhD doktoralnya pada 2014 di kampus yang sama sebagai ahli hukum luar angkasa.


Pria 36 tahun itu mengaku tidak tahu ada berapa pakar hukum luar angkasa di Indonesia. Namun, dari pencarian di mesin pencari Google, saat menyelesaikan program doktoralnya empat tahun silam itu, Raymond disebut sebagai pakar hukum luar angkasa pertama Indonesia.


Kelangkaan tersebut mungkin terjadi karena ada anggapan, apa perlunya Indonesia mempelajari hukum untuk keperluan ’’di atas langit sana’’? Padahal, menurut Ridha Aditya Nugraha, kolega Raymond, sesama pakar hukum antariksa, itu sangat perlu.


’’Saat ini kegiatan antariksa yang berhubungan erat dengan Indonesia adalah pengoperasian satelit. Berdasar ketinggian, terdapat empat ruang bagi satelit di ruang angkasa. Geo Stationary Orbit (GSO) adalah yang paling spesial mengingat periode rotasinya sama dengan bumi. Hal ini menjadikan GSO sangat vital bagi negara kepulauan untuk merajut jaringan komunikasinya.’’ Begitu antara lain tulis Ridha yang lulusan Jerman itu dalam artikelnya di hukumonline.com.


Minat Raymond terhadap hukum luar angkasa, yang dipicu, antara lain, oleh kegilaannya kepada segala yang berbau Rusia, sebenarnya muncul sejak lama. Tapi, karena keaktifannya dalam paduan suara selama kuliah S-1 di Universitas Indonesia (UI), minat itu agak terpinggirkan.


’’Skripsi saya, tentang aspek hukum internasional imbal dagang Sukhoi antara Rusia dan Indonesia, dianggap biasa sekali dan kurang menarik oleh Prof Hikmahanto Juwana (pembimbing skripsinya),’’ tutur Raymond yang sekarang tinggal dan mengajar di Rusia.


Hikmahanto lantas menantang Raymond untuk lebih serius menekuni hukum udara dan angkasa. Ketika dihubungi terpisah, Hikmahanto membenarkan telah mendorong Raymond untuk menekuni bidang tersebut.


Alasannya, perkembangan dan bahan yang berkaitan dengan hukum angkasa masih terbatas di Indonesia. ’’Bersekolah S-2 dan S-3 di Rusia adalah pilihan tepat. Mengingat perkembangan manusia luar angkasa di sana sangat pesat,’’ kata Hikmahanto melalui pesan pendek kepada Jawa Pos.


Kebetulan, Raymond memiliki kenalan yang membantunya mendapat beasiswa kuliah di Rusia. ’’Kenalan di Pusat Kebudayaan Rusia di Menteng menyarankan saya mengambil beasiswa lewat lembaganya. Syaratnya lebih mudah,’’ ungkap Raymond.


Ketika itu, persyaratan yang diwajibkan adalah IPK 3,0 bagi lulusan kampus negeri, bebas HIV, lolos tes kesehatan, siap menanggung biaya tiket PP dan biaya hidup per bulan, serta siap belajar bahasa Rusia.


Seluruh syarat itu bisa dipenuhi Raymond. Melalui seleksi internal di Kementerian Pendidikan Rusia, Raymond menempuh S-2 hukum di RUDN.


Pada 2009, setahun setelah belajar bahasa Rusia, Raymond mulai menempuh pendidikan S-2 di Negeri Beruang Merah. Dengan uang saku terbatas, proses adaptasi Raymond tidak berjalan mudah.


Bahkan, semasa belajar bahasa Rusia, dia sempat punya pengalaman yang tiap dikenang selalu memicu tawa. Suatu hari, karena hawa dalam kelas panas, dia membuka jendela.


’’Saya berkata dalam bahasa Rusia, ’Zdes v klasse ya ochen goryachiy,’ yang spontan membuat guru bahasa Rusia, seorang wanita, menjadi memerah tersipu,’’ tuturnya.


Sesaat kemudian, sembari menahan tawa, si guru meminta Raymond tidak lagi mengucapkan kalimat itu. ’’Belakangan saya baru tahu bahwa kalimat ya ochen goryachiy berarti I’m a really hot guy,’’ ungkapnya.


Yang akhirnya banyak membantu proses adaptasinya adalah kemampuannya bernyanyi. Yang terasah dalam paduan suara di UI.


Pada 2010 Raymond memenangi kompetisi vokal antarmahasiswa se-Rusia. Yang laga finalnya disiarkan di radio dan televisi milik pemerintah. Kemenangan itu membawa Raymond tampil dengan diiringi Orkestra Nasional Rusia dalam perayaan hari persatuan seluruh bangsa dan agama di Rusia yang jatuh pada 4 November.


Raymond tampil dua tahun berturut-turut pada 2010 dan 2011 di Georgievsky Hall, Kremlin. ’’Pada 2011, saya nyanyi di depan presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan PM Putin yang saat ini menjadi presiden,’’ ujar Raymond bangga.


Buntutnya, Raymond mendapat beasiswa tambahan untuk bekal doktoralnya. Yakni, beasiswa rektor RUDN dan beasiswa presiden Rusia. Sebab, dia dianggap berpartisipasi memelihara persahabatan dan toleransi antarmahasiswa se-Rusia lewat kegiatan-kegiatan antarkampus.


Djauhari Oratmangun, Dubes Indonesia untuk Rusia periode 2012–2016, mengakui bahwa Raymond adalah sosok populer di Rusia. Tidak hanya di antara WNI di sana, tapi juga di kalangan mahasiswa di Rusia.


Salah satunya karena kemampuannya bernyanyi yang sudah mendapat pengakuan di Rusia. ’’Istrinya, si Yulia (Pavlovna Guseva), pandai nyanyi juga. Kami sering undang mereka nyanyi, baik di KBRI maupun di wisma,’’ ujar Djauhari.


Raymond saat ini memanfaatkan kepakarannya sebagai ahli hukum antariksa sebagai dosen. Dia tercatat sebagai pengajar tidak tetap untuk mata kuliah sejarah hukum internasional dan pengantar hukum luar angkasa di Departemen Hukum Internasional di Akademi Hukum Rusia yang berada di bawah naungan Kementerian Kehakiman. Juga di Institut Perundang-undangan dan Perbandingan Konstitusi Rusia. Dua kampus itu berada di Moskow.


Di mata Hikmahanto, pada saat Indonesia nanti memasuki era komersialisasi ruang angkasa, ahli hukum seperti Raymond menjadi penting. ’’Kalau saat ini, komersialisasi ruang angkasa di Indonesia masih terbatas, seperti kepemilikan satelit, penyewaan transponder, bahkan menjadikan Biak sebagai tempat peluncuran roket pembawa satelit,’’ katanya.


Di luar itu, Raymond punya aktivitas segudang. Di antaranya, menjadi penggiat pertukaran budaya antara generasi muda Indonesia dan Rusia di Moskow. Sejak 2013, Raymond juga berpartisipasi dalam forum-forum kaum muda.


Pertemuan itu membahas konsultasi mengenai syarat-syarat beasiswa, syarat-syarat menikah dengan pria/wanita dari Rusia atau Indonesia, hingga kelompok diskusi bahasa Rusia/Indonesia.


Raymond juga terlibat sebagai penerjemah. Baik untuk kalangan perorangan maupun badan hukum di Rusia maupun di Indonesia.


’’Saat ini ada satu penerbit di Rusia yang mengajukan permintaan penerjemahan literatur klasik Indonesia ke dalam bahasa Rusia. Ini saya artikan berita yang baik bagi kedua negara,’’ katanya. (*/c5/ttg/JPG)

Editor : Administrator