Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Ahli Linguistik Dunia Ingatkan Ancaman Hilangnya Bahasa Daerah di Papua

Theresia F. Tekege • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
 Ahli linguistik dunia dari Australian National University, Dr. Laura Arnold  saat memberikan keterangan kepada pers usai memberikan materi pada seminar Internasional di Kampus USWIM Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
 Ahli linguistik dunia dari Australian National University, Dr. Laura Arnold  saat memberikan keterangan kepada pers usai memberikan materi pada seminar Internasional di Kampus USWIM Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE  — Ahli linguistik dunia dari Australian National University, Dr. Laura Arnold mengingatkan ancaman hilangnya bahasa-bahasa daerah di Papua di tengah arus globalisasi dan menurunnya jumlah penutur bahasa ibu, khususnya di wilayah pesisir Papua.

Hal itu disampaikannya dalam seminar internasional bertema “Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi” di Kampus Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Rabu, (14/5/2026). 


Menurut Laura, Papua merupakan salah satu wilayah dengan tingkat keberagaman bahasa paling tinggi di dunia.

“Di Papua ini ada lebih dari 260 bahasa yang dipakai. Keberagaman itu sangat unik di dunia karena bahasa-bahasa di sini berbeda jauh dengan bahasa-bahasa di tempat lain di dunia,” ujarnya.

Ia mengatakan, kekayaan bahasa di Papua menjadi perhatian para peneliti internasional karena memiliki karakteristik linguistik yang sangat beragam. Namun, di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi, jumlah penutur bahasa daerah terus mengalami penurunan.

“Sekarang ini semakin sedikit orang yang menggunakan bahasa-bahasa daerah tersebut. Menurut perhitungan saya, mungkin sekitar 40 persen bahasa tidak akan lagi digunakan secara aktif dalam 50 tahun ke depan,” kata Laura.

Laura juga menyebut sekitar 70 persen bahasa daerah lainnya berada dalam kondisi terancam punah apabila tidak ada upaya pelestarian yang serius dari masyarakat maupun pemerintah.

“Mungkin masih bisa bertahan sedikit lebih lama, tetapi yang 40 persen itu kondisinya paling berbahaya,” jelasnya.

Menurut Laura, ancaman terhadap bahasa daerah paling banyak terjadi di wilayah pesisir Papua. Sementara di daerah pedalaman, penggunaan bahasa ibu masih cukup kuat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya lihat di wilayah pesisir, bahasa-bahasa daerah mulai berkurang penggunaannya. Sedangkan di daerah pedalaman masih cukup kuat,” ungkap Laura.

Ia pun mengajak generasi muda Papua untuk bangga menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur.

“Saya mau ajak generasi muda untuk bangga dengan bahasa daerah. Pakai bahasa daerah itu keren sekali. Jadi saya ingin anak-anak muda terus menggunakan bahasa daerah,” tutupnya. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
#bahasa daerah #Papua Tengah #Ceposonline.com #NABIRE