Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah

Y
Penulis: Yohanes Palen❯
Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah.
Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah.

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5) pagi.

 

Adapun pelemahan mata uang Garuda ini dipicu sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan dunia, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga tingginya harga minyak mentah internasional.

Advertisement

 

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.45 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,52 persen ke posisi Rp.17.503 per dolar AS.

 

Advertisement

Sebelumnya, rupiah dibuka di level Rp.17.489 per dolar AS atau turun 75 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

 

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga kompak melemah terhadap dolar AS.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Rupiah Hari Ini Ditutup Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Diprediksi Pekan Depan Akan Terus Melemah 

Rupiah Hari Ini Ditutup Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Diprediksi Pekan Depan Akan Terus Melemah 

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Selasa (26/5/2026).

Redam Tekanan Dolar AS, Pemerintah Gelontorkan Rp 2 Triliun Per Hari, Purbaya Pastikan APBN Aman

Redam Tekanan Dolar AS, Pemerintah Gelontorkan Rp 2 Triliun Per Hari, Purbaya Pastikan APBN Aman

 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan mengganggu stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

PDIP Kritik Pernyataan Prabowo Soal Warga Desa Tak Gunakan Dolar

PDIP Kritik Pernyataan Prabowo Soal Warga Desa Tak Gunakan Dolar

Anggota Komisi II DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun melontarkan kritik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam merespons pelema

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer