CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Langkah kaki Lilian Thuram Bradley De Paul Paragaje tak lagi canggung saat menapak di atas rumput hijau Mimika. Remaja kelahiran tahun 2010 itu kini berdiri tegap di podium kelulusan sebagai satu dari 20 siswa kebanggaan Papua Football Academy (PFA), dalam seremini kelulusan yang berlangsung di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, Sabtu (4/7/2026).
Di balik ketenangannya memimpin lini pertahanan, tersimpan narasi panjang tentang pengorbanan anak-anak pesisir dan pegunungan Papua yang bertaruh nasib demi sekulit bundar.
Bagi Thuram, panggilan karibnya, hari kelulusan angkatan kedua ini bukan sekadar seremoni serah terima sertifikat. Ini adalah perayaan atas ketahanan mental dari benturan fisik dan psikologis yang nyaris menghentikan mimpinya.
Beberapa tahun lalu, namanya sama sekali asing di belantika sepak bola usia dini. Ia hanyalah satu dari ribuan anak Papua yang mengantre di lapangan terbuka saat PFA menggelar program pencarian bakat (talent scouting).
"Kami bukan siapa-siapa pada saat pertama kali mengikuti cari bakat. Kami hanya anak-anak Papua yang datang dengan satu hal yang sama, yaitu mimpi. Mimpi untuk bisa bermain sepak bola lebih baik, membanggakan keluarga, dan mencapai level yang lebih tinggi," ujar Thuram mengenang awal perjalanannya.
*Kawah Candradimuka di Mimika*
Masuk ke akademi bentukan PT Freeport Indonesia ini mengubah segalanya secara radikal. Hari pertama di PFA diingat Thuram sebagai titik balik yang intimidatif sekaligus membakar semangat.
Anak-anak yang semula terbiasa bermain tanpa alas kaki dan taktik struktural, tiba-tiba dihadapkan pada jajaran pelatih profesional, jadwal latihan yang ketat, dan tuntutan kedisiplinan tingkat tinggi.
Di Mimika, PFA tidak sekadar menjelma menjadi pusat pelatihan taktik sepak bola. Tempat ini dirancang menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter.
Di luar lapangan, mereka diajari tata krama, manajemen waktu, hingga pentingnya pendidikan formal. Di dalam lapangan, rutinitas fisik menguras tenaga menjadi menu wajib harian.
Thuram mengakui, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Dinamika emosi remaja belasan tahun kerap kali berbenturan dengan aturan akademi.
"Kami menjalani hari demi hari dengan latihan. Ada hari di mana latihan terasa mudah, tetapi ada juga hari di mana kami merasa lelah dan ingin menyerah. Sering kali kami berbuat salah, bahkan sering kepala batu. Namun, di sini kami belajar disiplin dan kerja keras," ujarnya.
*Ujian Terberat: Bergelut dengan Cedera*
Sebagai pemain belakang, posisi Thuram menuntut ketahanan fisik ekstra dan kemampuan membaca permainan yang presisi. Perannya krusial: menjadi benteng terakhir sebelum lawan menyentuh penjaga gawang. Namun, ujian terberatnya justru datang bukan dari penyerang lawan, melainkan dari tubuhnya sendiri ketika cedera parah menghantam di tengah masa keemasan diklat.
Bagi seorang pesepak bola muda, cedera adalah momok psikologis yang destruktif. Thuram terpaksa menepi dari lapangan hijau, menghabiskan waktu berbulan-bulan di ruang perawatan medis, memandang teman-temannya berlatih dari pinggir lapangan. Di sinilah mentalitasnya diuji pada titik nadir.
"Saat itu menjadi momen yang cukup berat. Saya tidak bisa bermain seperti biasanya, harus menjalani pemulihan, dan berjuang untuk kembali," kenang Thuram. Baginya, momen cedera itu mengubah cara pandangnya terhadap profesi pesepak bola. Ia menyadari bahwa kualitas seorang atlet tidak hanya diukur dari performa visual saat memegang bola, melainkan dari ketangguhan mental untuk bangkit dari keterpurukan.
Melalui pendampingan medis yang ketat serta dukungan psikologis dari jajaran pelatih dan rekan setim, Thuram berhasil melewati fase kritis tersebut.
Ia kembali mengenakan sepatu botnya, merebut kembali posisinya di tim utama, dan membuktikan dirinya sebagai pemain yang layak dipercaya oleh rekan-rekannya di lini belakang.
*Membuka Mata Lewat Elite Camp*
Gemblengan lokal di Mimika diperkuat dengan program Elite Camp, sebuah program strategis yang membawa para siswa PFA keluar dari zona nyaman Papua untuk bertanding dengan tim-tim papan atas di luar daerah.
Pengalaman ini diakui Thuram sebagai momentum penting yang membuka cakrawala berpikirnya tentang industri sepak bola modern.
Di luar Papua, mereka menghadapi lawan dengan karakter bermain yang berbeda, intensitas kompetisi yang lebih tinggi, dan atmosfer lapangan yang baru.
"Pengalaman itu membuka mata kami bahwa dunia sepak bola itu sangat luas. Kami belajar bahwa kami harus terus berkembang jika ingin bersaing di level nasional maupun internasional," kata Thuram. Berbagai trofi dan pencapaian kolektif berhasil mereka bawa pulang, namun bagi Thuram, transformasi karakter diri adalah piala yang sesungguhnya.
*Sinergi Korporasi dan Doa dari Suku-Suku Jauh*
Keberhasilan institusi seperti PFA meluluskan angkatan kedua ini tidak lepas dari dukungan finansial dan infrastruktur berkelanjutan dari PT Freeport Indonesia. Investasi sosial ini memberikan akses fasilitas olahraga standar internasional bagi anak-anak asli Papua yang selama ini minim akses pemanduan bakat formal.
Namun di balik sokongan korporasi besar, ada pilar tak kasat mata yang terus menguatkan langkah para siswa: doa dari orang tua mereka di kampung-kampung halaman yang jauh.
Thuram menyuarakan rasa terima kasih mendalam atas pengorbanan keluarga yang secara konsisten mengirimkan dukungan moral maupun materiil, meski dalam keterbatasan ekonomi.
"Kepada orang tua, terima kasih sudah selalu mendoakan kita dari jauh, dan selalu mengusahakan yang terbaik bagi kami," ucapnya dengan nada emosional.
Kini, peluit panjang kelulusan dari PFA telah berbunyi. Masa depan baru yang penuh ketidakpastian sekaligus peluang telah membentang di hadapan Thuram dan rekan-rekannya di PFA Angkatan 2010. Langkah mereka dari tanah Mimika barulah babak awal dari kompetisi sepak bola Indonesia yang sesungguhnya.(*)
Editor : Elfira Halifa