Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BMKG Ungkap Perbedaan El Nino dan Kemarau, Dampaknya Bisa Picu Gagal Panen hingga Karhutla

E
Penulis: Elfira Halifa❯
Ilustrasi. (GEMINI AI)
Ilustrasi. (GEMINI AI)


Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan fenomena El Nino dengan musim kemarau biasa.

Meski sama-sama menyebabkan kondisi kering, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memiliki dampak jauh lebih luas dan berpotensi memicu kekeringan ekstrem, gagal panen, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga kenaikan inflasi.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Advertisement

"Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda," ujar Faisal sebagaimana dilansir dari Tribunnews.com, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, musim kemarau merupakan siklus tahunan yang secara rutin terjadi di Indonesia.

Sementara El Nino adalah anomali iklim global yang dipicu oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur sehingga mengurangi curah hujan secara signifikan di Indonesia.

Advertisement

BMKG mencatat, hasil pemantauan terbaru menunjukkan El Nino tahun 2026 telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan.

Meski demikian, Faisal menegaskan Indonesia tidak akan mengalami musim kemarau sepanjang periode El Nino tersebut.

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal," jelasnya.

BMKG memprediksi dampak paling signifikan akan terjadi pada periode Juli hingga Oktober 2026, ketika puncak El Nino beririsan dengan musim kemarau.

Advertisement
Editor : Elfira Halifa

Artikel Terkait

Kemarau di Merauke Diprediksi Terjadi hingga Desember

Kemarau di Merauke Diprediksi Terjadi hingga Desember

Masyarakat di Kabupaten Merauke dan sebagian wilayah Kabupaten Mappi masih harus menghadapi kondisi kekeringan meteorologis dalam beberapa w

El Nino Berdampak, 2.467 Hektare Lahan Dogiyai Terdampak dan 90.040 Warga Terancam

El Nino Berdampak, 2.467 Hektare Lahan Dogiyai Terdampak dan 90.040 Warga Terancam

Ancaman perubahan iklim ekstrem, khususnya fenomena El Nino, menjadi perhatian terhadap keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan panga

Musim Kemarau Akan Lebih Panjang, Ini Hal yang Perlu Diwaspadai Masyarakat

Musim Kemarau Akan Lebih Panjang, Ini Hal yang Perlu Diwaspadai Masyarakat

Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang berpotensi menguat sehingga menyebabkan curah hujan di seju

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer