Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Mimpi Piala Dunia dari Mimika: 20 Remaja Papua Lulus Akademi Sepak Bola Binaan Freeport Indonesia

Wahyu Welerubun • Minggu, 5 Juli 2026 | 03:10 WIB
Salah satu siswa lulusan PFA angkatan kedua kelahiran tahun 2010 yang sedang menerima sertifikat, penghargaan serta buku tabungan di atas panggung dalam seremoni kelulusan 20 siswa PFA di Ballroom Hotel Horison Diana TImika, Sabtu (4/7/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).
Salah satu siswa lulusan PFA angkatan kedua kelahiran tahun 2010 yang sedang menerima sertifikat, penghargaan serta buku tabungan di atas panggung dalam seremoni kelulusan 20 siswa PFA di Ballroom Hotel Horison Diana TImika, Sabtu (4/7/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Ruang pertemuan Hotel Horison Diana, Timika, dipenuhi suka cita pada Sabtu siang, 4 Juli 2026. 20 remaja laki-laki asal Papua berdiri tegak dengan tatapan lurus ke depan. 


Mereka adalah siswa angkatan kedua Papua Football Academy (PFA) kelahiran tahun 2010 yang baru saja resmi dinyatakan lulus setelah tiga tahun menjalani penempaan disiplin yang ketat.


Di hadapan para orang tua, pejabat pemerintah, dan manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI), para remaja ini dilepas untuk menghadapi fase berikutnya: dunia nyata sepak bola profesional.


Founder PT Garuda Gemah Nusantara, Ratu Tisha Destria, berdiri di mimbar dan langsung memberikan tantangan besar. Ia mengingatkan para lulusan bahwa sepak bola modern dipisahkan oleh detail yang sangat kecil.


"Football is a game of centimeters," kata Ratu Tisha, menggunakan istilah bahasa Inggris untuk menggambarkan betapa krusialnya jarak satu sentimeter di depan gawang atau keterlambatan satu langkah yang bisa memicu posisi offside. "Yang membedakan pemain yang baik dan pemain yang luar biasa hanyalah satu sentimeter itu," tambahnya.


Tisha meminta para siswa mengingat kembali tiga tahun melelahkan yang telah mereka lewati di akademi, mulai dari keharusan pergi ke pusat kebugaran saat tubuh letih, tetap belajar saat bosan, menjaga asupan nutrisi, hingga memilih tidur ketimbang bersenang-senang.


"Pertanyaannya, bisakah kalian lakukan itu untuk 12 tahun ke depan? Saat Piala Dunia 2038, saya ingin melihat Indonesia dan kalian semua bisa berlaga di situ," ujarnya, yang disambut tepuk tangan riuh dari para hadirin.


*Semangat Juang dari Afrika*


Papua Football Academy didirikan pada 31 Agustus 2022 atas arahan langsung Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, yang melihat potensi besar anak-anak Papua saat gelaran PON.


 Didukung penuh oleh PT Freeport Indonesia, PFA kini menjelma menjadi kawah candradimuka sepak bola modern di Indonesia Timur.


Director & Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma, menegaskan bahwa meski Freeport telah mendanai berbagai program sosial, kesehatan, dan olahraga selama tiga dekade, mereka belum pernah membayangkan akan mengelola sebuah akademi sepak bola formal sampai PFA lahir.


Claus menceritakan pengalamannya menonton pertandingan sepak bola dunia pada pagi hari sebelum acara kelulusan. Ia terkesan oleh penampilan tim nasional Cabo Verde, sebuah negara kecil di Afrika dengan penduduk hanya sekitar 500.000 jiwa, yang mampu merepotkan tim besar seperti Argentina melalui semangat juang yang tinggi.


"Apa yang menonjol dari tim Afrika? Fighting spirit-nya luar biasa. Mereka bermain untuk negara dan habis-habisan. Kita tidak boleh menyerah," kata Claus.


Selain semangat bertarung, Claus juga menekankan pentingnya menghormati aturan permainan dan menerima keputusan wasit secara mutlak tanpa protes berlebihan atau tindakan anarkis. "Ketika memilih sebagai pemain bola, kita kawin dengan aturan main bola. Keputusan wasit itu mutlak. Yang sempurna itu main bola di surga, karena Tuhan yang jadi wasitnya," guraunya, memicu tawa dari para tamu undangan.


Claus juga menjamin bahwa seluruh proses seleksi dan kelulusan di PFA berjalan profesional tanpa ada intervensi dari manajemen perusahaan. "Tidak pernah manajemen Freeport ikut menentukan siapa yang dipilih, itu hak mutlak tim pelatih," tegasnya.


*Menatap Dunia*

Sebagai bagian dari kurikulum, para siswa PFA tidak hanya dilatih taktik dan teknik, tetapi juga dibekali kemampuan bahasa Inggris dan penguatan mental. Selama di akademi, mereka terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris bersama guru pendamping agar siap beradaptasi jika kelak berkarier di luar negeri.


Pihak akademi juga rutin mengirimkan talenta terbaik mereka ke luar negeri melalui program PFA Elite Camp. Para siswa angkatan kedua ini tercatat pernah merasakan atmosfer kompetisi dan pelatihan di Jepang, Austria, hingga Australia.


Claus menegaskan, pengalaman internasional ini bertujuan utama untuk menghapus rasa rendah diri yang sering dialami pemain muda daerah.


"Saya ingin mereka melihat bagaimana kompetisi di luar dan memiliki kepercayaan diri yang baik. Ketika berhadapan dengan pemain dari Eropa atau negara maju, saya ingin mereka menatap mata lawan itu. Kita sama. Panggungnya sama. Saya tidak mau lagi melihat anak-anak menunduk di lapangan," tegas Claus.


*Investasi Masa Depan Papua*

Apresiasi tinggi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Mimika. Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dr. Ir. Yohana Paliling, yang hadir mewakili pemerintah daerah, menyebut PFA sebagai bentuk investasi besar bagi masa depan sumber daya manusia di Papua.


"Di lembaga ini, anak-anak kita tidak hanya dibentuk menjadi pemain sepak bola yang terampil, tetapi juga dididik untuk memiliki disiplin, tanggung jawab, dan mental yang kuat," kata Yohana.


Namun, Yohana mengingatkan para lulusan bahwa kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari persaingan yang jauh lebih ketat di tingkat nasional maupun internasional. Ia meminta para siswa untuk tetap rendah hati, menghormati orang tua, dan menjaga integritas ke mana pun mereka melangkah.


*Rekam Jejak Prestasi PFA Angkatan Kedua*

Sejak didirikan, PFA telah membuktikan bahwa manajemen yang profesional mampu mengubah talenta mentah dari bumi Cendrawasih menjadi prestasi nyata. Angkatan pertama (Batch 1) telah meluluskan 24 siswa, sementara angkatan kedua (Batch 2) meluluskan 20 siswa.


Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, siswa angkatan kedua yang baru lulus ini telah mengukir rentetan prestasi impresif di level nasional:
Juara Garuda International Cup U15 2025.

Juara Liga TopSkor U16 Regional Surabaya.

Runner-Up Piala Soeratin U15 Tingkat Nasional 2025.

Ketajaman performa ini membuat tiga siswa—Dolvi Theofilus Salossa, Yance Glen Imbiri, dan Stenly Meyanu—resmi direkrut oleh tim Elite Pro Academy (EPA) Garuda United U18 pada akhir musim kompetisi 2025/2026.


Memasuki Juni 2026, sinyal emas kembali menyala saat enam siswa mendapat panggilan seleksi Timnas U17 untuk proyeksi Piala Asia. Hingga saat ini, empat pemain PFA yakni Dolvi, Yance, Stenly, dan Melki Yatipai masih bertahan dalam proses seleksi ketat di Solo.


Dari lapangan di tanah Timika menuju panggung sepak bola internasional, Papua Football Academy kini terus berjalan memenuhi misinya: tidak sekadar mencetak penendang bola, tetapi membangun karakter manusia Papua yang tangguh dan bermartabat. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#Freeport #mimika