CEPOSONLINE.COM, MIMIKA – Timika Inside Festival of Art (TIFA) di tahun 2025 ini dipastikan akan kembali digelar. Kali ini, event tahunan yang bermuara pada peragaan seni dan budaya ini akan menampilkan berbagai pertunjukan, mulai dari pertunjukan tari, fashion, modelling, dance film dan yang terbaru adalah talingkar cinta.
Ketua Panitia TIFA 2025, Garcelo Ambiop, menyampaikan bahwa TIFA Creative sangat memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Mimika serta seluruh lapisan masyarakat dan juga Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang telah mendukung event kebudyaan tersebut.
Dengan mengusung tema “Tong Satu Tong Kuat, Hidupkan Budaya Jembatan Ekonomi Kreatif”, Celo mengatakan bahwa TIFA 2025 akan menyajikan sesuatu yang berbeda dan tentunya lebih menarik serta unik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kata Celo, event TIFA selalu memberikan terobosan-terobosan baru serta menjadi wadah bagi seniman-seniman lokal, sanggar-sanggar hingga sekolah-sekolah yang ada di Mimika khususnya dan di Papua umumnya untuk menampilkan karya-karya terbaiknya.
“Event TIFA selalu memberikan terobosan-terobosan baru dan dapat memberikan wadah bagi para seniman lokal maupun internasional dimana event TIFA dapat memberikan wadah bagi anak-anak sekolah, sanggar-sanggar, seniman-seniman lokal di dalam Timika untuk mempresentasikan atau merealisasikan dong (Mereka) punya karya-karya untuk mereka tampilkan untuk lebih dikenal lagi dan lebih mendunia dan lebih khususnya juga event TIFA ini dapat memperkenalkan lagi budaya di Kabupaten Mimika dan Papua umumnya,” kata Celo dalam konferensi pers yang digelar di pelataran Sekretariat TIFA, Rabu (14/5/2025) malam.
Ketua Umum Timika Inside Festival of Art (TIFA) Creative, Dina Merani dalam kesempatan tersebut juga menerangkan tentang pertunjukan baru yang dipersembahkan dalam TIFA 2025, yakni Talingkar Cinta. Katanya, Talingkar Cinta merupakan lomba atau pertunjukan anyam rambut khas Papua yang akan membawa kesan yang tidak biasa seperti anyam rambut pada umumnya.
Dina bilang, konsep ini terlahir dari hasil evaluasi jajaran TIFA Creative pasca event TIFA tahun 2024 lalu yang dilaksnakan di lapangan Timika Indah dimana TIFA Creative kemudian mengikuti proses kurasi di Jayapura untuk kuratorial tentang budaya Papua.
Ide tentang anyaman rambut khas orang Papua pun muncul. Sebab menurut Dina, rambut orang Papua sangat istimewa dan tentunya unik. Kesenjangan inilah yang meneguhkan hati Dina Merani dan perwakilan TIFA Creative untuk lebih mencintai rambut orang Papua.
“Di situ dimana mungkin dari kecil kita selalu orang tua suka anyam rambut, ada mau sisir rambut ada sisir (khusus/sisir bambu) yang dipakai, minyak, minyak kelapa, itu semua adalah tradisi orang Papua yang selalu dipakai zaman dulu sampai sekarang,” ujar Dina.
“Saya melihat ini sangat unik dan setelah kegiatan itu selesai ide ini dibawa untuk kita sendiri, karena itu adalah idenya kita, kita masukkanlah ke dalam Timika Insiede Festival of Art ini. Jadi setiap kegiatan yang ada di TIFA ini tidak hanya sekedar oh kita mau ambil kegiatan ini, tapi itu ada observasi lagi, sudah melakukan kurasi seperti yang kita lakukan terhadap teman-teman sanggar atau seniman yang ada di Timika ini,” lanjutnya.
Adapun pertunjukkan dalam TIFA 2025 terdiri dari Bazar dan Pameran Budaya, Karnaval Mimpi, Papua Culture Week Duta TIFA 2025, Papua Plus Size, Family Fashion Show, Talingkar Cinta, Dance Film, dan pertunjukkan ikonik Timika Inside Festival of Art yaitu Tabur Tifa (Panggung Budaya). Event ini akan dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai 24 Mei 2025.
Pendiri TIFA, Alfo Smith mengatakan, dalam tahun ini, TIFA juga menggandeng Dewan Kreasi Nasional Daerah (Dekranasda), Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika melalui beberapa dinas terkait, Pemberdayaan KesejahteraannKeluarga (PKK), PT Freeport Indonesia serta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Dengan semangat antusias dari Panitia TIFA 2025 yang rata-rata terdiri dari para pelajar, saat ini, persiapan menjelang event telah mencapai 80 persen.
Rencananya, Karnaval Mimpi nantinya akan dibuka oleh Pimpinan PT Petrosea dan juga Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika.
“Menariknya karena tahun ini itu kita launching dua lagu ciptaan itu yang memang akan kita pecahkan pada opening ceremony yang akan dinarikan oleh 200 penari, lagu Timika Inside Festival of Art, itu konsepnyan khsus dari tim koneksinya TIFA,” ungkap Alfo Smith.
Sedangkan untuk opening ceremony, TIFA Creative berharap dapat dibuka oleh Gubernur Papua Tengah, Bupati Mimika dan pihak PTFI. Sementara seluruh rangakain kegiatan dipastikan akan ditutup oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha.
Perjalanan TIFA sebagai event seni dan budaya di Mimika memang bisa dikatakan cukup berdampak positif pada pengembangan sumber daya manusia, baik itu para panitianya yang diberikan pengalaman sejak dini untuk mengurus sebuah event besar maupun para pegiat seni dan budaya yang benar-benar diberikan panggung pertunjukan untuk menampilkan karyanya.
Seperti halnya yang dialami Ocean Chelsea Laura Nussi, yang menjadi Duta TIFA 2023. Dia mengaku sangat merasakan manfaat saat mengikuti event TIFA, baik itu dari segi ilmu maupun dalam pengembangan karakternya.
“Saya bangga dan senang bisa mendapatkan pengalaman baru, bisa belajar hal-hal baru. Contohnya seperti belajar tentang dunia modelling dan juga tari-tarian. Karena event ini sangat positif, saya juga ingin mengajak teman-teman yang lain untuk mari kita sama-sama bergabung, belajar, mengembangkan karakter dan pengetahuan kita dalam berkesenian. Event ini juga cuma setahun sekali, jadi saya rasa teman-teman akan rugi jika tidak bergabung,” kata Ocean.
Ocean dan Ketua Umum TIFA Creative dan Timika Inside Festival of Art, Dina Merani serta Juri Utama TIFA 2025, Kerens Waromi turut mengajak seluruh masyarakat Mimika untuk hadir bersama-sama menyaksikan event berstandar internasional tersebut.
Mereka berharap event ini menjadi wadah bagi para seniman menunjukkan karya dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah. (*)
Editor : Gratianus Silas