Tim Ekspedisi Patriot Diajak Bangun Kawasan Transmigrasi Berkelanjutan

Yulius Sulo • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:07 WIB
Tim Ekspedisi Patriot yang merupakan mahasiswa dari  IPB Bogor dan  UGM Yogyakarta saat diterima dan dilepas Pemerintah Kabupaten Merauke untuk berada di Kawasan eks Transmigrasi  selama 4 bulan, Rabu (5/8/2026) 

(CEPOSOLINE.COM/SULO)   
Tim Ekspedisi Patriot yang merupakan mahasiswa dari  IPB Bogor dan  UGM Yogyakarta saat diterima dan dilepas Pemerintah Kabupaten Merauke untuk berada di Kawasan eks Transmigrasi  selama 4 bulan, Rabu (5/8/2026)  (CEPOSOLINE.COM/SULO)   

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Tim Ekspedisi Patriot yang berjumlah 240 orang dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah tiba di Merauke dan diterima serta dilepas oleh Pemerintah Kabupaten Merauke, Rabu (5/8/2026). 

Tim Ekspedisi Patriot tersebut diajak untuk mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi di Kabupaten Merauke, khususnya di wilayah Salor dan Muting.
 
Staf Ahli Bupati Merauke Beni Malik mewakili  Bupati Merauke saat menerima dan melepas tim ekspedisi Patriot tersebut mengatakan Kabupaten Merauke memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta berbagai sumber daya alam lainnya. 

Menurutnya, potensi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang inovatif dan mampu berkolaborasi dengan masyarakat setempat.

"Saya berharap para peserta belajar dari kearifan lokal, menghormati adat dan budaya masyarakat, serta membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh warga. Jika hubungan kita baik dengan Tuhan dan juga sesama, saya yakin seluruh kegiatan akan berjalan dengan aman," ujarnya.

Beni Malik  menegaskan, Program Ekspedisi Patriot tidak hanya diharapkan menjadi kegiatan pengabdian dalam jangka pendek, tetapi mampu melahirkan berbagai gagasan inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, program tersebut harus mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendorong terwujudnya kawasan transmigrasi yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

"Yang paling penting adalah keberlanjutan program. Apa yang sudah dirintis oleh tim sebelumnya diharapkan dapat dilanjutkan dan disinergikan oleh tim yang bertugas tahun ini," katanya.

Ia juga menginstruksikan seluruh perangkat daerah, para kepala distrik, kepala kampung, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan penuh kepada para peserta selama menjalankan tugas di lapangan.

"Saya meminta seluruh kepala distrik, kepala kampung, dan seluruh pihak terkait agar mendampingi para peserta, membangun komunikasi yang baik, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Merauke," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Merauke Keliopas Ndiken menjelaskan  240 mahasiswa peserta Ekspedisi Patriot dari ITB Bogor dan UGM akan berada di Merauke selama 4 bulan  guna menyusun konsep pengembangan kawasan transmigrasi. Mereka akan  dibagi ke dalam dua kawasan transmigrasi prioritas, masing-masing sekitar 120 orang.

Kawasan pertama adalah Kawasan Transmigrasi Muting yang meliputi Distrik Sota, Eligobel, Muting, dan Ulilin. Sementara kawasan kedua adalah Kawasan Transmigrasi Salor yang mencakup Distrik Semangga, Tanah Miring, Kurik, Animha, dan Malind, dengan Distrik Jagebob sebagai wilayah penyangga.
 
Ia mengatakan, program Ekspedisi Patriot merupakan agenda Kementerian Transmigrasi yang telah memasuki tahun kedua. Setelah dilaksanakan pada tahun sebelumnya, tahun ini mahasiswa dari IPB dan UGM kembali diterjunkan ke Merauke.

Selama berada di Merauke, para peserta akan melakukan pengamatan lapangan, menyusun konsep, serta merancang strategi pengembangan kawasan transmigrasi agar dapat menjadi kawasan unggulan di Indonesia.

"Tujuan kehadiran adik-adik ini adalah melihat kondisi di lapangan, merancang konsep, dan memberikan masukan kepada Kementerian Transmigrasi dalam membangun Merauke, baik pembangunan wilayah maupun sumber daya manusianya," katanya.

Ia menegaskan, konsep transmigrasi yang dikembangkan saat ini telah mengalami perubahan. Pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berorientasi pada penempatan penduduk, tetapi juga mengembangkan potensi daerah dengan tetap menghormati dan melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik wilayah.

"Konsep transmigrasi hari ini di Papua, khususnya di Merauke, adalah bagaimana mengembangkan kawasan transmigrasi yang sudah ada tanpa mengesampingkan manusia pemilik negeri ini," jelasnya.

Menurutnya, sejarah transmigrasi di Merauke telah dimulai sejak 1965 di wilayah Kuprik, kemudian berkembang pada era 1980-an hingga 1990-an. Dari total 179 kampung di Kabupaten Merauke, sebanyak 63 kampung merupakan kampung eks transmigrasi, sedangkan 116 kampung lainnya merupakan kampung asli yang dihuni masyarakat adat setempat. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
Merauke ugm Ceposonline.com PAPUA SELATAN