Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Keracunan MBG, Pakar UGM Beri Tipsnya

W
Penulis: Weny Firmansyah❯
Dua orang pegawai merapikan paket menu MBG yang akan diantarkan ke sekolah-sekolah di sekitar lingkungan Sasake, Praya Tengah, Loteng, beberapa waktu lalu. (Dewi/Lombok Post)
Dua orang pegawai merapikan paket menu MBG yang akan diantarkan ke sekolah-sekolah di sekitar lingkungan Sasake, Praya Tengah, Loteng, beberapa waktu lalu. (Dewi/Lombok Post)

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan banyak korban terutama kalangan siswa yang menjadi sasaran dari program tersebut. 


Oleh karena itu aspek keamanan pangan sangat penting. Sayangnya masyarakat awam dan tenaga pendidik belum dibekali pengetahuan cukup mengenai perbedaan alergi dan keracunan makanan. 


Bahkan mampu memberi pertolongan pertama saat mendapatkan siswa yang kena keracunan.

Advertisement

 

Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K).,  yang dikutip dari dalam laman ugm.ac.id
menjelaskan soal  perbedaan antara alergi dan keracunan makanan, agar masyarakat dapat mengambil langkah pertolongan pertama yang tepat ketika gejala muncul.


Menurutnya, alergi makanan dan keracunan makanan memiliki penyebab dan mekanisme yang sangat berbeda. “Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan,” jelasnya,". 

Advertisement


Tri menambahkan, sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berakibat serius jika tidak segera ditangani.


Namun pada kasus keracunan, ia menyebutkan bahwa bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli) memiliki mekanisme yang berbeda dalam menyebabkan keracunan makanan.


Salmonella patogenik dapat bertahan dari asam lambung dan menyerang mukosa usus, memicu peradangan serta luka pada dinding usus.


Sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga (Shiga toxin-producing E. coli / STEC) dapat menyebabkan penyakit tular makanan yang parah. “Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” ungkapnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Wali Kota Rolling 16 Pejabat, Tiga Putri Port Numbay Duduki Jabatan Strategis

Wali Kota Rolling 16 Pejabat, Tiga Putri Port Numbay Duduki Jabatan Strategis

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo kembali melakukan penyegaran birokrasi melalui rolling 16 pejabat untuk mengisi sejumlah posisi Pelaksana T

Pemda Dogiyai Apresiasi Festival Kopi, Petani dan Barista Papua Harus Jadi Pelaku Utama Industri

Pemda Dogiyai Apresiasi Festival Kopi, Petani dan Barista Papua Harus Jadi Pelaku Utama Industri

Pemerintah Kabupaten Dogiyai mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kopi Papua Tengah yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Festiva

HIPMI Dogiyai Promosikan Tiga Produk Kopi Arabika Lokal di Festival Kopi Papua Tengah

HIPMI Dogiyai Promosikan Tiga Produk Kopi Arabika Lokal di Festival Kopi Papua Tengah

Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Dogiyai memanfaatkan Festival Kopi Papua Tengah sebagai ajang

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer