CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Terik matahari di Kota Jayapura dan guyuran hujan yang datang tiba-tiba adalah makanan sehari-hari bagi Mario Muskita. Sejak Juli 2012, pria kelahiran Ambon ini sudah menyusuri aspal ibu kota Provinsi Papua tersebut sebagai kurir motor PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).
Jalanan adalah tempatnya mencari nafkah. Menjadi kurir bukan pekerjaan yang mudah, melainkan sebuah profesi yang menuntut fisik dan mental yang sangat besar.
Namun jauh ke belakang, sebelum berseragam JNE, Mario dulunya merantau ke Jakarta menjadi debt collector namun tak berlangsung lama dan terbang ke Jayapura di tahun 2008 dan bekerja di Multi Grosir.
Pada tahun 2012, ia memantapkan diri bergabung dengan JNE Jayapura. Sejak itu, posisinya berputar dari kurir, dipindahkan ke bagian outbound, ke bagian retur barang hingga akhirnya kembali lagi ke jalanan sebagai kurir.
Berkat loyalitasnya, saat ini Mario dipercaya menjadi leader atau pemimpin bagi 18 kurir JNE Jayapura yang terdiri dari 12 kurir motor dan 6 kurir mobil.
Mario bercerita, menjadi kurir memiliki banyak duka daripada sukanya. Ia kerap menghadapi berbagai risiko di lapangan.
"Banyak dukanya kalau kurir, mulai dari dikejar anjing, hujan, panas. Belum lagi bertemu pelanggan yang karakternya rese," ungkap Mario kepada Cenderawasih Pos (Ceposonline.com) Jumat (12/6/2026).
Ia menuturkan, menjadi seorang kurir tidak hanya mengandalkan kemampuan mengendarai kendaraan, tetapi yang paling utama adalah kekuatan mental. Menghadapi komplain, atau ketidaksabaran pelanggan kerap mereka temui.
"Jadi kurir itu mental harus kuat, karena kita berhadapan langsung dengan pelanggan. Tetapi alhamdulillah, prinsip kami adalah harus tetap melayani masyarakat di Papua ini dengan memakai hati," ujarnya.
Mario juga mengaku ada beban sosial yang kerap kali dirasakan. Profesi kurir sering kali dipandang rendah oleh sebagian masyarakat. Di mata sebagian orang, kurir hanyalah pengantar barang yang berada di lapisan pekerja paling bawah.
"Kita sebagai manusia kan tahu sendiri, posisi kurir itu sering dianggap berada di paling bawah. Kadang tidak dihargai sama orang, dianggap sangat rendah," tuturnya.
Namun, Mario memilih untuk bekerja dengan tekun, melakukan yang terbaik yang ia bisa lakukan setiap harinya.
Dedikasinya sempat terbukti pada tahun 2014, ketika ia terpilih menjadi karyawan terbaik se-Jayapura dan mendapatkan hadiah emas 2 gram serta paket liburan ke Kota Malang.
Pembayaran Tunai Atas Ketekunan Belasan Tahun
Setelah melewati masa kerja yang panjang, melewati masa sulit pandemi Covid-19, ketekunan Mario membuahkan hasil yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
Mario bersama tiga karyawan JNE Jayapura lainnya mendapatkan reward. Mario terpilih untuk mengikuti ibadah umrah ke Tanah Suci pada 2025 lalu.
Sebuah program dari JNE untuk mengapresiasi karyawan yang telah mengabdi lama dengan memberangkatkan mereka beribadah. Agama Islam menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci dan Kristen melakukan wisata rohani ke Israel dan Mesir.
Program tahunan ini diberikan kepada karyawan yang telah mengabdi lebih dari 12 tahun, sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas dan dedikasi mereka.
Di tahun 2025, total ada sekitar 1.600 lebih karyawan JNE dari seluruh Indonesia yang diberangkatkan secara bertahap, termasuk kloter perjalanan ibadah ke Israel bagi karyawan yang beragama Kristen pada bulan April.
Istimewanya, Mario adalah kurir pertama dari JNE Jayapura yang berhasil mendapatkan kesempatan emas ini.
Bagi seorang kurir yang setiap hari berkutat dengan debu jalanan dan penilaian miring sebagian orang, menginjakkan kaki di Arab Saudi terasa seperti sebuah hal yang mustahil.
"Alhamdulillah kemarin Oktober 2025 diberangkatkan sama JNE ke tanah suci Madinah dan Makkah, itu sangat luar biasa. Saya pribadi tidak pernah berpikir atau sempat bermimpi mau ke sana. Apalagi saya kan pekerjaan sehari-hari cuma sebagai kurir," kata Mario dengan nada suara yang bergetar.
Mario bertutur, ketika matanya melihat bangunan Ka'bah secara langsung, pertahanan mental Mario yang biasanya sekuat baja di jalanan akhirnya runtuh. Di depan bangunan suci tersebut, ia bersujud dan menangis.
"Bisa melihat Ka'bah secara langsung itu sangat luar biasa bagi saya pribadi. Sampai detik ini, kalau ditanya apa momen paling berkesan, bagi saya adalah fakta bahwa saya tidak menyangka bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Ya karena itu tadi, orang cuma memandang kita kurir itu sebelah mata, kan? Tapi Allah mengangkat derajat saya. Dengan bekerja di JNE, saya bisa berangkat umroh," tuturnya.
Mario merasa bahwa keringatnya selama belasan tahun mengantar paket di bawah terik dan hujan Kota Jayapura telah dibayar tunai oleh Tuhan melalui manajemen tempatnya bekerja.
"Kesan saat saya sampai bisa sujud di depan Ka'bah itu, masyaallah. Saya tidak bisa berkata-kata. Itu keluar langsung dari hati. Pokoknya semua perasaan campur aduk, saya menangis bangga karena JNE bisa memberangkatkan saya," lanjut Mario.
Sekembalinya dari tanah suci, tidak ada hal lain yang ingin diberikan Mario selain loyalitas yang lebih besar kepada perusahaannya. Pengalaman spiritual tersebut telah mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaan yang ia jalani.
Pekerjaan mengantar paket bukan lagi sekadar urusan mencari uang untuk menyambung hidup, melainkan sebuah amanah yang harus dijaga.
"Alhamdulillah kalau masih dikasih kesempatan rezeki sama Allah, saya masih ingin tetap kerja di JNE. Saya ingin berikan yang terbaik untuk JNE, terutama JNE Jayapura. Kita harus makin maju dan ke depannya cara kerja kita harus makin cepat dan taktis," pungkasnya.
Melihat Langsung Apa yang Tertulis di Alkitab
Masih dari JNE Kantor Cabang Jayapura, Santi Rante Payung juga diberangkatkan ke Israel untuk menjalankan ibadah. Santi menjadi satu dari empat karyawan JNE Jayapura yang mendapat reward tersebut.
Santi merupakan salah satu angkatan pertama JNE Jayapura bersama Mario. Sejak 2012, Santi duduk sebagai Customer Service (CS). Selama 12 tahun penuh, tugas utamanya adalah mendengar keluhan, memberikan solusi, dan melayani masyarakat yang datang dengan berbagai emosi.
Setelah belasan tahun mendedikasikan hidupnya di bagian pelayanan pelanggan, barulah pada tiga bulan terakhir ini Santi mulai berpindah tugas ke bagian Human Capital (HC).
Berkat loyalitasnya, perusahaan JNE memberangkatkannya dalam perjalanan wisata rohani lintas negara pada tahun 2025 lalu.
JNE Kantor Cabang Jayapura mencatat sudah ada empat orang karyawan setempat yang diberangkatkan oleh perusahaan karena masa pengabdian yang telah mencapai 12 tahun.
Dari empat orang tersebut, dua orang salah satunya Mario diberangkatkan untuk ibadah umroh ke tanah suci Makkah dan Madinah, sementara dua orang lainnya termasuk Santi diberangkatkan untuk perjalanan wisata rohani bagi umat Kristen.
Semua biaya perjalanan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh manajemen perusahaan JNE.
Bagi Santi, kesempatan pergi ke tempat-tempat bersejarah di Timur Tengah adalah hal yang sangat sulit dicapai jika hanya mengandalkan kemampuan finansial pribadinya sendiri.
"Iya betul, mungkin jika saya tidak bekerja di JNE, saya tidak akan bisa pergi ke Israel. Tapi puji Tuhan, JNE masih memberikan kami apresiasi seperti ini. Kami betul-betul bersyukur," tuturnya.
Perjalanan rohani itu berlangsung pada bulan April 2025. Selama 12 hari, Santi bersama rombongan dari Indonesia menempuh perjalanan yang melintasi tiga negara sekaligus. Mesir, Israel, dan Yordania.
Rute perjalanan dimulai dari negara Mesir. Di sana, Santi dan rombongan berkesempatan mengunjungi gereja-gereja bersejarah dan mendatangi Gunung Sinai. Setelah dari Mesir, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Israel untuk masuk ke kota Yerusalem.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dan kunjungan di Israel, tujuan terakhir mereka adalah Yordania, sebelum akhirnya terbang kembali ke Indonesia.
Selama hampir dua minggu, Santi menjalani ibadah dan mengunjungi berbagai situs yang selama ini hanya bisa ia baca di dalam Alkitab. Mengalami langsung pengalaman fisik berada di tempat-tempat tersebut memberikan dampak emosional dan spiritual yang sangat mendalam baginya.
"Kami beribadah di sana dan mengunjungi tempat-tempat wisata sejarah. Banyak sekali tempat yang kami datangi. Sejarah-sejarah yang tertulis di Alkitab,” katanya.
Pengalaman spiritual yang didapatkan secara gratis dari tempatnya bekerja ini memunculkan rasa terima kasih dan loyalitas yang sangat besar di dalam diri Santi. Ia menyadari bahwa tidak semua tempat kerja memiliki kebijakan untuk memperhatikan kehidupan spiritual karyawannya dengan biaya yang besar.
"Sangat bersyukur perusahaan JNE mau memberikan kami apresiasi seperti ini. Dan tidak semua perusahaan pasti bisa atau mau melakukan hal seperti itu. Saya sangat bersyukur, makanya sampai sekarang saya betul-betul memiliki keinginan untuk terus bekerja dan mengabdi sampai masa pensiun nanti di JNE," tegas Santi.
Dikutip dari akun Instagram resmi JNE, program ini merupakan perwujudan nilai - nilai yang dijalankan JNE, sesuai dengan amanat pendiri JNE Bapak Alm. H. Soprapto Soeparno bahwa setiap tahunnya JNE memberangkatkan Ksatria & Srikandi JNE untuk dapat melaksanakan ibadah umrah yang diberikan oleh perusahaan. (*).
Editor : Agung Trihandono