Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Mama-mama Jadi Korban Ledakan di Intan Jaya, Gereja Katolik Serukan Perlindungan Masyarakat Sipil di Tengah Konflik Bersenjata

Theresia F. Tekege • Jumat, 19 Juni 2026 | 12:44 WIB
Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya, Yance Yogi, Pr (Baju abu-abu kenakan topi noken rasta) saat ikut mengevakuasi korban ke RSUD Sugapa. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya, Yance Yogi, Pr (Baju abu-abu kenakan topi noken rasta) saat ikut mengevakuasi korban ke RSUD Sugapa. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Insiden yang diduga akibat ledakan bom granat atau roket di sekitar Kampung Danggoa, Kabupaten Intan Jaya, Kamis (18/6/2026), kembali menyoroti keselamatan masyarakat sipil di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah Intan Jaya.


 Dua mama Papua, yakni Mama Aliana Pogau dan Mama Ottopina Wayau, menjadi korban dalam peristiwa tersebut dan saat ini masih menjalani perawatan medis di RSUD Sugapa.


Kedua korban dilaporkan mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda, mulai dari luka ringan hingga luka berat. Setelah kejadian, pihak Gereja, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, bersama masyarakat setempat bergerak cepat mengevakuasi kedua korban dari lokasi kejadian menuju RSUD Sugapa untuk mendapatkan penanganan medis dari tim kesehatan.


Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Gereja Katolik Intan Jaya yang menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban dari kalangan masyarakat sipil.


Pimpinan Gereja Katolik Intan Jaya sekaligus Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Pastor Yance Yogi, Pr, dalam durasi video 7 menit 13 detik yang diterima media ini mengatakan insiden tersebut menjadi pengingat bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik agar mengedepankan keselamatan masyarakat sipil. 


“Kami dari pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni Puncak Jaya mengingatkan semua pihak, terutama TNI/Polri maupun TPNPB, agar tidak mengorbankan masyarakat sipil.


Kejadian yang terjadi di Danggoa sangat memprihatinkan karena yang menjadi korban adalah mama-mama yang tidak terlibat dalam konflik,” ujar Pastor Yance.


Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima, Mama Aliana Pogau saat itu baru saja pulang dari kebun dan sedang membersihkan hasil kebun yang dibawanya ketika insiden terjadi.


“Beliau baru pulang dari kebun dan sedang membersihkan hasil tanamannya, termasuk petatas yang dibawanya. Namun kemudian terjadi ledakan yang diduga berasal dari roket hingga mengakibatkan luka serius. Satu korban lainnya, Mama Ottopina Wayau, juga mengalami luka-luka. Ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan,” katanya.


Pastor Yance menegaskan bahwa apabila yang berhadapan adalah aparat keamanan dan kelompok bersenjata, maka masyarakat sipil tidak boleh menjadi sasaran ataupun korban.


Ia mengajak semua pihak untuk kembali menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas segala kepentingan dan menghentikan tindakan yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat sipil.


“Kita semua adalah manusia ciptaan Tuhan. Tidak ada tujuan apa pun yang dapat membenarkan jatuhnya korban dari kalangan masyarakat sipil. Jangan sampai masyarakat biasa dianggap sebagai musuh.
Mama-mama yang jika menjadi korban ini adalah masyarakat yang sedang menjalankan aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” ujarnya.


Lebih lanjut, Pastor Yance mengingatkan bahwa kekerasan hanya akan meninggalkan penderitaan bagi masyarakat yang hidup di tengah konflik.


“Kematian, pembunuhan, dan kekerasan mungkin terjadi dalam waktu singkat, tetapi luka yang ditinggalkan akan dirasakan dalam waktu yang lama. Karena itu kami mengimbau semua pihak untuk menghentikan tindakan yang dapat mengorbankan masyarakat sipil dan lebih mengedepankan nilai kemanusiaan,” katanya.


Keprihatinan serupa disampaikan Ketua Penanganan Konflik Intan Jaya, Eliaz Mujizau, yang menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyat, terutama masyarakat sipil yang tidak memiliki kemampuan untuk membela diri di tengah situasi konflik.


“Mereka adalah rakyat sipil dan kaum yang tidak bersuara, tetapi justru menjadi korban. Karena itu kami berharap negara hadir untuk melindungi rakyat, bukan membunuh rakyat atau membiarkan rakyat menjadi korban,” kata Eliaz.


Menurutnya, seluruh pihak harus bersama-sama menjaga keamanan dan menciptakan situasi yang damai di Intan Jaya tanpa mengedepankan kekerasan.


“Mari kita rapatkan barisan. Pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat harus bekerja sama menciptakan daerah ini tetap aman. Jangan dengan kekerasan, karena setiap kali kekerasan terjadi, rakyatlah yang menjadi korban di mana-mana,” ujarnya.


Eliaz juga mempertanyakan tanggung jawab perlindungan terhadap masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari tugas aparat keamanan.


“Pertanyaannya sekarang, siapa yang bertugas melindungi rakyat? Bukankah salah satu tugas utama aparat adalah melindungi masyarakat? Mari buktikan itu di Tanah Papua, khususnya di Intan Jaya. Jangan hanya berlaku di luar Papua, tetapi tunjukkan juga kepada masyarakat di sini bahwa mereka benar-benar dilindungi,” tegasnya.


Bagi Eliaz, peristiwa yang terjadi di Danggoa merupakan kejadian yang tidak wajar karena telah mengorbankan perempuan Papua yang tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam konflik yang terjadi.


“Hari ini yang menjadi korban adalah seorang mama Papua yang tidak melakukan apa-apa dan tidak bersalah. Karena itu perlindungan terhadap mama-mama Papua harus menjadi perhatian serius semua pihak. Mereka adalah ibu-ibu yang melahirkan dan membesarkan generasi penerus bagi bangsa dan negara di tanah ini,” tegasnya.


Peristiwa di Danggoa kembali menjadi pengingat bahwa masyarakat sipil, terutama perempuan dan anak-anak, merupakan kelompok yang paling rentan ketika konflik bersenjata terjadi. 


“ Karena itu, berbagai pihak kami berharap untuk mengutamakan keselamatan masyarakat sipil menjadi prioritas utama, sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang di Kabupaten Intan Jaya,” pungkasnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#konflik bersenjata #INTAN JAYA #Ceposonline.com