Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Bincang-bincang dengan Ivan Apendi, Pria Asal Jambi yang Berkeliling Indonesia Pakai Sepeda

Rohana Wenggi • Rabu, 15 April 2026 - 19:25 WIB
Bintang saat ditemui ketika hendak melanjutkan perjalanannya usai beristirahat di Masjid 751 Sentani, Selasa (14/4).
Bintang saat ditemui ketika hendak melanjutkan perjalanannya usai beristirahat di Masjid 751 Sentani, Selasa (14/4).

Kena Begal di APO Jayapura, Ingin Kerja Untuk Cari Uang Tiket 

Ada kalimat 1000 mimpi tidak memiliki arti apa-apa tanpa sebuah tindakan. Itulah yang dilakukan seorang pemuda asal Jambi bernama Ivan Apendi atau biasa dipanggil Bintang. Ia memutuskan keluar dari rumah mencari cerita tentang nusantara. Hampir enam tahun keliling Indonesia dan mirisnya cerita tak mengenakkan justru didapat saat di Jayapura. Cenderawasih Pos menghampirinya. 

Laporan:Yohana_Sentani 

Siang kemarin cuaca di Sentani, Kabupaten Jayapura terbilang panas terik, Cenderawasih Pos mendapat informasi terkait seorang pemuda yang tengah berkeliling Indonesia menggunakan sepeda. Setelah ditelusuri akhirnya berhasil dengan sosok jangkung yang sedang beristirahat di Masjid Al Mukaromah, Sentani. Ia baru dua hari ini tiba di Sentani setelah sebelumnya nginap dan berbagi cerita di Rumah Bakau Jayapura, Pantai Hamadi.

 

Dialah Bintang, pemuda yang melakukan perjalanan jauhnya dari Jambi untuk mengkampanyekan aksi merawat dan menjaga bumi dengan menanam pohon pohon untuk Indonesia. Alasan besar yang patut diapresiasikan, upaya menjaga alam dengan mengkampanyekan 1.000 pohon untuk Indonesia. 

 

Iapun memiliki tekad mendatangi semua provinsi di Indonesia sebelum kembali pulang ke tanah kelahirannya. Ia juga selalu menyempatkan diri untuk menanam pohon disemua daerah yang disinggahi. Menitipkan cerita bersambung untuk anak cucu kelak bahwa kebaikan tak selalu harus dilakukan dengan memberi uang tapi bisa juga dengan bibit pohon yang tumbuh besar untuk generasi akan datang.

 

Bintang sendiri sosok pemuda asal Jambi yang lahir tahun 1996. Dari tekadnya ini ia kini bisa dibilang hidup di atas dua roda, menyusuri panjangnya Indonesia. Iapun mulai menceritakan awal cerita perjalanannya ini. Dimulai pada Desember tahun 2020 ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan memulai petualangan. 

 

Tapi ini bukan sekadar petualangan karena membawa misi kegalauan dihati. Sebuah panggilan dari dalam dirinya. Ia gelisah melihat perubahan di kampung halamannya, lingkungan yang dulu hijau dan asri, perlahan rusak dan kehilangan keseimbangan. Konsesi perkebunan sawit dan juga tambang emas merusak semua hutan hijau. Udara kampung yang masih segar terawat kini penuh bau asap dan kerja mesin.

 

Dari keresahan itu, lahirlah sebuah tekad besar, berkeliling Indonesia sambil mengkampanyekan gerakan menanam 1.000 pohon. Dengan sepeda sederhana, Bintang membawa seluruh kehidupannya di atas cariernya, tenda, peralatan masak, pakaian, hingga perlengkapan perjalanan pendakian. Sepeda itu bukan hanya alat transportasi, tetapi juga sahabat setianya dalam menaklukkan jarak.

 

Satu per satu provinsi ia lewati. Kini, ia telah menjejakkan kaki di provinsi ke-27 Papua. Perjalanan panjang itu membawanya melewati Sorong, Manokwari, Biak, hingga Nabire, sebelum akhirnya tiba di Jayapura. Setiap tempat meninggalkan cerita, tetapi Papua memberinya kesan yang berbeda. Ia mengaku mengalami “culture shock” bukan karena perbedaan yang menakutkan, tetapi karena keramahan yang begitu tulus.

 

“Orangnya ramah, peduli, dan antusias, berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya,” kata Bintang sambil tersenyum. Di setiap daerah yang ia singgahi, Bintang tidak berjalan sendiri. Ia mencari komunitas lingkungan, mahasiswa pecinta alam, atau masyarakat setempat untuk berkolaborasi. Untuk bermalam ia lebih memilih mencari rumah kepala kampung atau tidur di masjid atau halaman rumah warga.

 

"Kalau sampai disebuah kampung biasa saya mencari kepala kampungnya lalu minta ijin gelar tenda di depan rumah. Kalau diajak nginap di rumah ya syukur tapi kalau tidak ya saya pakai tenda," ceritanya. Iapun mengkisahkan cerita perjalanan yang dianggap cukup melelahkan yakni dari Sorong menuju Manokwari dimana ia harus mengayuh sepeda selama 9 hari perjalanan. 

 

Bintang sendiri masuk ke Jayapura pada Februari 2026 lalu setelah dari Nabire. Di Nabire ia tinggal selama 5 bulan karena harus bekerja untuk tetap bertahan hidup. Ia tak ingin sekedar dibantu tanpa melakukan sesuatu. Diceritakan di Nabire ia bekerja di Pom Mini, disitu ia digaji bulanan. Setelah keuangan dianggap cukup untuk ongkos kapal iapun meninggalkan Nabire. 

 

Bintang awalnya ingin mencoba jalan darat Trans Papua dari Jayapura menuju Jayawijaya, namun setelah mengetahui kondisi jalan yang cukup berat iapun mengurungkan niatnya. Nah selama bertemu orang di daerah yang didatangi, iapun berbagi cerita tentang pentingnya menjaga alam. "Di kampung, saya biasa menanam pohon produktif agar bisa dimanfaatkan masyarakat. Di pegunungan biasa pohon besar untuk menjaga hutan sedangkan di pesisir jenis mangrove untuk melindungi pantai," sambungnya.

 

Dan selama menanam, dikatakan jumlah bukanlah target utama. Yang terpenting adalah pesan yang ditanam bersama setiap pohon. Dan diakui perjalanan selama di Tanah Papua juga tidak selalu mudah. Ia pernah masuk ke daerah pedalaman seperti Dogiyai di Papua Tengah, menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian. Namun ambisi dan keyakinannya selalu lebih besar daripada rasa takut. “Kalau takut terus, kita tidak akan jalan,” ucapnya tegas.

 

Hanya saja hingga dititik ini, ia sempat menyimpan cerita kurang mengenakkan. Dan parahnya cerita tak mengenakkan sejak tahun 2020 memulai perjalanan hingga 2026 ini justru didapat di Jayapura. Ketika itu ia tengah melakukan survei lokasi untuk penanaman di kawasan APO Bukit Barisan bersama seorang mahasiswa.

 

Nah dalam perjalanan di bukit, ia dihampiri dua pria berbadan kekar menggunakan topeng samping membawa parang. Disitu ia dimintai uang dan barang. "Saya kaget dan panik karena tidak sangka kena begal. Itu teman yang sama saya juga tidak bisa apa-apa sekalipun ia asli Papua. Ia juga ketakutan dan akhirnya HP dan semua uang saya diambil. Yang tersisa hanya botol tumbler," ceritanya.

 

Pasca itu ia mengaku cukup panik karena pastinya tak bisa mengabari orang tuanya. Lalu untuk makan juga ia tak lagi memiliki bekal. Namun untungnya ia diterima untuk tinggal di mabes Mapala di Skyline dan disitulah ia berupaya untuk mencari bantuan. "Alhamdulillah meski lebih susah karena tak ada lagi uang dan HP untuk komunikasi ke orang tua," imbuhnya. 

 

Tak hanya itu, di Jayapura juga barulah ia merasakan namanya sakit Malaria. "Wah ini tidak enak sekali rasanya. Disini (Jayapura) saya kena malaria dan disini juga saya mengenal pil biru itu," selorohnya. Meski begitu ia bertekad akan tetap melanjutkan perjalanan dan kini posisinya berada di Sentani. "Kemarin saya dari Rumah Bakau dan dalam perjalanan ke Sentani ban depan saya bocor di Hawai. Bocor luar dalam jadi saya terpaksa dorong hingga Pasar Lama dan cari masjid untuk beristirahat," sambungnya. 

 

Bintang melanjutkan cerita tentang kerusakan lingkungan dimana perjalanan dari Sumatera hingga Papua, ia melihat sendiri bagaimana kerusakan lingkungan terjadi di banyak tempat. Hutan yang hilang, air yang tercemar, hingga bencana yang datang silih berganti. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa menanam pohon bukan sekadar aksi kecil, tetapi langkah penting untuk menjaga kehidupan.

 

“Pohon itu yang menjaga kita, kalau kita tidak mulai dari sekarang, nanti sudah terlambat.”jelas Bintang lagi. Ia berharap generasi muda, khususnya di Papua, bisa menjaga alam yang masih tersisa. Jangan sampai kerusakan yang terjadi di wilayah lain terulang di tanah ini. Baginya, alam adalah titipan yang harus dirawat bersama. Kini, perjalanan itu masih terus berlanjut. Tidak ada target pasti kapan akan berakhir. Selama masih ada jalan, selama masih ada kesempatan, ia akan terus mengayuh sepedanya.

 

Namun di balik semua itu, ada satu harapan sederhana yang ia simpan yaitu menyelesaikan misinya, lalu pulang. Pulang untuk kembali berkumpul bersama keluarga, setelah menjelajahi negeri dengan satu tujuan menanam harapan, satu pohon. "Doakan semoga tahun ini saya bisa selesaikan semua jadwal perjalanan dan kembali ke Jambi. Rencana terakhir nanti di Kalimantan Barat tapi saat ini masih mencari anggaran untuk naik Hercules," tutupnya. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
#books #features #Ceposonline.com