CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Masih pagi-pagi, sekira pukul 8.45 WIT, Ortenci Bano sudah berada di dapur sederhana di samping rumahnya di bukit atas Tasangjapura, Kota Jayapura, Papua.
Ia menyalakan api dari kayu kering untuk persiapan membakar sagu. Dari pintu depan keluar salah satu pekerja Sabaguma. Di tangannya ada adonan yang sudah disiapkan dari malam.
Dapur produksi sederhana tepat berada di samping kanan rumah. Letaknya terpisah sekira 5 meter dari bangunan rumah utama. Sengaja dipisah agar proses pembakaran tidak mengganggu aktivitas dalam rumah.
Ortenci pun mulai menuangkan adonan ke dalam cetakan. Dimana setiap cetakan berisi 14 wadah. Dan 5 cetakan langsung diisi dan dibakar secara bersamaan.
“Kalo adonan kami sudah siapkan dari malam, seperti sagu, kelapa parut, gula merah, dan garam sedikit. Sehingga saat pagi tinggal bakar saja,” ungkap Ortenci saat membuka pembicaraan.
Wanita pemilik nama lengkap Ortenci Adolina Sanggrang Bano itu merupakan owner dari Sagu Bakar Gula Merah (Sabaguma). Sabaguma merupakan salah satu UMKM binaan Elnusa Petrofin yang menjual kue tradisional khas Jayapura dengan cita rasa yang autentik dan lezat.
Proses pembuatannya menggunakan bahan baku lokal, seperti sagu asli Papua dan gula merah pilihan yang diolah secara tradisional dengan dibakar untuk menjaga cita rasa dan kualitanya.
Ortenci berkisah, Sabaguma ini merupakan sebuah warisan dari orang tuannya yang lebih dulu merintis.
“Usaha ini dimulai dari orang tua, diturunkan ke saya,” ujarnya.
Elnusa Petrofin Berikan Sentuhan
Tahun 2021, Ortenci sepenuhnya melanjutkan usaha dari orang tuanya itu. Ia menggantikan sang mama yang sudah memasuki usai senja.
Sama dengan sang mama, Ortenci tetap menggunakan dapur produksi dari orang tua. Namun peralatan sangat terbatas, alat cetak hanya satu. Sehingga wanita suku Jayapura itu kadang kewalahan menerima pesanan.
Di tahun 2024, usaha Sabaguma mulai melejit ketika Elnusa Petrofin memilih Sabaguma sebagai salah satu UMKM binaan. Mereka memberikan 3 alat cetak baru serta microwave.
“Dulu kami punya alat cetak hanya dua, dan proses itu lama biasanya orang pesan banyak mereka menunggu lama. Sekarang sudah ada 5 alat sehingga lebih cepat dan pendapatan pun meningkat,” ucap wanita jangkung itu.
“Microwave juga sangat menolong, jika ada yang pesan tinggal kita panaskan lagi lewat microwave. Jadi sudah tidak capek lagi untuk panaskan di api,” sambungnya.
Ada yang unik dari Sabaguma, disaat orang berlomba-lomba beralih dari kayu bakar menuju gas dan kompor listrik. Sabaguma justru tetap memilih bertahan dengan kayu bakar.
“Pembakaran kami masih pakai kayu, karena cita rasa dari sagu saya pertahankan karena aroma dari kayu bakar itu autentik, kalau pakai kompor rasanya sudah tidak original. Kalau pake kayu juga teksturnya garing di luar dan garing di dalam,” katanya.
Sabaguma Menambah Pundi-pundi Cuan
Ortenci tidak bisa menampik jika Sabaguma menjadi satu-satunya sumber keuangan orang tuanya. Termasuk membiayai uang sekolah dirinya bersama kedua adik perempuannya hingga lulus SMA.
“Kami semua bisa sekolah berkat jualan sagu bakar, begitu juga dengan adik perempuan kedua jadi polisi dari jual sagu. Dari situ saya punya niat untuk lanjutkan usaha sagu ini,” paparnya.
“Waktu itu mama jualan di sekitar kompleks dan di pasar. Kadang jual pinang dan ada sagu bakar juga di atas meja. Jadi lewat sagu mama biayai kami punya uang sekolah,” sambungnya.
Namun usaha Sabaguma benar-benar bertranspormasi sejak tahun 2021. Ortenci melanjutkan usaha orang tuannya itu dengan melihat peluang pasar.
Kemudian di tahun 2024, melalui pendampingan dan pelatihan usaha, serta bantuan pemodalan, CSR Elnusa Petrofin membantu UMKM Sabaguma meningkatkan kapasitas
produksi, memperluas jaringan pemasaran, sekaligus melestarikan kuliner tradisional khas Jayapura.
Sejak tahun itu, Ortenci mulai giat memasarkan Sabaguma lewat media sosial hingga jualan online lewat aplikasi Shopee.
“Dari luar Papua juga sudah banyak yang pesan. Mereka pesan lewat Shopee. Dan setiap hari selalu ada pesanan,” terangnya.
Sabaguma saat ini mulai kebanjiran order. Ia bahkan kewalahan. Untungnya, bantuan dari Elnusa Petrofin ia bisa mencetak sagu bakar lebih banyak dan cepat.
Omset Sabaguma dalam satu bulan kini sangat menjanjikan, Ortenci bisa meraup keuntungan bersih Rp6-8 juta perbulan.
“Sebelum pakai alat pendapatan tidak begitu banyak, kadang Rp400 - Rp500 ribu saja. Karena itu juga masih pakai alat seadanya dan belum lihat targer pasar juga,” bebernya.
“Tapi setelah ada bantuan alat, sebulan bisa dapat sampai Rp8 juta. Itu sudah dipotong dengan biaya operasional,” tambahnya.
Satu boks dijual Rp35 ribu dengan isi 6 pcs, dan kadang terjual hingga 40 boks dalam sehari baik secara offline maupun online.
“Dari luar Papua banyak beli lewat shopee, mereka ada yang penasaran karena ini makan tradisional yang sudah ada sejak dulu,” jelasnya.
Sabaguma kini sudah mengantongi sertifikat PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) yang merupakan izin edar resmi yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Jayapura. Kemudian untuk sertifikat halalnya sementara dalam tahap kepengurusan.
Ortenci masih memiliki satu harapan, bisa memiliki outlet sendiri.
“Dari Elnusa Petrofin juga sudah bantu bahan bangunan, sementara dibangun pelan-pelan. Tapi saya juga berharap dari pemerintah bisa menyediakan tempat di bandara. Karena ini produk lokal Papua sehingga bisa menjadi oleh-oleh,” tutupnya.
Dikutip lewat tulisan Instagram Elnusa Petrofin Official pada akhir 2025 lalu, menyebutkan jika Elnusa Petrofin berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan UMKM lokal sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. (eri).
Editor : Weny Firmansyah