CEPOSONLINE.COM, BIAK- Tabir misteri perlahan mulai tersibak dari lokasi ledakan dahsyat yang diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II di Biak Numfor.
Di balik pencarian korban hilang dan sterilisasi area, fokus penyelidikan kini mengarah pada sebuah pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya dilakukan para korban sesaat sebelum ledakan maut itu terjadi?
Petunjuk mengenai aktivitas terakhir para korban mulai terkuak lewat deretan barang bukti yang diamankan oleh Tim Reserse Kriminal Polres Biak Numfor bersama tim gabungan.
Di sekitar lokasi kejadian, polisi menyita sejumlah peralatan kerja berat dan perlengkapan selam profesional yang mengindikasikan adanya aktivitas spesifik di area perairan tersebut.
"Tim Reserse yang melaksanakan Olah TKP telah mengamankan tiga buah perahu," ungkap Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, SIK., MH., juga didampingi Kasat Reskrim Polres Biak, Iptu Daniel Rumpaidus, Jumat malam (5/6/2026).
Namun, bukan sekadar perahu biasa yang ditemukan. Di atas perahu-perahu tersebut, petugas menemukan dua unit kompresor udara yang telah dimodifikasi dengan selang yang sangat panjang.
Kompresor pertama dilengkapi selang sepanjang 150 meter, sementara kompresor kedua dibekali selang sepanjang 200 meter lengkap dengan regulatornya.
Dalam dunia aktivitas bahari, modifikasi kompresor dengan selang sepanjang ini biasanya digunakan oleh penyelam tradisional atau pemburu komoditas laut untuk bertahan di kedalaman air dalam waktu yang lama.
“Barang-barang ini adalah milik korban semua. Kami dari tim Reserta Polres Biak yang mengungkap,” ungkap Kasat Reskrim Iptu Daniel Rumpaidus.
Jejak Alat Pemotong di Radius 50 Meter
Teka-teki ini kian tajam setelah Tim Laboratorium Forensik (Labfor) menyisir area dalam radius 50 meter dari pusat ledakan. Petugas menemukan alat-alat pemotong besi yang tidak lazim dibawa oleh nelayan biasa.
"Kami menemukan 21 serpihan diduga logam, satu mata gergaji, satu gagang gergaji besi, dan satu mata gerinda," urai AKBP Ari Trestiawan.
Keberadaan gergaji besi, mata gerinda, hingga bor listrik di sekitar episentrum ledakan memicu spekulasi kuat di tengah masyarakat.
Muncul dugaan bahwa sebelum ledakan terjadi, ada upaya fisik untuk memotong, mengutak-atik, atau mengangkat bom kuno berusia lebih 80 tahun itu yang berukuran besar tersebut dari posisinya.
Praktik "berburu" besi tua dari bangkai perang kuno atau sisa amunisi PD II memang bukan hal baru di beberapa wilayah pesisir Indonesia, mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi di pasar barang rongsokan. Atau mungkin ada aktivitas penangkapan ilegal setelah bubuk mesiu didalamnya diamankan. Tim gabungan masih terus mencari teka-teka ini.
Penelusuran Masih Terus Berlanjut
Selain alat pertukangan, polisi juga mengamankan mesin tempel perahu berdaya besar—tiga unit mesin 15 PK dan satu unit mesin 40 PK—serta peralatan selam lengkap, mulai dari kacamata selam, masker, kantong jaring, sepasang fins (kaki katak), hingga sabuk pemberat pinggang.
Pihak kepolisian menegaskan tidak akan gegabah dalam mengambil kesimpulan akhir. Hingga saat ini, seluruh barang bukti tersebut masih diperiksa secara intensif untuk mengetahui keterkaitan langsung antara alat-alat tersebut dengan pemicu ledakan bom.
"Untuk barang bukti seperti kompresor, kapal, mesin tempel, serta perlengkapan selam dan pemberat, masih akan terus kami telusuri barang-barang ini, kaitan dengan ledakan bom, karena ini memang milik korban," tegas Kapolres.
Apakah insiden ini murni kecelakaan saat nelayan melintas, ataukah ada aktivitas ilegal pembongkaran bom yang berujung petaka? Jawaban atas teka-teki ini kini bergantung pada hasil analisis forensik terhadap serpihan logam dan penelusuran pemilik sah dari tiga perahu misterius tersebut. (*)