Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Ratusan Orang Menyambut Jenazah Thom Beanal Tiba di Timika

Administrator • 2023-06-02 12:00:22
Dua orang disable yang menghuni Yayasan Humaniora Polimak duduk sambil menunggu jemputan untuk diantar ke lokasi tempat berjualan pada Jumat, (1/5)Dampak dari Pandemi Covid 19 membuat aktifitas para disabilitas juga ikut terganggu termasuk yang berkaitan
Dua orang disable yang menghuni Yayasan Humaniora Polimak duduk sambil menunggu jemputan untuk diantar ke lokasi tempat berjualan pada Jumat, (1/5)Dampak dari Pandemi Covid 19 membuat aktifitas para disabilitas juga ikut terganggu termasuk yang berkaitan
Photo
Photo

Thaha Alhamid: Beliau Sosok Pemimpin Papua yang Anti Kekerasan


TIMIKA - Papua secara khusus Kabupaten Mimika, suku besar Amungme dan Kamoro kehilangan salah seorang tokoh besar Papua, Thomas Beanal. Seorang sosok yang juga merupakan pejuang gereja.


Thom Beanal yang lahir di Kampung Tsinga, Distrik Tembagapura pada 11 Agustus 1947  menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapore pada Senin, 29 Mei 2023 Pukul 14.05 waktu setempat.


Jenazah kemudian diterbangkan ke Timika, Kamis (1/6/2023) menggunakan pesawat khusus yang difasilitasi oleh PT Freeport Indonesia. Tiba di Timika sekitar pukul 15.45 WIT disambut oleh Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob, SSos MM bersama jajaran Forkopimda dan manajemen PTFI di hanggar Bandara Mozes Kilangin.


Dari bandara, jenazah langsung dibawa ke Kapel Keuskupan Timika untuk disemayamkan. Tidak hanya para pejabat dan tokoh, masyarakat juga turut mendatangi hanggar Bandara Mozes Kilangin meski tidak diizinkan masuk. Masyarakat kemudian melakukan iring-iringan sampai di gedung Keuskupan Timika.


Ratusan masyarakat juga sudah menunggu di Keuskupan. Begitu jenazah tiba, keluarga dan masyarakat tak kuasa menahan tangis sebagai bentuk duka atas kepergian sosok yang dinilai sebagai pejuang yang membawa perubahan bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.


Sebelum diserahkan kepada gereja, jenazah terlebih dahulu diserahkan manajemen PTFI yang diwakili Kepala Teknik Tambang, Karel Tauran kepada keluarga.


"Kami turut merasakan dukacita mendalam dengan dipanggilnya bapak, orang tua terkasih Bapak Thom Beanal. Atas nama PT Freeport Indonesia kamk serahkan jenazah almarhum bapak Thom Beanal kepada keluarga untuk prosesi selanjutnya," ujar Karel Tauran.


Selanjutnya jenazah diserahkan oleh keluarga yang dilakukan secara simbolis oleh istri serta kedua putranya Flo Beanal dan Odizeus Beanal kepada Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo. Selain dua putra, Thom Beanal juga memiliki seorang putri yakni Lidya Beanal namun telah berpulang terlebih dahulu.


Pastor Marthen Kuayo menyatakan terima kasih kepada keluarga yang telah menyerahkan jenazah kepada gereja untuk disemayamkan di Kapela Keuskupan sebelum dimakamkan. Thom Beanal merupakan orang ketiga yang disemayamkan di Keuskupan, sebelumnya adalah Uskup Mgr Jhon Philip Saklil.


Disemayamkannya Thom Beanal di Kapela Keuskupan Timika sebagai bentuk penghargaan karena almarhum mempersembahkan sebagian hidupnya untuk gereja. Sejak Tahun 1997 sampai pensiun ia menjadi bagian dari tim pastoral yang bertugas di Gereja Katolik Paroki Emanuel Mapurujaya.


Selanjutnya Keuskupan Timika akan memimpin proses persemayaman hingga pemakaman. Jenazah rencananya disemayamkan di Gereja Katedral Tiga Raja Timika sebelum dimakamkan pada Sabtu (3/6) besok.


Sebelum diarak dan dibawa ke Gereja Katedral Tiga Raja atau selama berada di Kapela, Keuskupan membuka kantor dan memberi waktu kepada masyarakat atau keluarga yang hendak memberi penghormatan terakhir.


Sementara itu berpulangnya Ketua Presidium Dewan Papua, Thom  Beanal menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Papua khususnya yang berjuang secara diplomasi untuk kemerdekaan Papua. Almarhum merupakan sosok yang berjuang bersama Theys Eluay  dan beberapa tokoh lainnya. Ia meninggal di Singapura dan jenazah telah tiba di Timika pada Kamis (1/5) kemarin.


Jenazah rencana hari ini (Selasa,2/5) akan dilakukan Misa di Gereja Katedral, Tiga Raja, Timika untuk selanjutnya dimakamkan.  Setelah Theys meninggal pada tahun 2001, nama Thom  Beanal lantas didapuk untuk memimpin dan melanjutkan perjuangan tersebut. Nama lain selain Theys yang masih tersisa saat ini adalah Thaha Alhamid.  Thaha sendiri mengaku ikut kehilangan sosok yang biasa dipanggil Thom  ini.


Tim juga  pernah ke Amerika Serikat untuk meloby kongres AS dan PBB agar sejarah Papua bisa diluruskan dan diadakan referendum untuk menentukan nasib sendiri. Menurut Thaha Alhamid,   almarhum merupakan salah satu pejuang pemimpin Papua yang anti kekerasan dan kepergian beliau meninggalkan duka yang dalam bagi orang Papua. ‘’Tapi yang perlu diingat adalah beliau anti kekerasan, beliau sangat menolak cara berjuang dengan cara kekerasan,’’ kata Thaha saat ditemui di kediaman Ondoafi Warke di Tanah Hitam, Rabu (31/5).


Meski tidak sejalan dengan NKRI namun Thom  Beanal sangat menentang perlawanan yang menggunakan kekerasan. ‘’Tidak penting soal ideologi yang diyakini sebab perjuangannya damai,’’ bebernya. Thaha juga melihat bahwa setelah Thom  mangkat, tak ada lagi sosok yang sama yang tetap menghormati sesama. Tugas dan tanggungjawab Thom  Beanal menurut Thaha sudah selesai dan kini dilanjutkan oleh pejuang muda lainnya.


‘’Kalau mau dibilang siapa saja yang mirip seperti beliau, saya bisa katakan setelah Pak Theys meninggal dan kini Thom Beanal saya pikir belum ada yang bisa seperti beliau. Tapi perjuangan beliau sudah selesai, tugasnya sudah rampung  tinggal dilanjutkan,’’ cerita Thaha. Perjuangan almarhum Thom  Beanal lanjut Thaha tak mau dilakukan dengan cara berdarah  - darah. Ia lebih memilih cara berdialog dan demokratis.


“Dari perjuangan beliau salah satunya nama Papua sudah disahkan kemudian Otsus juga sudah bergulir hingga kini dan meski tujuan utama belum terwujud namun banyak hal yang beliau ajarkan,” tambahnya. “Kijne mengatakan yang dimimpi mungkin tak jadi biarpun tak jadi tapi akan abadi jadi saya pikir perjuangan pak Thom  akan tetap dilanjutkan,” tutup Thaha. (ryu/ade/wen)

Editor : Administrator
#papua ##Timika