Melihat dari Dekat Situs Megalitik Yo No'ong di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura (Bagian 1)
Informasi penemuan situs megalitik kuno di Danau Sentani, ramai diperbincangkan di media sosial belakangan ini. Di mana letak situs tersebut ?
Media sosial dalam beberapa hari terakhir ini, ramai membahas tentang munculnya situs-situs megalitik di perairan Danau Sentani, Kabupaten Jayapura.
Dari informasi yang beredar disebutkan bahwa munculnya situs megalitik ini karena turunnya permukaan air Danau Sentani.
Untuk memastikan hal tersebut, Cenderawasih Pos langsung berkoordinasi dengan Kepala Distrik Waibhu, Dominggus Kawai. Pasalnya, situs megalitik yang ramai dibicarakan ini, berada di wilayah Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura.
Saat ditemui Cenderawasih Pos, Senin (5/10), Kadistrik Dominggus Kawai langsung merespon. Bahkan memfasilitasi Cenderawasih Pos juga difasilitasi untuk mencapai tempat di mana situs-situs megalitik itu berada.
Secara administrasi, situs megalitik ini berada di kampung Kwadewar, Distrik Waibhu. Untuk mencapai situs itu butuh perjalanan sekira 20 menit dari menggunakan sepeda motor dari Sentani ibukota Kabupaten Jayapura ke dermaga Patouw.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan speed boat. Butuh waktu sekira lima menit dari dermaga Patouw untuk mencapai lokasi situs megalitik.
Informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos menyebutkan, waktu yang paling tepat untuk mengamati situs megalitik ini, pada siang hari atau saat hari cerah. Karena sebagian besar situs itu berada di bawah permukaan air Danau Sentani, sehingga lebih mudah mengamati situs tersebut pada siang hari.
Situs megalitik ini tersebar di dua titik yang jaraknya saling berdekatan. Titik pertama berada di bagian timur. Dimana terdapat dua bongkahan batu besar berwarna putih yang berbentuk bulat lonjong.
Kedua batu bulat lonjong ini berada di bawah permukaan air danau dengan kedalaman sekitar 1 meter. Salah satu tampak terlihat agak pendek dan diperkirakan mempunyai panjang lebih dari 1 meter dengan diameter sekitar 40-50 cm.
Kemudian ada satu lagi yang berukuran kurang lebih 3 meter dengan diameter yang sama. Dua buah batu ini dipercaya sebagai simbol perahu dan dayung dari pendahulu Suku Marweri.
Menurut Lukas Marweri, salah seorang pewaris dari situs megalitik ini, dua buah bongkahan batu itu diberi nama "Awake Deng Bere I Pa Bere" yang berarti perahu dan dayung. Dua buah bongkahan batu itu adalah simbol perahu dan dayung yang digunakan leluhur mereka, Marweri untuk menyeberang danau.
Selanjutnya, di bagian Barat dari batu perahu dan dayung itu, terdapat sebuah batu pipih yang tertancap kedalam dasar danau.
Lukas menjelaskan, batu ini memiliki panjang lebih dari 5 meter dan diameter sekira 1,20 meter.
Batu pipih ini diyakini sebagai seorang perempuan yang menjadi ibu dari keturunan suku Marweri.
Berdasarkan kisahnya, konon batu itu dibawa dari wilayah PNG dengan cara diterbangkan oleh burung Pipit, kemudian ditancapkan di Danau Sentani tepatnya Kampung Yo No'ong atau kampung gelap, Kwadeware.
Menurut pengakuan Lukas, Marweri selaku leluhur mereka diberi petunjuk untuk mencari dan menemukan keberadaan batu yang ditancapkan ke dalam danau, yang menjadi simbol seorang wanita.
"Jadi Pace datang dari arah timur kemudian menyeberang dan akhirnya menemukan batu yang tertancap di Danau Sentani. Tepatnya di Kampung Yo No'ong atau kampung gelap. Maka dari situlah leluhur kami membangun dan mendirikan kampung yang akhirnya berkembang pesat sampai hari ini," terangnya.
Batu pipih simbol perempuan itu memiliki nilai mistik yang terkandung di dalamnya. Sehingga namanya pun tidak boleh disebut sembaragan.
"Jadi kesempatan seperti ini saya tidak bisa bicara (sebut nama). Karena ada yang berwenang. Kalau mereka hadir saya bisa berbicara," jelasnya.
Dari pengamatan Cenderawasih Pos, di bawah kaki batu pipih tersebut terdapat banyak batu yang ukurannya lebih kecil yang diletakkan seperti berbaris.
Menurut Lukas, batu-batu itu merupakan simbol dari anak-anak atau keturunan suku Marweri.
Dia juga meluruskan informasi yang menyebutkan jika batu-batu megalitik ini muncul ke permukaan setelah debit air danau berkurang. Padahal berdasarkan keyakinan mereka, batu-batu tersebut mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti layaknya manusia. Sehingga suatu waktu dapat dilihat bahkan muncul kepermukaan.
Bahkan menurutnya, batu-batu yang menjadi simbol anak-anak yang ada di bawah permukaan danau juga mengalami penambahan (beranak) pada waktu tertentu.
Sementara itu, Kepala Distrik Waibu, Dominggus Kawai mengaku, terlepas dari cerita di balik keberadaan batu-batu itu, daerah tersebut sebenarnya mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi daerah pariwisata.
Hal ini juga didukung dengan kondisi alam yang ada di sekitar tempat itu. Hanya saja manajemen pengelolaannya memang membutuhkan campur tangan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pariwisata sehingga kehadiran potensi tersebut bisa memberikan dampak secara ekonomi bagi masyarakat setempat.
"Ini potensi-potensi yang sesungguhnya bisa dikembangkan untuk sektor pariwisata di Kabupaten Jayapura. Selain memberikan PAD bagi Kabupaten ini tetapi juga yang paling penting masyarakatnya dapat diberdayakan secara ekonomi. Semoga ini menjadi jalan untuk perubahan bagi masyarakat yang ada di sini," tambahnya. (bersambung)
Editor : Administrator