CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Fenomena hujan salju kembali turun di area Tambang Grasberg PT Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, Senin (26/1/2026).
Pada Senin pagi, masyarakat Mimika dihebohkan dengan video yang beredar memperlihatkan suasana sebagian besar area tambang Grasberg yang ditutupi salju.
Bahkan, area yang ditutupi salju ini dapat dilihat dengan jelas dari beberapa titik di dalam Kota Timika pada Senin pagi di mana area Grasberg yang tampak dipenuhi salju.
Sebelumnya, fenomena turunnya salju di area tambang Grasberg ini pernah terjadi pada 12 Agustus 2003, 10 Oktober 2007, dan 1 April 2009. Pada 2023 lalu, juga tercatat sempat turun hujan salju.
Berkaitan dengan ini, Prakirawan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Marsareza, membenarkan bahwa meski demikian, pihaknya tidak dapat memantau secara jelas fenomena tersebut karena jangkauan radar yang terbatas.
“Keterbatasan radar kita ini yang cuma singlepolar, tidak bisa itu mendeteksi secara horizontal dan vertikal, sehingga yang terdeteksi di radar, daerah Tembagapura itu, seperti biru (yang menandakan) hujan gerimis, tapi bisa jadi salju,” ucapnya saat ditemui Senin petang.
Menurut citra satelit BMKG, kata Marsareza bahwa pada Senin pagi, di wilayah Tembagapura diselimuti awan menengah yang kategori suhunya minus 28 derajat.
Hal ini menurutnya sangat memungkinkan terjadinya hujan salju. Hal ini kata dia sangat mungkin terjadi lantaran suhu awan dan ketinggian Tembagapura menyebabkan hujan yang masih dalam bentuk butiran es bisa sampai ke daratan tanpa mencair.
Reza menyebutkan, fenomena turunnya salju tersebut tidak dipengaruhi oleh kondisi cuaca secara regional (Indonesia dan Papua) bahkan global atau dunia.
“Jadi memang diprakirakan karena awan menengah dari pukul 5 sampai 6 pagi tadi itu yang agak tebal saat terpantau oleh satelit,” tuturnya.
Reza menambahkan, fenomena turunnya salju merupakan hal yang lumrah di Tembagapura mengingat tinggi lokasinya. (*)
Editor : Agung Trihandono