Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Tradisi Kembang Api Masih Warnai Malam Tahun Baru di Jayapura

Priyadi Cepos Online • 2025-12-31 17:37:44
Pengunjung membeli petasan dan kembang api di salah satu lapak pedagang di ruas jalan menuju Pantai Hamadi, Rabu (31/12/2025)
Pengunjung membeli petasan dan kembang api di salah satu lapak pedagang di ruas jalan menuju Pantai Hamadi, Rabu (31/12/2025)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Pergantian malam Tahun Baru dari 31 Desember 2025 ke 1 Januari 2026 di Kota Jayapura masih dirayakan dengan tradisi menyalakan kembang api dan petasan.

Meski pemerintah daerah telah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan euforia berlebihan, sebagai bentuk empati atas musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh, antusiasme masyarakat tetap terlihat.

Sejumlah warga tampak membeli petasan dan kembang api sejak sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi perayaan Tahun Baru dengan pesta kembang api masih melekat di tengah masyarakat Kota Jayapura.

Salah satu pedagang petasan dan kembang api di kawasan Abepura, Nisa, mengungkapkan bahwa penjualan mulai meningkat sejak H-1 menjelang malam pergantian tahun.

“Penjualan sudah terasa sejak sehari sebelumnya, tetapi puncaknya pada Rabu (31/12/2025). Sejak sore hari, pembeli sudah ramai datang,” ujar Nisa, Selasa (30/12/2025).

Ia menyebutkan, harga petasan dan kembang api tahun ini relatif sama dengan tahun sebelumnya. Harga termurah sekitar Rp5 ribu untuk petasan banting, sementara harga tertinggi bisa mencapai Rp10 juta untuk jenis petasan book yang mampu menghasilkan ratusan bunyi dan visual warna.

Menurut Nisa, sebagian besar pembeli memilih petasan dengan harga menengah, yakni sekitar Rp50 ribu. Petasan dan kembang api tersebut tidak didatangkan langsung dari luar Papua, melainkan melalui distributor yang sudah ada di Kota Jayapura, sehingga dinilai lebih efisien dan aman.

Namun demikian, cuaca menjadi salah satu kendala utama bagi para pedagang. Hujan pada malam pergantian tahun dapat menurunkan minat beli masyarakat.

“Semua pedagang pasti berharap malam Tahun Baru tidak hujan. Kalau hujan, pembeli jarang keluar rumah dan penjualan pasti turun,” akunya.

Selain petasan dan kembang api, pedagang terompet juga merasakan dinamika penjualan menjelang Tahun Baru. Tedjo, penjual terompet di kawasan Entrop, mengatakan saat ini ia lebih banyak menjual terompet berbahan plastik dibandingkan kertas.

“Peminat terompet kertas sudah berkurang. Sekarang lebih banyak yang pilih terompet plastik meski harganya lebih mahal, sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, sedangkan terompet kertas hanya Rp10 ribu,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembeli terompet kini tidak hanya orang tua untuk anak-anak, tetapi juga masyarakat umum yang ingin merayakan malam Tahun Baru tanpa bermain petasan atau kembang api. 

Sementara itu, Ariyana warga Entrop mengaku pergantian malam tahun baru 2025/2026 kali ini ia lebih memilih merayakan di komplek tanpa harus menyalakan pesta kembang api.

 Menurutnya selain ini bentuk menghamburkan uang di saat ekonomi masih belum bagus.

 " Harusnya malam pergantian malam tahun baru dilakukan untuk refleksi diri supaya tahun 2026 lebih baik dan tidak ada banyak musibah di Indonesia. Banyak berdoa dan berbuat baik,"pintanya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#petasan #tahun baru #Ceposonline.com #kota jayapura #kembang api