GOW Tolikara Gerakkan Mama-mama Kampung Tanam Sayuran, Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Sidang BPL GIDI Pusat 2026

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:15 WIB
Sosialisasi yang dilakukan  GOW Tolikara  di Aula Klasis Kanggi pada Selasa (28/7/2026) ( CEPOSONLINE.COM/DISKOMDIGI TOLIKARA)
Sosialisasi yang dilakukan  GOW Tolikara  di Aula Klasis Kanggi pada Selasa (28/7/2026) ( CEPOSONLINE.COM/DISKOMDIGI TOLIKARA)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA– Semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat terus dibangun di Kabupaten Tolikara.

Menjelang pelaksanaan Sidang Badan Pekerja Lengkap (BPL) Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pusat Tahun 2026 yang direncanakan berlangsung di Klasis Kanggi, Distrik Kanggime pada pertengahan bulan November 2026, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tolikara mengajak mama-mama kampung membuka lahan pertanian baru dan menanam berbagai jenis sayuran sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sosialisasi yang berlangsung di Aula Klasis Kanggi pada Selasa (28/7/2026) ini diikuti dengan antusias oleh mama-mama dari Klasis Kanggi, Klasis Gilobandu, Bakal Calon Klasis Abur Yumaga, serta sejumlah klasis tetangga.

 Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menyambut ribuan peserta BPL GIDI Pusat, sekaligus membangun kesadaran bahwa keberhasilan sebuah perhelatan besar gerejawi harus ditopang oleh kekuatan pangan lokal yang diproduksi oleh masyarakat sendiri.

Ketua GOW Kabupaten Tolikara, Ny. Reni W. Wonda, A.Md.Sos, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Ketua TP-PKK Kabupaten Tolikara, Ny. Elisabeth F. Wandik, yang mendorong seluruh organisasi perempuan untuk menggerakkan masyarakat memanfaatkan lahan pertanian secara maksimal.

Menurutnya, GOW hadir bukan hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga membangun semangat kemandirian masyarakat melalui pertanian yang produktif.


"Kami diutus untuk mengajak masyarakat menanam berbagai jenis sayuran seperti wortel, sawi, kol, daun bawang, bawang merah, dan bawang putih sebagai persiapan menyambut BPL GIDI Pusat. Kami ingin kebutuhan pangan pada kegiatan besar nanti dapat dipenuhi dari hasil kebun masyarakat Tolikara sendiri," ujarnya.


Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Mama-mama dari berbagai kampung hadir dengan semangat untuk mengikuti sosialisasi karena mereka menyadari bahwa pertanian bukan hanya menjadi bagian dari persiapan BPL GIDI Pusat, tetapi juga merupakan peluang meningkatkan ekonomi keluarga.


Sebagai Wakil Koordinator Bidang Konsumsi dalam kepanitiaan BPL GIDI Pusat, GOW tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga menyerahkan bantuan modal kepada para mama agar dapat membeli bibit sayuran dan mulai mengelola kebun mereka.


Reni menjelaskan bahwa hasil panen masyarakat nantinya akan dibeli langsung oleh panitia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi peserta BPL GIDI Pusat. Dengan demikian, masyarakat memperoleh kepastian pasar sekaligus kesempatan meningkatkan pendapatan keluarga.


"Kami ingin mama-mama memiliki semangat untuk berkebun karena hasil panennya akan kami beli. Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan sekaligus mendukung suksesnya pelaksanaan BPL GIDI Pusat," jelasnya.


Program pemberdayaan ini sebelumnya telah dilaksanakan di Klasis Kuari, Klasis Toma, dan Klasis Awon. Setelah kegiatan di Klasis Kanggi, Gilobandu, dan Bakal Calon Klasis Abur Yumaga, sosialisasi akan dilanjutkan ke Klasis Wondame dan Woniki agar semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan ketahanan pangan tersebut.


Tidak hanya hasil pertanian, GOW juga akan membeli ternak babi milik masyarakat sebagai bagian dari penyediaan pangan lokal selama berlangsungnya BPL GIDI Pusat.


Menurut Reni, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. bersama Wakil Bupati Yotham R. Wonda, S.H., M.Si., agar kebutuhan pangan lokal diprioritaskan dibeli dari masyarakat Tolikara sendiri sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga.


"Perputaran ekonomi harus terjadi di kampung-kampung. Sayuran dari kebun masyarakat dan ternak babi milik masyarakat akan kami beli. Dengan demikian, uang tetap beredar di Tolikara dan memberikan manfaat bagi keluarga-keluarga di daerah ini," tegasnya.


Ia menambahkan, hanya kebutuhan barang-barang kios yang didatangkan dari luar daerah, sedangkan komoditas pertanian dan peternakan akan diprioritaskan berasal dari hasil produksi masyarakat lokal.


Lebih jauh, Reni mengajak seluruh mama-mama untuk menjadikan berkebun sebagai budaya hidup yang berkelanjutan, bukan hanya karena adanya pelaksanaan BPL GIDI Pusat.


Menurutnya, pertanian merupakan sumber kehidupan yang mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.


"Kami berharap setelah BPL GIDI Pusat selesai, semangat berkebun tidak ikut berhenti. Teruslah menanam, teruslah bekerja, karena dari kebun yang dikelola dengan baik akan lahir keluarga-keluarga yang mandiri, anak-anak yang dapat mengenyam pendidikan, dan masyarakat Tolikara yang semakin sejahtera," pesannya.


Ia juga mengimbau masyarakat yang telah memiliki hasil panen agar menjualnya melalui dapur Sarasehan yang telah disiapkan panitia di Nabunage dan nantinya juga akan dibuka di Kanggime, sehingga hasil pertanian masyarakat dapat langsung terserap.


Sementara itu, Sekretaris II GOW Kabupaten Tolikara, Ny. Yani Oematan, mengatakan sosialisasi tersebut juga menjadi momentum memperkenalkan keberadaan GOW kepada masyarakat.


Ia menjelaskan bahwa GOW merupakan wadah yang menghimpun berbagai organisasi perempuan dari gereja maupun organisasi kewanitaan lainnya di Kabupaten Tolikara untuk bersama-sama berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui pemberdayaan perempuan, penguatan keluarga, peningkatan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, kehadiran GOW diharapkan menjadi kekuatan baru yang mampu menyatukan seluruh perempuan Tolikara dalam semangat pelayanan, pengabdian, dan pembangunan.


Pelaksanaan sosialisasi ini menjadi bukti bahwa persiapan BPL GIDI Pusat Tahun 2026 tidak hanya difokuskan pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga pada pembangunan manusia dan pemberdayaan ekonomi rakyat. 


Melalui gerakan menanam, GOW Kabupaten Tolikara ingin menanam harapan baru bahwa keberhasilan sebuah kegiatan besar gerejawi akan membawa manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Ketika iman diwujudkan melalui kerja keras, gotong royong, dan kemandirian, maka gereja, pemerintah, dan masyarakat akan bersama-sama membangun Tolikara yang lebih maju, mandiri, sejahtera, serta diberkati Tuhan. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Ceposonline.com Tolikara Papua Pegunungan