CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Ketua Umum Panitia Pelaksana (Panpel) Liga 4 PSSI Piala Gubernur Provinsi Papua Tengah, Alfred Fredy Anouw, memastikan pelaksanaan Liga 4 Papua Tengah tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan persoalan Kapiraya yang sedang bermasalah.
Ini disampaikan menyikapi kritik publik yang meminta agar kompetisi tersebut dibatalkan hingga persoalan Kapiraya diselesaikan. Ditegaskan Liga 4 merupakan bagian dari sistem kompetisi resmi tahunan yang digelar oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), mulai dari Liga 1, Liga 2, Liga 3 hingga Liga 4 sebagai satu kesatuan pembinaan sepak bola nasional.
“Liga 4 ini bukan sekadar ajang biasa. Ini adalah wadah bagi anak-anak muda Papua untuk menunjukkan skill dan bakat yang selama ini mereka latih, agar bisa naik ke Liga 2 maupun Liga 1,” ujarnya Anouw. Lanjutnya, Sekaligus menjadi ruang positif agar mereka terhindar dari pergaulan bebas dan berbagai penyakit sosial.
Ia menegaskan, olahraga khususnya sepak bola memiliki dampak sosial yang besar karena mampu membentuk disiplin, kebersamaan, serta solidaritas antargenerasi muda. “Sepak bola itu menyatukan. Di lapangan tidak ada perbedaan, semua bermain untuk satu tujuan. Ini yang ingin kita bangun di Papua Tengah,” katanya.
Terkait isu Kapiraya, AFA menekankan bahwa persoalan tersebut sedang ditangani pemerintah daerah melalui pendekatan dialog dan adat. Ia menyebut Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, telah memediasi pertemuan dengan melibatkan Bupati Mimika, Deiyai, dan Dogiyai bersama tim harmonisasi masing-masing kabupaten.
“Pembatalan Liga 4 dengan alasan Kapiraya itu tidak tepat. Itu dua hal yang berbeda. Soal Kapiraya sedang dalam proses penyelesaian oleh pemerintah melalui pendekatan adat,” tegasnya. “Justru melalui sepak bola, kita bisa menyatukan perbedaan dan memperkuat persaudaraan. Jangan sampai ruang positif seperti ini malah dihentikan,” pungkas dia.
Ia berharap masyarakat dapat melihat Liga 4 Papua Tengah sebagai ajang pembinaan, persatuan, dan pemberdayaan generasi muda, serta tidak mengaitkannya dengan persoalan lain yang sedang berproses di ranah pemerintahan. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser