Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Gubernur Apolo dan Wamenko Bahas Kawasan Swasembada Pangan di Papua Selatan

Yulius Sulo • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:19 WIB
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo bersama Wamen Koordinator Bidang Pangan saat membahas kawasan swasembada pangan di Papua Selatan, di Jakarta, Rabu (3/6/2026).(Biro Umum Papsel/Ceposonline.com) 
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo bersama Wamen Koordinator Bidang Pangan saat membahas kawasan swasembada pangan di Papua Selatan, di Jakarta, Rabu (3/6/2026).(Biro Umum Papsel/Ceposonline.com) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE-Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo bersama Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq membahas percepatan pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Provinsi Papua Selatan dalam pertemuan di Ruang Rapat Utama Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Gubernur datang ke Jakarta memenuhi undangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI dalam rangka mendukung percepatan pembangunan KSPEAN di Provinsi Papua Selatan. 

Tentunya, diperlukan penguatan aspek sosial dan budaya guna memastikan pelaksanaan program berjalan secara inklusif, berkelanjutan, serta memperhatikan karakteristik dan kearifan lokal masyarakat.


"Kami sangat bersyukur Pak Menteri terutama kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menetapkan Papua Selatan sebagai salah satu Program Strategis Nasional (PSN)," kata Gubernur Apolo.

Mantan Rektor Uncen Jayapura ini menjelaskan, pertama, program ketahanan pangan di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Kedua, perkebunan tebu untuk bioetanol di Kampung Sermayam, Distrik Tanah Miring dan Distrik Jagebob.

Kini beberapa hal telah dilakukan pemerintah provinsi untuk pelaksanaan program strategis nasional

"Pemaparan yang disampaikan oleh Wamenko sangat penting dan menjadi masukan agar dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi potensi konflik yang mungkin akan terjadi dan menghambat program PSN ini,"ujarnya.

Target produksi gula dan bioetanol saat ini sedang berjalan. Program ini di awali dengan riset pada 2015 lalu di 2025 dilakukan pembibitan jenis varietas tebu. Kemudian dilanjutkan dengan adaptasi tanah disesuaikan dengan cuaca.

"Saat ini sementara sedang dilakukan persiapan produksi, kalau tidak ada halangan, tahun depan sudah mulai produksi gula,"kata gubernur.

Sesuai data, kata Gubernur Apolo, penduduk di Indonesia mengkonsumsi 5 juta ton gula per tahun.

"Jadi, kalau kita maksimalkan sampai tahun depan, maka kita bisa menghasilkan tiga setengah ton juta gula,"ujarnya.

Artinya, lanjut dia, di 2029 sudah bisa swasembada gula, dan anggaran yang dihasilkan bisa dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur lain.

Menyangkut program ketahanan pangan, saat ini sementara berada pada proses intensifikasi berupa oplahan. Sebagian lahan-lahan yang selama ini tidak digarap, kembali dikembangkan.

Kemudian tanah yang sebelumnya ditanam satu kali, kini sudah tiga kali tanam dalam satu tahun. Tahun ini sudah 70 ribu hektare lahan sudah dibuka untuk program ketahanan pangan dan akan terus dibuka secara bertahap sesuai dengan setiap tahun.

Apolo mengatakan, sehingga akan mencapai target yang direncanakan untuk swasembada pangan. Terkait pembukaan perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa terbantu dengan adanya program swasembada pangan dan mendukung program PSN. Tetapi secara faktual, ada beberapa kelompok masyarakat yang melakukan penolakan 

Penolakan ini telah disampaikan secara luas oleh seluruh warga di tanah Papua dan juga di Papua Selatan.

"Ini yang perlu kita bijaki, dan bagimana perlu kita melakukan sosialisasi supaya dapat meminimalisir dampak-dampak negatif yang mungkin bisa terjadi dengan hadirnya PSN ini,"tambah Gubernur Apolo Safanpo. (*)

Editor : Elfira Halifa
#Apolo Safanpo #PAPUA SELATAN