Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Persipura dan Ujian Sejarahnya; Ini Bukan Sekadar (Akan) Degradasi

Gratianus Silas • 2025-02-28 07:09:34
Fred Keith Hutubessy, Peneliti Parrheisiates Research and Empowerment
Fred Keith Hutubessy, Peneliti Parrheisiates Research and Empowerment

Suatu waktu kitong (Persipura) ada main malam sekitar tahun 80an di Jakarta. Paginya, Hengky Heipon panggil kitong untuk kumpul di lapangan segitiga situ. Waktu itu Hengky bilang begini: “Nanti malam kitong akan bertanding. Ini final! Buatlah anak-anak Papua yang mungkin hari ini dia ada di pedalaman Kalimantan atau Sumatera sana, dimanapun! Buatlah agar besok pagi semua orang melihat dia. Kalau kitong menang, betapa bangganya dia. Dia akan berdiri dengan dada terbuka. Jangan buat semua orang mengejek dia!”

Catatan Lapangan; wawancara dengan Benny Yensenem (Pemain Persipura Jayapura, Tahun 70-an)

 

Penulis: Fred Keith Hutubessy *)

Sejak beberapa bulan terakhir melakukan penelitian di Jayapura, saya tidak pernah melewatkan pertandingan tim-tim sepak bola dari Tanah Papua. Dari menyaksikan laga PSBS Biak di Stadion Lukas Enembe, hingga Persewar Waropen di Stadion Mandala. Tentunya datang ke stadion adalah cara memberi dukungan kepada setiap tim Papua yang bertanding. Setiap pertandingan selalu memiliki atmosfer yang khas, penuh dengan semangat dan antusiasme suporter. Namun, tidak ada yang lebih saya nantikan selain momen ketika tim kebanggaan, Persipura Jayapura, turun ke lapangan. Sorak-sorai dari tribun, dentuman perkusi yang mengiringi setiap serangan, serta yel-yel suporter yang menggema di seluruh stadion menciptakan suasana yang tak tergantikan. Begitu wasit meniup peluit kick-off, seluruh perhatian tertuju pada permainan Persipura.

Sambil memandang lautan biru menghadap Samudera Pasifik, dari pantai Dok 2 saya menulis artikel ini saat Persipura mungkin sedang mempersiapkan tim menjalani laga Play Off degradasi Liga 2 melawan Persibo Bojonegoro. Pertandingan ini merupakan ujian sejarah. Namun, bukan sekadar perebutan tiket untuk bertahan di kasta kedua sepak bola Indonesia, tetapi juga menjadi cerminan dari sebuah harapan. Ya, tentunya simbol harapan, identitas, dan perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di setiap tendangan dan serangan yang mereka lakukan, ada semangat yang tak pernah padam. Tentu semangat yang dulu membuat anak-anak Papua bermimpi menjadi bagian dari tim ini, dan semangat yang kini kembali membakar asa untuk melihat Persipura kembali ke tempat yang akan seharusnya mereka tempati.

Kam itu Kitong Pu Mimpi: Persipura dan Harapan Anak-anak Papua

Anak-anak sedang menyaksikan tim Persipura berlatih di Stadion Mandala Jayapura.
Anak-anak sedang menyaksikan tim Persipura berlatih di Stadion Mandala Jayapura.

Persipura Jayapura adalah potret dari jejak harapan setiap anak-anak di Papua yang bercita-cita menjadi pesepakbola. Secara pribadi, saya pertama kali mengenal tim ini pada medio 90-an. Nama-nama seperti Chris Yarangga, Ronny Wabia, Pieter Werbabkay, Eduard Ivakdalam, dan Helconi Harmain menjadi idola bagi banyak anak, termasuk saya masa itu. Tim ini terus berkembang dan mencatatkan sejarah gemilang di sepak bola Indonesia. Persipura Jayapura telah menjuarai Liga Indonesia beberapa kali, menunjukkan dominasinya sebagai salah satu klub terbaik di tanah air. Mereka meraih gelar juara Liga Indonesia pada 2005, 2008–2009, 2010–2011, dan 2013, serta menjadi runner-up dalam beberapa musim lainnya. Keberhasilan ini tidak hanya membuktikan kualitas permainan mereka, tetapi juga mengukuhkan Persipura sebagai simbol kebanggaan masyarakat Papua. Dengan gaya permainan cepat dan menyerang, tim ini menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda Papua yang bermimpi mengikuti jejak para legenda yang pernah membela Persipura. Bagi penggemar, setiap pertandingan bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang penuh dengan antusiasme dan kebersamaan. Kini, mengenang masa-masa itu, saya menyadari betapa dalamnya jejak yang ditinggalkan Persipura dalam perjalanan kami yang mencintainya.

Menyaksikan Persipura bertanding secara langsung di stadion adalah sebuah kebahagiaan tersendiri dan momen yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. Pada masa itu, jika Persipura bertanding pada hari kerja, atmosfer di kota pun ikut berubah. Tak jarang, aktivitas perkantoran selesai satu hingga dua jam lebih awal, sementara sekolah-sekolah yang berada di sekitar stadion membiarkan siswanya pulang lebih cepat. Apabila Persipura memenangkan pertandingan, semua orang bersukacita. Sekalipun bagi mereka yang tidak membawa kendaraan pribadi harus pulang dengan berjalan kaki karena sulitnya mendapatkan transportasi di sekitar Stadion Mandala, namun hal itu bukanlah masalah. Jalanan yang penuh sesak oleh para suporter yang bersorak gembira justru menambah kesan kebersamaan dan cerita tentang jalannya pertandingan terus dibahas sepanjang perjalanan pulang.

Persipura dicintai oleh semua kalangan, tanpa memandang usia. Dari anak-anak hingga orang tua, semua berbondong-bondong datang ke stadion untuk menyaksikan tim kebanggaan mereka bertanding. Pemandangan di sekitar stadion pun selalu menarik. Ada yang mengenakan seragam PNS karena langsung datang dari kantor, ada pula anak-anak sekolah yang masih berseragam, bergegas agar tidak melewatkan pertandingan. Sementara itu, bagi kami anak-anak kecil pada masa itu, masuk ke stadion bukanlah hal yang mudah. Tidak semua dari kami memiliki cukup uang untuk membeli tiket, tetapi kecintaan terhadap Persipura selalu menemukan jalannya. Dengan koran bekas sebagai alas duduk di rumput dan mengharapkan kebaikan hati orang lain untuk menggenggam tangan, saya dan beberapa teman menggunakan alternatif ini untuk masuk melewati penjagaan pintu stadion untuk menyaksikan kebanggan bertanding.

Kisah Rudolof Yanto Basna adalah bukti nyata betapa besar kecintaan anak-anak Papua terhadap Persipura. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Yanto kecil melakukan sesuatu yang luar biasa demi menyaksikan tim idolanya bertanding. Ia berenang dari Dok 7 Perikanan menuju belakang Stadion Mandala, hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengangkat bajunya agar tetap kering. Semua itu ia lakukan hanya demi bisa melihat langsung laga Persipura Jayapura melawan Persib Bandung. Ironisnya, sekitar satu dekade setelah peristiwa itu, Yanto justru menjadi salah satu pesepakbola Papua yang memperkuat skuad Persib Bandung, tim yang dulu ia sempat saksikan ketika menghadapi Persipura. Kisah ini bukan hanya tentang tekad dan cinta terhadap sepak bola, tetapi juga tentang bagaimana mimpi seorang anak Papua bisa menjadi kenyataan melalui kerja keras dan dedikasi.

Mimpi anak-anak Papua turut bertransformasi seiring dengan perkembangan Persipura dari waktu ke waktu. Anak-anak yang menyaksikan Persipura di tahun 90-an, hingga medio 2000 bercita-cita menjadi seperti Eduard Ivakdalam. Ia seorang gelandang elegan yang begitu mencintai Papua dan menjadi simbol kejayaan Persipura di eranya. Ia bukan sekadar pemain, tetapi juga panutan yang menunjukkan bahwa anak Papua bisa bersinar di level tertinggi sepak bola Indonesia. Seiring waktu, muncul nama-nama yang menginspirasi generasi berikutnya, salah satunya Boaz Solossa. Dengan kecepatan, ketajaman, dan kepemimpinannya di lapangan, Boaz bukan hanya menjadi ikon Persipura, tetapi juga representasi kegigihan dan talenta Papua. Tak sedikit dari mereka yang tumbuh dengan mengidolakan Boaz akhirnya berhasil meniti karier sebagai pemain profesional. Nama-nama seperti Todd Ferre, Ricky Cawor, dan Ricky Kambuaya adalah bukti bahwa mimpi itu nyata dan dapat diraih dengan kerja keras. Sepak bola di Papua bukan sekadar permainan atau hiburan, tetapi sebuah perjalanan hidup dan jalan yang menghubungkan anak-anak dengan mimpi mereka, memberi harapan, dan membuktikan bahwa dengan dedikasi, mereka bisa mencapai apa pun yang mereka impikan.

 

Persipura Jayapura: Menendang Bola, Melawan Stigma

"Kaka, Ko dari Papua kah? Berarti ko bisa jago main bola kayak Persipura."

(Catatan Lapangan: Cerita Mahasiswa Papua di Salatiga)

Selama bertahun-tahun, Papua kerap kali dihadapkan pada stigma negatif, mulai dari narasi keterbelakangan, ketertinggalan pembangunan, hingga permasalahan sosial-politik yang kompleks. Representasi Papua dalam wacana nasional sering kali mengabaikan aspek-aspek positif yang melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Namun, di tengah berbagai stereotip yang mengakar, Persipura Jayapura muncul sebagai bukti empiris bahwa Papua memiliki kapasitas untuk bersaing dan berprestasi di level tertinggi. Sebagai klub sepak bola paling sukses di Indonesia, Persipura bukan hanya sekadar tim olahraga, tetapi juga representasi konkret dari potensi, ketangguhan, dan daya saing orang Papua. Keberhasilan mereka menjuarai Liga Indonesia berkali-kali serta tampil kompetitif di ajang Asia seperti AFC Cup menunjukkan bahwa Papua memiliki sumber daya manusia yang unggul dalam bidang olahraga, yang sering kali diabaikan dalam diskursus pembangunan nasional.

Lebih dari sekadar prestasi di atas lapangan, Persipura berfungsi sebagai instrumen sosial yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat Papua akan nilai kerja keras dan profesionalisme. Klub ini melahirkan ikon-ikon sepak bola yang menjadi panutan, seperti Boaz Solossa dan Eduard Ivakdalam, yang membuktikan bahwa anak-anak Papua mampu berprestasi dengan standar yang setara dengan daerah lain di Indonesia. Keberhasilan mereka bukan hanya sekadar hasil dari bakat alami, tetapi juga refleksi dari struktur pembinaan yang baik dan sistem kompetisi yang kompetitif. Dengan kata lain, Persipura telah membuktikan bahwa jika diberikan ekosistem yang mendukung, Papua dapat menghasilkan individu-individu berprestasi yang mampu bersaing di panggung nasional maupun internasional. Ini menjadi antitesis terhadap wacana yang sering kali menempatkan Papua sebagai wilayah marginal dalam pembangunan Indonesia.

Selain itu, Persipura juga memainkan peran signifikan dalam membentuk narasi inklusif mengenai Papua dalam konteks nasional. Basis suporternya yang heterogen, mencakup tidak hanya orang asli Papua tetapi juga pendatang dari berbagai daerah di Indonesia, membuktikan bahwa sepak bola dapat menjadi medium integrasi sosial. Saat Persipura bertanding, identitas etnis atau politik menjadi sekunder. Yang utama adalah kebersamaan dalam mendukung tim kebanggaan. Hal ini menjadi contoh konkret bahwa Papua bukanlah wilayah yang terisolasi atau eksklusif, melainkan bagian dari jaringan sosial yang lebih luas dalam kebangsaan Indonesia. Dengan demikian, Persipura bukan hanya menampilkan wajah Papua yang kompetitif, tetapi juga membuktikan bahwa Papua memiliki daya kohesi sosial yang tinggi, berlawanan dengan anggapan bahwa wilayah ini sarat dengan fragmentasi dan konflik.

Keberhasilan Persipura dalam menciptakan narasi alternatif terhadap stigma Papua seharusnya menjadi refleksi bagi pembuat kebijakan dan masyarakat luas. Alih-alih terus memandang Papua melalui lensa defisit dan ketertinggalan, keberhasilan Persipura seharusnya menjadi titik tolak untuk mengakui bahwa Papua memiliki kapasitas untuk berkembang jika diberikan kesempatan yang setara. Ini juga menjadi bukti bahwa pembangunan di Papua tidak melulu soal infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan sumber daya manusia melalui bidang-bidang seperti olahraga. Persipura telah menunjukkan bahwa dengan sistem yang mendukung, Papua bisa melahirkan generasi berprestasi. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memastikan bahwa keberhasilan ini tidak hanya berhenti di sepak bola, tetapi juga meluas ke berbagai sektor lainnya, sehingga Papua dapat sepenuhnya diakui sebagai bagian dari Indonesia yang maju dan berdaya saing.

Meretas Romantisme; Menjaga Harapan, Menolak Tenggelam

Persipura Jayapura bukan sekadar klub sepak bola; ia adalah simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Papua. Sejak berdiri, Persipura telah menjadi bukti bahwa anak-anak Papua mampu bersaing dan berprestasi di tingkat tertinggi sepak bola Indonesia. Lebih dari itu, keberadaan Persipura mengikis stigma negatif terhadap Papua dan membangun narasi tentang Papua sebagai tanah penuh talenta dan semangat juang. Namun, situasi yang dihadapi saat ini, dengan ancaman degradasi yang membayangi, menjadi alarm bahwa kejayaan tidak bisa terus bergantung pada romantisme masa lalu. Persipura harus menang, bukan hanya untuk bertahan di kompetisi, tetapi juga untuk menjaga mimpi dan kebanggaan yang telah mereka rawat selama puluhan tahun.

Pertandingan play-off melawan Persibo Bojonegoro di Stadion Mandala adalah titik balik yang menentukan. Bukan hanya soal mempertahankan posisi di kasta sepak bola nasional, tetapi juga sebagai bukti bahwa Persipura tetap menjadi simbol ketangguhan Papua. Stadion Mandala bukan sekadar lapangan, tetapi rumah bagi sejarah panjang Mutiara Hitam, tempat di mana semangat juang dan kebanggaan harus dikobarkan kembali. Kemenangan bukan hanya menjadi harapan, tetapi juga keharusan bagi generasi muda Papua yang menjadikan Persipura sebagai mimpi mereka. Jika tim ini runtuh, bukan hanya nama besar yang pudar, tetapi juga harapan bagi banyak anak Papua yang bercita-cita bermain untuk klub ini, membawa bendera daerah mereka ke panggung yang lebih besar.

Namun, mempertahankan eksistensi tidak cukup hanya dengan memenangkan satu pertandingan. Persipura harus melakukan reformasi besar dalam pengelolaan klub. Manajemen yang lebih profesional, transparansi keuangan, dan strategi regenerasi pemain yang lebih terstruktur harus segera diimplementasikan. Akademi sepak bola Papua harus diperkuat untuk terus melahirkan pemain berkualitas, dan hubungan dengan suporter serta komunitas sepak bola nasional harus diperkuat untuk membangun solidaritas dan stabilitas finansial klub. Dalam era sepak bola modern, hanya klub yang mampu beradaptasi dan memiliki visi jangka panjang yang bisa bertahan. Persipura tidak boleh terus terjebak dalam krisis, tetapi harus menjadi pelopor perubahan dalam ekosistem sepak bola Indonesia, terutama bagi kawasan Indonesia Timur.

Momen ini harus menjadi refleksi bagi semua pihak yang mencintai Persipura, baik pemain, manajemen, maupun masyarakat Papua. Klub ini bukan sekadar entitas olahraga, tetapi juga penjaga identitas, kebanggaan, dan mimpi. Jika Persipura mampu melewati ujian ini, bukan hanya kelangsungan tim yang terjaga, tetapi juga semangat dan kebanggaan Papua yang tetap menyala. Kemenangan atas Persibo Bojonegoro bukan hanya tentang bertahan di kompetisi, tetapi tentang membuktikan bahwa Papua tetap memiliki tempat terhormat dalam sejarah sepak bola Indonesia. Kini saatnya Persipura bangkit, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan sepak bola Papua yang lebih cerah.

Saya menutup artikel ini sebagai relfeksi mendalam kepada siapa saja yang membacanya. Saya mengutip perkataan Domine Izaak Samuel Kijne:

Kutipan Domine Izaak Samuel Kijne
Kutipan Domine Izaak Samuel Kijne

Dengan iman yang teguh, besok akan ada kemenangan.

Persipura………..  Haleluya, Amin!!!

 *) Fred Keith Hutubessy adalah Peneliti Parrheisiates Research and Empowerment

Editor : Gratianus Silas
#Eduard Ivakdalam #PSBS Biak #Ceposonline.com #persipura jayapura #Boaz solossa