Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Diduga Ditembak, Bocah 7 Tahun di Kabupaten Nduga Hilang, Ini Kronologisnya

Yohanes Palen • 2025-12-29 18:16:43
Pengungsi yang berasal dari Distrik Gearek, Kabupaten Nduga hendak kembali ke kampung mereka masing-masing, Jumat (26/12/2025). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Pengungsi yang berasal dari Distrik Gearek, Kabupaten Nduga hendak kembali ke kampung mereka masing-masing, Jumat (26/12/2025). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Peristiwa naas menimpa seorang bocah berusia 7 tahun di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Adapun korban kini diketahui bernama Arestina Giban (7). Korban kini dilaporkan telah hilang usai ditembak.

Sementara itu tim Kemanusiaan Distrik Gearek menduga korban hilang usai ditembak dalam operasi militer yang berlangsung di Distrik Gearek, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, pada 12 Desember 2025 lalu.

Dugaan tersebut muncul setelah korban dilaporkan tertembak hingga tewas dan hingga kini jasadnya belum ditemukan. 

Direktur Eksekutif YKKMP Pembela HAM di tanah Papua, yang juga Ketua Tim Kemanusiaan Distrik Gearek, Theo Hesegem mengatakan, keluarga korban kini meminta aparat bertanggung jawab.  

Iapun mengungkapkan laporan investigasi awal sesuai kesaksian Wina Kerebea (35) yang merupakan ibu kandung dari korban, yang juga mengalami luka akibat serpihan mortir.

Wina menuturkan bahwa pada pagi hari sekira pukul 07.00 WIT, helikopter militer terlihat berpatroli saat ia hendak pergi ke kebun. 

“Karena situasi yang mencekam, Wina berusaha melarikan diri sambil menggendong Arestina,"ucap Theo Hesegem dalam rilis yang dikirim kepada Ceposonline.com Rabu (24/12/2025).

Namun, menurut kesaksiannya, anak tersebut diduga tertembak dan terjatuh dari bahunya di depan rumah.

"Jadi, Wina mengaku sempat kembali untuk memastikan kondisi anaknya sebelum akhirnya menyelamatkan anak sulungnya yang juga mengalami luka akibat tembakan nyasar,”ujar Theo Hesegem.

Sambung Theo Hesegem bahwa, dalam kondisi tembakan yang terus berlangsung, Wina menyatakan sempat mengangkat jasad anaknya dan meletakkannya di badan jalan, sebelum kembali berlari mencari perlindungan.

Tak lama kemudian, sebuah mortir dilaporkan jatuh dan meledak tidak jauh dari lokasi, menyebabkan Wina terkena serpihan di bagian paha kanan. 

“Upaya pencarian terhadap korban dilakukan warga dan Tim Kemanusiaan pada 14–16 Desember 2025, namun hingga kini jasad korban belum ditemukan,"bebernya.

Adapun Ibu korban menunjukkan kepada tim lokasi kejadian, tempat jasad anaknya sempat diletakkan, serta barang-barang milik korban berupa pakaian dan noken.

Saat ini, Wina Kerebea masih menjalani pemulihan dan berada di pengungsian bersama warga lainnya. 

Rumah miliknya dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat operasi militer yang berlangsung di wilayah tersebut.

Theo juga menyampaikan, hingga 20 Desember 2025, warga Distrik Gearek masih bertahan di lokasi pengungsian karena trauma dan kekhawatiran untuk kembali ke kampung halaman mereka.

Theo menilai tindakan penembakan terhadap anak di bawah umur serta luka yang dialami ibunya merupakan tindakan yang tidak profesional dan tidak terukur.

 “Sebagai pembela HAM di Papua, saya sangat menyesalkan dugaan penembakan terhadap anak di bawah umur dan hilangnya korban hingga saat ini,”kata Theo.

Ia juga mempertanyakan dasar penembakan terhadap korban yang merupakan warga sipil dimana Hukum Humaniter Internasional memproteksi masyarakat sipil, perempuan, dan anak-anak, sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa. 

Terkait peristiwa tersebut dimana pihak tim Kemanusiaan Distrik Gearek bersama keluarga korban merekomendasikan beberapa hal. 

Pertama, mendesak TNI untuk bertanggung jawab dan segera mengembalikan jasad korban kepada keluarga. 

Kedua, meminta keadilan dan proses hukum yang transparan atas dugaan penembakan terhadap almarhumah Arestina Giban (7).

Sementara itu pada haru Jumat 26 Desember 2025, sebanyak 70 orang pengungsi dari Distrik Gearek, Kabupaten Nduga kembali setelah 13 hari di pengungsian. 

Mereka mengungsi ke Ibu kota Kabupaten Nduga sejak 14 Desember 2025 lalu dan ditempatkan di SD Inpres Kenyam.

Pada 25 Desember 2025, pengungsi Natal bersama di SD Inpres Kenyam (camp pengungsian). 

Sebelum meninggalkan camp pengungsian, YKKMP menyerahkan laporan investigasi kepada pimpinan gereja dan Pemerintah Distrik Gearek, Kabupaten Nduga.

Terkait peristiwa pengunsian dan dan hasil investigasi yang dilakukan di Nduga. Theo mengaku tim investigasi telah bertemu dengan Dandim dan Kapolres Nduga pada 16 Desember 2025 lalu.

 “Hasil investigasi kami sudah kami sampaikan ke Kapolres dan Dandim, namun hingga saat ini belum ada respon,”tegas Theo.

“Saya juga sudah bersurat kepada Presiden Prabowo terkait anak di bawah umur yang dibunuh di luar prosedur hukum, tentang pengungsian termasuk keberadaan pasukan non-organik di Kabupaten Nduga,” pungkasnya Theo. (*).

Editor : Yohanes Palen
#Papua Pegunungan #NDUGA #Ceposonline.com #ditembak