CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Dunia pendidikan di Kota Semarang tengah menjadi sorotan publik. Sekolah di ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang seharusnya menjadi barometer pendidikan, justru dinodai dengan kabar adanya praktik bullying di sekolah.
Ironisnya, pelaku bulllying terhadap salah satu siswi kelas VI di SD Negeri Tambangan 01 Mijen Kota Semarang bukan antar sesama siswa di sekolah tersebut. Justru, pelaku utama diduga adalah guru kelas dari siswi yang bersangkutan yang berinisial FZA.
Dari informasi yang disampaikan orang tua anak “FZA” yang jadi korban dugaan bullying ini, apa yang dilakukan oleh ibu guru berinisial YY ini, telah membuat tekanan psikologis dan traumatis kepada anaknya.
Lebih lanjut orang tua FZA menuturkan kronologi kejadian ini, dimana FA mendapat bully dalam bentuk verbal dari YY yang menyebut FZA sebagai anak yang tidak punya adab, sombong.
Tak hanya itu, YY juga mengucilkan FZA di dalam kelas. Penilaian negatif tanpa bukti kebenaran dan perlakuan menyakitkan dari guru membuat mental FZA menjadi hancur dan tak kuasa menahan kesedihan.
“Anak saya diacuhkan dan tidak dianggap di dalam kelas. Tudingan guru yang menyebut anak saya tidak punya adab dan sombong, ini sangat menyakitkan,” ungkap orang tua FZA kepada awak media sebagaimana dilansir update87.com.
Diakui orang tua FZA bahwa perlakuan ini baru muncul sektiar dua minggu masuk kelas VI dengan guru Wali Kelas YY ini. Dimana sejak kelas 1 hingga kelas 5, FZA merupakan anak yang berprestasi di kelas ini, tak pernah ada masalah. Dia juga tidak tahu pasti alasan guru YY berbuat seperti itu pada anaknya.
“Statemen negatif yang belum tentu kebenarannya dan tidak ada bukti ini membuat tidak nyaman dan tidak aman anak saya dalam belajar di sekolah,” lanjut ibu FZA.
Dari keluhan yang disampaikan anaknya ini, akhirnya ibu FZA melaporkan kepada kepala sekolah untuk dilakukan penyelesaian. “Anak saya dipanggil kepala sekolah dan dimintai keterangan, dan selanjutnya giliran saya selaku orang tua juga dipanggil ke sekolah untuk mediasi dengan guru yang bersangkutan,”tuturnya.
Dari hasil pertemuan tersebut, kepala sekolah menawarkan tiga pilihan penyelesaian. Namun dari pilihan yang ditawarkan ini, justru seolah-olah anaknya yang bermasalah.
“Dimana hasil mediasi yang ditawarkan, pertama anak saya diminta untuk pindah kelas, kedua keluar dari sekolah atau pindah ke sekolah lain.”ungkapnya.
Namun dari pilihan yang ditawarkan ini, justru anaknya FZA yang terkesan bersalah atau bermasalah, sehingga harus dipindah. Tentu saja sebagai orang tua, tidak terima. Namun kepala sekolah sempat menunjuk-nunjuk muka orang tua FZA yang tidak terima anaknya dibully, sambil menyatakan kalau tidak terima boleh lapor sampai presiden.
“Kepsek malah bilang, kalau tidak terima, silahkan mau lapor Prabowo akan saya layani,” ungkap orang tua FZA.
Setelah mediasi panjang, akhirnya ibu guru ” YY” Minta maaf dan kepala sekolah menjamin keamanan dan kenyamanan anak FZA untuk tetap sekolah di SD negeri Tambangan 01 Mijen semarang.
Namun, usai mediasi ini bukannya memberikan ketenangan dan kenyamanan pada anak, dugaan tindakan bullying guru YY justru berlanjut dan makin parah saat guru YY kembali ke kelas VI A. Dimana tekanan berat dialami FZA dengan perlakuan guru YY.
“Tiba-tiba saya dapat telepon dari teman anak saya, untuk segera menjemput “FZA” Karena menangis di kelas dan diintimidasi dan dipojokkan oleh guru kelasnya lagi. Yaitu, tidak boleh keluar kelas, dan anak saya diolok-olok sama guru kelas tersebut dan guru kelas menyuruh temannya juga untuk ikut mengolok-olok anak saya,” ujar ibu FZA dengan nada geram.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Tambangan 01 Mijen Kota Semarang Arief Kenedi saat dikonfirmasi awak media via whatsapp mengatakan, “Itu hanya miskomunikasi saja, antara guru dan siswanya, segera akan kami ambil langkah langkah, untuk mengembalikan suasana dan kondisi yang kondusif kembali,” jawab Arif dalam sambungan Whatsapp seperti dilansir Update87.com.
Kasus ini pun menjadi perhatian serius dari sejumlah pihak. Ketua Lembaga Swadaya masyarakat ( LSM) Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan ( LP.K-P-K) Kota semarang Nur Cahyono mengatakan Bullying di sekolah dalam bentuk apapun tidak di benarkan dan pihaknya mengutuk keras Tindakan Bullying di Sekolah.
“Saya dan anggota segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk segera membantu anak korban bullying dan segera bersurat ke instasi terkait untuk mengambil tindakan tegas terkait kasus Bullying ini, “ ungkap Nur ke awak media.
Sementara itu, ibu FZA kepada Ceposonline.com mengaku, kasus ini juga menjadi perhatian Dinas Pendidikan Kota Semarang yang sudah datang untuk mengetahui lebih jauh kasus ini. Namun hingga kini belum ada kepastian solusi atau penyelesaian masalah ini.
“Saya tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin anak saya ini bisa belajar dengan tenang dan nyaman di sekolah. Jangan ada perlakuan yang menekan dan menghancurkan mental psikologi anak saya, maupun anak yang lain,” tandasnya. (*)
Editor : Agung Trihandono