Natalius Pigai: MBG Harus Bikin Anak Sehat dan Pintar, Bukan Masuk Rumah Sakit
Elfira Halifa• Kamis, 14 Mei 2026 | 08:16 WIB
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menegaskan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus mengutamakan hak anak atas kesehatan, keamanan pangan, dan pendidikan.
Pernyataan itu disampaikan Pigai menyusul kasus dugaan keracunan massal Program MBG di Surabaya, Jawa Timur, yang menyebabkan ratusan siswa sempat menjalani perawatan medis.
Menurut Pigai, Program MBG merupakan kebijakan strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menekan angka stunting.
Namun, ia mengingatkan pelaksanaan program tidak boleh mengabaikan pengawasan dalam pengolahan maupun distribusi makanan.
“Program MBG ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia untuk pemenuhan gizi anak-anak kita. Namun, jika terjadi kesalahan dalam proses pengelolaan makanan, khususnya di dapur, maka hal tersebut harus dievaluasi total dan ditindaklanjuti secara serius,” kata Pigai, sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (14/5/2026).
Pigai menegaskan, setiap program pemerintah yang bertujuan baik harus dijaga agar tidak tercoreng akibat kelalaian teknis di lapangan.
Karena itu, ia meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pelaksanaan Program MBG, terutama terkait standar keamanan pangan dan pengawasan distribusi makanan.
“Karena niat Bapak Presiden Prabowo Subianto bikin program MBG itu supaya anak Indonesia kenyang, sehat, dan pintar. Kalau sudah kenyang, pasti sehat. Kalau sudah sehat, pasti pintar,” ujarnya.
Sebelumnya, Pigai turun langsung meninjau kondisi korban dugaan keracunan massal MBG di Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RSIA IBI) Surabaya.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan hak anak atas pelayanan kesehatan tetap terpenuhi pascakejadian.
Saat berada di rumah sakit, Pigai melihat kondisi tujuh siswa yang masih menjalani perawatan. Ia didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Timur Toar R. E. Mangaribi, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta manajemen RSIA IBI Surabaya.
Pihak rumah sakit menyampaikan seluruh pasien dalam kondisi stabil dan menunjukkan perkembangan membaik.
Pigai juga memberikan semangat kepada para siswa agar segera pulih dan kembali mengikuti proses belajar di sekolah.
“Harus sembuh ya, sebentar lagi sembuh. Kalau sudah sembuh nanti harus kembali ke sekolah. Harus sekolah biar bisa raih semua cita-cita, nanti kalau sekolah bisa jadi menteri seperti saya,” ujarnya kepada para pasien.
Berdasarkan pemantauan Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Timur, insiden dugaan keracunan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh.
Sebanyak 131 siswa sempat menjalani perawatan medis. Dari jumlah tersebut, 124 siswa telah diperbolehkan pulang, sementara tujuh lainnya masih menjalani observasi.
Kementerian HAM memastikan akan terus memantau penanganan kasus tersebut hingga tuntas sekaligus mendorong perbaikan sistem pelaksanaan MBG agar lebih ketat dalam aspek keamanan pangan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (*)