CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Menjelang Hari Valentine, kamu bisa menyiapkan cokelat sebagai hadiah untuk orang terkasih. Pemberian cokelat sering dianggap sebagai simbol kasih sayang kepada seseorang.
Namun, tahukah kamu mengapa cokelat begitu identik dengan perayaan Valentine? Bagaimana asal-usul tradisi ini? Simak penjelasannya berikut.
Sejak tahun 1800-an, cokelat mulai dikaitkan dengan romantisme. Saat itu, cokelat digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada orang terdekat di Hari Valentine.
Cokelat berasal dari kata xocolatl, yang berarti "air pahit," sebuah minuman khas peradaban Mesoamerika. Minuman ini dibuat dari biji kakao yang dicampur dengan cabai dan rempah-rempah.
Pada abad ke-17, para penjelajah Eropa membawa minuman cokelat ke Spanyol, Inggris, dan Prancis. Saat itu, mengonsumsi cokelat menjadi simbol status bagi para penguasa sebagai bentuk menunjukkan kewibawaan mereka.
Menurut Charles Feldman, profesor studi pangan dan sistem pangan di Montclair State University, New Jersey, cokelat pernah dianggap sebagai simbol maskulinitas dan kejantanan.
Dahulu, cokelat hanya dapat dinikmati oleh kalangan menengah ke atas dan orang-orang kaya, menjadikannya lambang kemewahan serta suguhan eksklusif bagi mereka yang mampu membelinya.
Namun, pada abad ke-19, kakao manis mulai dapat dinikmati oleh para pekerja, termasuk wanita. Sejak saat itu, citra cokelat berubah dari maskulin menjadi lebih feminin. Tekstur cokelat yang manis dan lembut juga memberikan sensasi kenikmatan bagi penikmatnya.
Mengapa Valentine Identik dengan Cokelat?
Dalam budaya Romawi, Cupid (dewa cinta romawi) yang dikenal memiliki busuk untuk menembakkan anak panas dan mawar telah lama menjadi simbol romantisme sejak tahun 1800-an. Namun, butuh satu orang untuk menghubungkan cokelat dengan perayaan Hari Valentine.
Adalah Richard Cadbury, pembuat cokelat asal Inggris, yang mencetuskan ide tersebut pada tahun 1861. Sebagai bagian dari keluarga pengusaha cokelat, dia menjadi orang pertama yang memperkenalkan konsep kotak cokelat khusus untuk Hari Valentine, yang kemudian berkembang menjadi tradisi hingga saat ini.
Richard Cadbury mulai mengemas cokelat produksinya dalam kotak berbentuk hati yang disebut "kotak mewah."
Kotak ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah cokelat tetapi juga sebagai tempat menyimpan kenang-kenangan, seperti surat cinta, sehingga memiliki nilai lebih bagi pembeli.
Seiring waktu, ide kotak berbentuk hati semakin berkembang. Perusahaan cokelat mulai menciptakan desain yang lebih menarik, menggunakan bahan seperti sutra, renda satin, dan pita. Kemewahan kemasan ini bahkan membuat cokelat di dalamnya terasa kurang penting dibanding tampilan luarnya.
Pada tahun 1930-an, produsen cokelat di Amerika Serikat semakin agresif dalam pemasaran dan iklan Hari Valentine.
Mereka menargetkan wanita sebagai penerima utama produk dengan desain kemasan yang manis dan elegan.
Hingga saat ini, tradisi tersebut terus berlanjut. Budaya populer dan penelitian ilmiah menunjukkan bahwa wanita lebih menginginkan dan mengonsumsi cokelat hampir dua kali lebih banyak dibanding pria, menjadikan cokelat sebagai simbol yang erat kaitannya dengan Hari Valentine. (*)