CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA —Indonesia dinobatkan sebagai negara yang paling menghargai tidur di dunia, mengungguli 56 negara lain, berdasarkan survei global IKEA bekerja sama dengan GlobeScan yang dirilis Januari 2026.
Hasil tersebut tercantum dalam laporan Life at Home, studi internasional yang melibatkan responden dari 57 negara untuk mengukur persepsi kualitas hidup di dalam rumah.
Sebanyak 73 persen responden Indonesia menyatakan tidur sebagai aktivitas yang sangat penting dan menyenangkan, menjadikan Indonesia berada di peringkat teratas secara global.
Posisi Indonesia melampaui Tailan (71 persen), Filipina (68 persen), Singapura (66 persen), dan Mesir (65 persen).
Informasi tersebut dikonfirmasi akun informasi publik Folkative melalui unggahan resmi di media sosial pada Sabtu (31/1/2026).
“Berdasarkan survei global yang dilakukan oleh IKEA dan GlobeScan di 57 negara, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling menghargai tidur,” tulis Folkative.
Folkative menambahkan, tingginya persentase tersebut menunjukkan tidur dipandang sebagai bagian penting dari kesejahteraan fisik dan mental masyarakat Indonesia.
“Sebanyak 73 persen responden menganggap tidur sebagai aktivitas yang penting dan menyenangkan,” tulis akun tersebut.
Laporan Life at Home menempatkan tidur sebagai indikator utama kualitas hidup, seiring meningkatnya kesadaran kesehatan dan keseimbangan aktivitas harian.
Survei ini dilakukan oleh IKEA bersama GlobeScan, lembaga riset internasional yang secara rutin mengkaji perilaku dan tren sosial global.
Namun di balik kebiasaan tidur, tersimpan banyak faktor sosial, budaya, hingga pola kerja yang berbeda di setiap negara. Cara masyarakat memaknai waktu istirahat ternyata bisa menjadi cerminan kualitas hidup, tekanan kerja, hingga gaya hidup sehari-hari.
Dalam survei yang melibatkan 55.221 responden di 57 negara, Indonesia justru menempati posisi teratas sebagai negara dengan penduduk yang paling banyak meluangkan waktu untuk tidur dan merasa puas dengan jam istirahatnya. Capaian ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara Asia Tenggara lainnya, bahkan melampaui negara maju dengan tingkat produktivitas tinggi.
Hasil ini memunculkan beragam tafsir. Di satu sisi, tingginya durasi dan kepuasan tidur bisa dibaca sebagai tanda masyarakat yang masih memberi ruang bagi keseimbangan hidup. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan kritis: apakah ini benar-benar mencerminkan kualitas tidur yang baik, atau justru dipengaruhi oleh faktor struktural seperti pola kerja, cuaca, dan kebiasaan sosial?
Pada akhirnya, tidur yang ideal bukan soal siapa yang paling lama memejamkan mata, tetapi siapa yang mampu bangun dengan tubuh segar, pikiran jernih, dan kesiapan menghadapi hari. Jika Indonesia mampu mengubah kebiasaan tidur yang “banyak” menjadi tidur yang “berkualitas”, maka posisi teratas dalam laporan ini bisa menjadi awal cerita yang benar-benar membanggakan. (*)
Editor : Weny Firmansyah