CEPOSONLINE.COM, NABIRE, — Menanggapi aksi mahasiswa di depan Rektorat atau di halaman kampus terkait kebijakan baru soal pelunasan biaya SPP dan Pembangunan sebelum Wisuda, Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Petrus Tekege menyampaikan alasan di balik kebijakan baru pelunasan biaya kuliah yang belakangan mendapat sorotan dari mahasiswa.
Kebijakan ini, kata dia, diterapkan untuk mengatasi persoalan menumpuknya tunggakan yang menyebabkan banyak alumni belum mengambil ijazah dan kesulitan memperoleh pekerjaan.
Menurut Tekege, data kampus menunjukkan bahwa sebanyak 664 alumni dari sepuluh angkatan terakhir belum mengambil ijazah karena belum melunasi kewajiban pembayaran. Kondisi ini membuat mereka sulit bersaing di dunia kerja, karena tidak memiliki ijazah dan transkrip nilai sebagai syarat utama melamar pekerjaan.
“ Saya sebagai rektor merasa malu. Orang luar bilang, alumni USWIM banyak yang menganggur karena belum ambil ijazah. Saya tidak mau dengar kata-kata seperti itu lagi,” tegas Rektor Uswim kepada media saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin, (20/10/2025).
Lanjutnya, Mereka ini sarjana yang punya kemampuan, tapi tidak bisa melamar kerja karena ijazahnya tertahan.
Menurut Tekege, persoalan ini berawal dari kebijakan lama yang memperbolehkan mahasiswa membayar biaya kuliah dalam dua kali cicilan per semester. Niat baik universitas membantu mahasiswa justru kadang disalahgunakan oleh mahasiswa sehingga banyak mahasiswa yang menumpuk utang semester demi semester hingga menjelang wisuda.
“ Sudah tahu semester sebelumnya masih ada beban, tapi tetap menambah beban baru. Akhirnya, yudisium ikut, skripsi ikut, wisuda ikut, tapi ijazah tidak bisa diambil karena pembayaran belum lunas,” jelasnya.
Melihat dampak tersebut, pihak rektorat memutuskan untuk mengubah sistem pembayaran agar tidak ada lagi mahasiswa yang lulus tanpa bisa mengambil ijazahnya.
“ Mulai dari masa kepemimpinan saya dan seterusnya, tidak boleh lagi ada penambahan beban seperti sebelumnya. Cukup sudah 664 alumni itu menjadi pelajaran,” ujarnya.
Untuk meringankan beban mahasiswa, universitas memberikan potongan biaya sebesar 20 persen bagi yang melunasi tepat waktu. Selain itu, Rektor Tekege membuka ruang dialog bagi mahasiswa yang masih memiliki kendala pembayaran.
“ Saya minta mahasiswa yang masih bermasalah datang langsung menemui saya pada 11 November 2025, sebelum pelaksanaan wisuda pada 13 November 2025. Kita bicarakan baik-baik agar semua bisa wisuda dengan tenang,” katanya.
Menanggapi aksi mahasiswa yang menolak kebijakan ini, Tekege justru memberikan apresiasi. Ia menilai langkah mahasiswa menyuarakan pendapatnya sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan kampus.
“ Saya apresiasi apa yang mahasiswa sampaikan. Mereka tidak diam-diam, karena kita butuh keterbukaan. Jangan tutup-tutupi, sebab kalau ditutup terus, lama-lama bisa bengkak dan meledak,” ujarnya.
Ia berharap kebijakan baru ini dapat memperbaiki sistem administrasi kampus sekaligus membantu alumni agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
“ Kebijakan ini bukan untuk mempersulit, tapi untuk menolong mahasiswa dan nama baik kampus. Kita ingin alumni USWIM dikenal sebagai sarjana yang siap bekerja dan berdaya saing,” tutupnya. (*).
Editor : Agung Trihandono