CEPOSONLINE.COM, MIMIKA – Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah sebagai salah satu daerah penyumbang malaria tertinggi di Indonesia.
Dengan angka prevalensi parasit (Annual Parasite Incidence) yang masih melampaui ambang 100 per 1.000 populasi, wilayah di Tanah Papua ini menjadi medan tempur utama dalam Rencana Akselerasi Nasional 2020-2026.
Kepala Dinas Kesehatan melalui Kabid P2P Dinkes Kabupaten Mimika, Linus Dumatubun, menyampaikan bahwa sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika bersama Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP) menggelar evaluasi mendalam melalui forum Continuous Quality Improvement (CQI) yang saat ini sedang berlangsung di Hotel Grand Tembaga.
“Fokus utamanya adalah membedah efektivitas dua program kunci seperti penguatan sistem di lima Puskesmas (Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral, dan Bhintuka) serta implementasi Terapi Baru Primakuin (TBP),” kata Linus, saat ditemui wartawan, Jumat (24/4/2026).
Linus melanjutkan bahwa Terapi Baru Primakuin (TBP) menjadi sorotan utama dalam pertemuan ini. Sebagai metode radikal untuk memutus rantai infeksi Malaria Vivax, TBP menuntut presisi tinggi dalam pelaksanaannya.
Melalui forum CQI, otoritas kesehatan mengukur kepatuhan terhadap pedoman terapi serta memantau empat indikator kunci keberhasilan.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan upaya memastikan setiap dosis obat yang diberikan berdampak langsung pada penurunan angka kesakitan di lapangan.
Forum ini menghadirkan para pemangku kepentingan strategis, mulai dari jajaran Dinas Kesehatan, dokter penanggung jawab poli, hingga petugas laboratorium dan farmasi.
Agenda krusial seperti pemaparan teknis oleh pakar kesehatan J. Rini Poespoprodjo dan evaluasi pemantauan hari ketiga oleh kader yang dipimpin Enny Kenangalem, menjadi ruang untuk mengidentifikasi hambatan teknis yang dihadapi petugas di garda terdepan.
Melalui metode Plan-Do-Study-Act, setiap Puskesmas ditantang untuk merumuskan rekomendasi perbaikan instan atas kendala implementasi di lapangan.
Evaluasi ketat ini diharapkan mampu menjaga ritme kerja penguatan program malaria agar tetap sesuai jalur, sehingga target eliminasi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kenyataan bagi masyarakat Mimika.
(*)