CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA– Tak terasa, kalender Hijriah telah memasuki separuh terakhir bulan Syaban 1447 H.
Atmosfer Ramadan pun mulai menyelinap di sela-sela aktivitas warga.
Bagi umat Muslim, periode ini bukan sekadar hitung mundur kalender, melainkan fase krusial untuk melakukan “pemanasan” sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Berdasarkan kalender astronomi, awal Ramadan 2026 diprediksi akan jatuh pada pertengahan Februari.
Di sisa waktu yang ada, berikut rangkuman persiapan utama yang perlu diperhatikan agar ibadah puasa nanti berjalan optimal.
1. Menuntaskan “Utang” yang Tersisa
Hal terpenting di akhir Syaban adalah memastikan kewajiban masa lalu telah tertunaikan.
Bagi Anda yang masih memiliki utang puasa (qadha) tahun lalu, sisa hari di bulan Syaban adalah kesempatan terakhir.
Dilansir dari kanal YouTube Buya Yahya, para ulama sepakat bahwa puasa untuk membayar utang (qadha), puasa nazar, atau puasa yang sudah menjadi kebiasaan (seperti Senin–Kamis) tetap diperbolehkan, bahkan wajib diselesaikan sebelum hilal Ramadan muncul.
2. Manajemen “Culture Shock” Tubuh
Pernahkah Anda merasa lemas atau sakit kepala hebat di tiga hari pertama Ramadan?
Itu merupakan tanda tubuh mengalami culture shock
Pakar kesehatan menyarankan agar di separuh terakhir Syaban ini, masyarakat mulai melakukan penyesuaian sebagai berikut:
• Kurangi kafein: Mulailah mengurangi porsi kopi atau teh agar tidak mengalami caffeine withdrawal saat puasa.
• Atur jam tidur: Cobalah bangun lebih awal (seolah-olah sedang sahur) agar siklus biologis tubuh tidak kaget saat Ramadan tiba.
•Hidrasi maksimal: Perbanyak minum air putih sejak sekarang untuk menjaga cadangan cairan tubuh.
3. Cek Anggaran, Hindari “Panic Buying”
Secara ekonomi, separuh terakhir Syaban biasanya dibarengi dengan fluktuasi harga bahan pokok.
Untuk menghindari pemborosan, masyarakat diimbau tidak melakukan panic buying.
Persiapan stok pangan sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Fokus pada bahan pokok yang tahan lama dan hindari belanja berlebihan hanya karena lapar mata.
4. Membersihkan Hati dan Lingkungan
Di Indonesia, separuh terakhir Syaban identik dengan tradisi bersih-bersih.
Mulai dari tradisi nyadran (ziarah makam) hingga kerja bakti membersihkan masjid dan musala di lingkungan rumah.
Secara spiritual, hal ini menjadi simbol pembersihan diri dari penyakit hati agar siap menerima keberkahan Ramadan dalam kondisi “suci”. (*)
Editor : Weny Firmansyah