CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA–Menyongsong Hari Raya Natal 25 Desember 2025 dan Tahun Baru 1 Januari 2026, Benhur Tomi Mano (BTM) dan keluarga menggelar ibadah syukur bersama Dewan Kesenian Kota Jayapura di kediamannya, Senin (22/12/2025) malam.
Ibadah syukur diwarnai refleksi tentang makna seni dalam kehidupan orang Papua.
Salah satu momen yang menyentuh disampaikan istri Benhur Tomi Mano, Kristhina Luluporo atau akrab disapa Kristina Mano.
Dalam syairnya, Kristina Mano menegaskan bahwa bagi orang Papua, seni bukan sekadar hiasan kehidupan, bukan pula pelengkap atau tontonan sesaat.
Seni adalah nafas yang menghidupkan, menggerakkan, dan memberi makna pada keberadaan manusia Papua.
Ia menggambarkan bahwa sejak dilahirkan ke dunia, orang Papua dibesarkan dalam irama tifa. Bunyi tifa berdetak seperti jantung ibu yang pertama kali didengar.
Kisah leluhur diwariskan bukan melalui buku, tetapi melalui nyanyian, tarian, ukiran, dan simbol-simbol alam.
Seni tidak tumbuh di panggung mewah, melainkan hadir di rumah karwar, honai, hutan, pesisir, dan tanah adat tempat kehidupan dimaknai.
"Seni bagi orang Papua adalah bahasa jiwa," ucap Kristina dalam penggalan syairnya.
Motif-motif noken mengajarkan kesabaran dan kasih seorang mama yang memikul kehidupan tanpa keluh.
Melalui seni pula, orang Papua menjaga relasi dengan alam. Burung cenderawasih, gunung, sungai, dan laut bukan sekadar objek, melainkan saudara kehidupan. Seni mengajarkan nilai mendasar bahwa merusak alam sama dengan melukai diri sendiri.
Seni disebut sebagai nafas hidup orang Papua. Selama nafas itu dijaga, Papua akan tetap bersuara. Orang Papua lahir bukan dari sunyi, tetapi dari bunyi tifa yang berdetak seperti jantung ibu di tanah yang menggantung sejarah.
Gerak kaki para penari adalah doa, ayunan tangan adalah harapan, dan keringat yang mengalir di tubuh penari menjadi persembahan hidup kepada Sang Pencipta. Noken di pundak mama bukan sekadar anyaman, melainkan rahim kesabaran, tempat kehidupan ditumbuhkan dan kasih dipikul tanpa keluh.
Dalam seni, orang Papua belajar bertahan bukan dengan senjata, tetapi dengan ingatan. Sebab apa yang diingat, tak mudah dimusnahkan.
"Dan jika suatu hari tifa dibungkam, selama seni masih hidup, orang Papua tidak akan pernah kalah," demikian penutup syair yang ditulis Mantan Anggota DPR Papua itu. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser