CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran dalam operasi bersama yang kini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah tokoh penting negara.
Adapun aksi serangan ini menandai eskalasi konflik yang sangat serius di Timur Tengah saat ini.
Berikut 5 alasan yang diungkap oleh kedua negara sebagai dasar dari operasi militer tersebut:
1. Ancaman Program Nuklir dan Senjata Balistik Iran
AS dan Israel secara resmi menyatakan bahwa salah satu alasan utama serangan adalah menghilangkan ancaman nuklir yang dianggap dapat membahayakan keamanan regional dan global.
Washington menilai Tehran sedang berusaha memperluas kemampuan militernya termasuk program rudal dan kemungkinan pembuatan senjata nuklir yang bisa menjadi ancaman eksistensial.
Kepentingan ini telah menjadi titik konflik dalam hubungan mereka selama bertahun-tahun.
AS dan Israel melihat kemampuan rudal dan potensi senjata nuklir Iran sebagai risiko serius yang harus dicegah sebelum menjadi ancaman yang tidak dapat dikendalikan.
2. Tindakan Pre-Emtif terhadap Ancaman Militer
Selain isu nuklir, serangan dilatarbelakangi oleh kekhawatiran atas aktivitas militer Iran yang dianggap agresif.
Salah satunya termasuk dukungan Iran terhadap kelompok proxy yang sering menyerang kepentingan AS dan sekutunya di kawasan.
AS menilai tindakan ini sebagai bagian dari strategi untuk meredam kemampuan ofensif Iran terlebih dahulu.
3. Menghilangkan Kepemimpinan Strategis Iran
Dalam operasi yang dinamai Operation Epic Fury, serangan menargetkan fasilitas militer dan tokoh penting Iran, termasuk Khamenei sendiri.
AS dan Israel menyatakan bahwa menonaktifkan struktur komando serta tokoh kunci militer Iran akan secara signifikan melemahkan kemampuan strategis negara tersebut.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya menyatakan kampanye ini bagian dari upaya lebih luas untuk mengurangi kemampuan rudal Iran dan menghancurkan industri militernya.
4. Memaksa Perubahan Kebijakan Iran.
Pemerintah AS dan Israel juga menggambarkan serangan ini sebagai langkah untuk memaksa Iran mengubah perilaku strategisnya, termasuk menghentikan dukungan bagi proxy militer di wilayah dan menurunkan kemampuan militernya yang dianggap mengancam stabilitas regional.
Dalam pidatonya, Presiden AS menyerukan kepada rakyat Iran untuk mempertimbangkan perubahan rezim.
5. Israel Menilai Ancaman Eksistensial.
Pemerintah Israel, yang sudah lama menyatakan Iran sebagai ancaman terbesar di kawasan.
Merekapun menyebut operasi ini sebagai upaya pre-emptive strike penyerangan awal untuk mencegah kemungkinan serangan yang lebih berbahaya di kemudian hari.
Israel menilai sejumlah tindakan Iran di masa lalu, termasuk dukungan terhadap kelompok militan anti-negara, sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Adapun reaksi dan kontroversi Internasional
dari serangan bersama AS–Israel ini telah memicu kecaman tajam dari banyak negara dan organisasi internasional, yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan berpotensi memperluas konflik menjadi perang besar.
Disisi lainnya, kesimpulan dari serangan AS–Israel terhadap Iran bukan terjadi secara tiba-tiba.
Namun ini merupakan hasil akumulasi ketegangan panjang terkait isu nuklir, persenjataan rudal, dukungan Iran terhadap kelompok militan proxy, serta kebutuhan Israel dan Washington untuk mengamankan wilayah dan membatasi ancaman strategis. (*).
Editor : Yohanes Palen