Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Perang AS–Israel vs Iran: Dampak Serius ke Ekonomi Indonesia

Yohanes Palen • 2026-03-02 09:13:44

Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. (CNBCINDONESIA.COM)
Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. (CNBCINDONESIA.COM)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diperkirakan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

 

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, gangguan rantai logistik internasional, hingga tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah.

 

Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan tersebut dinilai berada dalam posisi rentan apabila konflik berkepanjangan.

 

Kenaikan harga minyak global akan berdampak langsung pada beban subsidi energi, meningkatnya biaya produksi industri, serta merangkaknya harga kebutuhan pokok di dalam negeri. 

 

Selain itu, jalur perdagangan dan distribusi barang dari Timur Tengah menuju Asia, termasuk Indonesia, juga berisiko terganggu akibat ketidakpastian situasi keamanan.

 

Di sisi lain, serangan udara gabungan yang dilaporkan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran disebut-sebut menyebabkan wafatnya Ali Khamenei.

 

Pemimpin Tertinggi Iran yang menjabat sejak 1989 itu dikabarkan meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah ibu kota Teheran digempur dalam serangan udara militer. 

 

"Ya, eskalasi konflik tersebut bisa membawa dampak ekonomi serius bagi Indonesia, terutama pada lonjakan harga minyak dan terganggunya pasokan energi nasional,"ungkap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

 

Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah tidak hanya memicu gejolak harga energi global.

 

 Namun juga mengganggu rantai logistik internasional, termasuk distribusi barang dan jasa antara Indonesia dan negara-negara di kawasan tersebut.

 

JK mengungkapkan, jalur logistik antara Indonesia dan Timur Tengah kini ikut terdampak. 

 

Bahkan, penerbangan dari kawasan tersebut ke Indonesia mengalami hambatan, termasuk kepulangan jemaah umrah dari Tanah Suci.

 

“Logistik di antara Timur Tengah dan kita seluruh terputus. Sekarang ratusan ribu orang Indonesia, puluhan ribu yang naik umrah contohnya, itu tidak bisa kembali,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, sistem distribusi impor-ekspor dari Timur Tengah ke berbagai wilayah kini tersendat. 

 

Indonesia yang berada di jalur selatan distribusi tersebut turut merasakan imbasnya.

 

JK juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dari Timur Tengah. Dalam kondisi konflik berkepanjangan, suplai energi nasional dinilai berada dalam posisi rawan.

 

“Masalahnya, kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti stop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ. Hati-hati apabila ini lama,"jelasnya.

 

Ia memperingatkan, cadangan bahan bakar nasional rata-rata hanya mampu bertahan sekitar tiga minggu. 

 

Jika suplai dari negara-negara pemasok utama terhenti, potensi kelangkaan bisa terjadi dalam waktu dekat.

 

“Hati-hati akan sulitnya bahan bakar dalam waktu mungkin sebulan. Rata-rata persediaan kita tiga minggu. Setelah itu kemungkinan masih ada di Singapura, tapi suplai dari Saudi,Iran dan Kuwait sekarang pasti terputus,”beber JK.

 

Selain sektor energi dan logistik, JK menilai dampak psikologis terhadap pasar global mulai terasa. 

 

Ketidakpastian geopolitik memicu kekhawatiran pelaku usaha dan negara-negara mitra dagang Indonesia.

 

“Ekspor kita tentu ke Eropa akan masalah karena ini semua timbul ketakutan, semua orang bersiap seperti itu,”pintan JK.

 

JK berharap situasi geopolitik segera mereda agar dampak ekonomi global, termasuk terhadap Indonesia, tidak semakin dalam.

 

Pemerintah pun dinilai perlu menyiapkan langkah antisipasi, mulai dari pengamanan pasokan energi, penguatan cadangan devisa, hingga strategi stabilisasi harga guna meredam efek domino dari konflik internasional tersebut. (*).

 

 

Editor : Yohanes Palen
#perang dunia ketiga #timur tengah #Perang Iran Amerika