CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA— Akhirnya sebuah babak panjang dalam sejarah Republik Islam Iran tiba.
Ali Khamenei, yang memimpin Iran sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, telah wafat pada usia 86 tahun setelah digempur dalam serangan udara besar oleh militer Amerika Serikar dan Israel di ibu kota Teheran.
Pernyataan kematian Khamenei disampaikan oleh pejabat tinggi Israel dan didukung oleh pengakuan negara Iran melalui media negara yang menyatakan sang pemimpin “telah mencapai martabat syahid”.
Pemerintah Iran juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai tanda penghormatan terhadap almarhum.
Kronologi Serangan dan Kematian
Serangan udara terkoordinasi yang dilakukan oleh AS dan Israel menjadi bagian dari operasi militer besar terhadap fasilitas-fasilitas strategis Iran.
Sasaran serangan tidak hanya struktur militer tetapi juga kantor-kantor pemerintahan di Teheran, termasuk lokasi yang diyakini sebagai markas pemimpin tertinggi.
Pernyataan Presiden AS menegaskan bahwa operasi tersebut berhasil menewaskan sejumlah besar pejabat tinggi Iran, termasuk Khamenei sendiri.
Sementara itu, pengumuman dari media pemerintah Iran menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi itu wafat saat melakukan tugasnya menjelang serangan tersebut.
Jejak Kepemimpinan yang Mendalam
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 dan merupakan tokoh kunci dalam politik Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Ia mengambil alih jabatan Pemimpin Tertinggi setelah wafatnya pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini, pada 1989.
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei memegang otoritas tertinggi atas seluruh cabang pemerintahan, termasuk militer, keamanan, dan urusan agama di Iran.
Kepemimpinannya ditandai oleh kebijakan-kebijakan tegas dalam menghadapi tekanan ekonomi internasional, program nuklir Iran, sekaligus ekspansi pengaruh regional melalui kelompok proksi di sejumlah negara Timur Tengah.
Ia juga dikenal karena pendekatannya yang keras terhadap pembangkang dan ketegangan berkelanjutan dengan negara-negara Barat.
Dampak Regional dan Reaksi Dunia
Kematian Khamenei diperkirakan akan memicu perubahan besar dalam lanskap geopolitik Timur Tengah.
Era kepemimpinannya yang panjang telah menjadi faktor penting dalam hubungan Iran dengan negara-negara tetangga serta kekuatan global seperti Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Para pemimpin dunia mengecam eskalasi konflik tersebut dan menyerukan de-eskalasi, sementara Iran menyatakan kesiapan untuk membalas serangan tersebut.
Sementara itu kepergian Ali Khamenei menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah politik Iran modern.
Ia dikenal sebagai pemimpin dengan pengaruh besar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dalam percaturan geopolitik kawasan Timur Tengah dan dunia internasional.
Lahir dari Keluarga Ulama Sederhana
Ali Khamenei lahir di kota Mashhad pada 19 April 1939 dari keluarga ulama sederhana.
Sejak kecil, ia telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pendidikan awalnya dimulai di sekolah tradisional (maktab) untuk mempelajari dasar-dasar agama dan Al-Qur’an sebelum melanjutkan pendidikan Islam tingkat lanjut di kota kelahirannya.
Dalam perjalanan intelektualnya, Khamenei mendalami berbagai disiplin ilmu seperti filsafat, logika, dan hukum Islam di bawah bimbingan para ulama terkemuka.
Ketertarikannya terhadap isu sosial dan politik mulai tumbuh sejak usia muda, terutama ketika ia menyaksikan dinamika pemerintahan monarki yang dipimpin Shah.
Pada awal 1960-an, Ali Khamenei bergabung dengan gerakan revolusioner yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini.
Ia aktif dalam perjuangan menentang rezim Shah yang saat itu dinilai memiliki kedekatan dengan kepentingan Barat.
Perjalanannya tidak mudah. Khamenei beberapa kali ditangkap oleh aparat keamanan SAVAK dan menjalani masa penahanan serta pengasingan.
Namun tekanan tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam memperjuangkan perubahan politik di Iran.
Revolusi Islam Iran pada 1979 akhirnya menggulingkan kekuasaan Shah dan mengubah sistem pemerintahan negara menjadi republik Islam.
Sejak saat itu, Khamenei mulai dipercaya menduduki berbagai posisi strategis dalam pemerintahan.
Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei pernah menjabat sebagai Presiden Iran pada periode 1981–1989.
Pengalamannya memimpin negara di tengah situasi sulit, termasuk konflik dalam Perang Iran-Irak, membentuk karakter kepemimpinannya yang tegas dan berorientasi pada penguatan pertahanan nasional.
Pada 1989, setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Sejak saat itu, ia memegang otoritas tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan negara, termasuk kendali atas militer, kebijakan luar negeri, serta arah ideologi republik.
Selama masa kepemimpinannya, Khamenei dikenal memperkuat sistem pertahanan negara dan struktur militer maupun paramiliter.
Ia juga memainkan peran penting dalam menentukan sikap Iran terhadap negara-negara Barat, terutama dalam isu nuklir dan sanksi internasional.
Hingga akhir hayatnya, Ali Khamenei tetap menjadi tokoh sentral dalam setiap kebijakan strategis Iran.
Pendukungnya memandangnya sebagai penjaga revolusi dan kedaulatan nasional, sementara para pengkritiknya menilai kepemimpinannya sarat kontroversi dalam isu demokrasi dan hak asasi manusia.
Wafatnya Ali Khamenei diperkirakan akan membawa dinamika baru dalam politik Iran, terutama terkait proses suksesi kepemimpinan tertinggi negara tersebut.
Adapun Pemerintah Iran mengajak seluruh rakyat untuk mendoakan almarhum dan menjaga persatuan nasional di tengah situasi berkabung. (*).
Editor : Yohanes Palen