CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA– Aktris Aurelie Moeremans kini menjadi trending topic di platform X (sebelumnya Twitter).
Ia menjadi topic pembicaraan publik setelah memoar terbarunya berjudul "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" menjadi viral dan memicu diskusi luas tentang trauma masa muda serta praktik child grooming.
Sementara itu memoar tersebut tersedia gratis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, melalui tautan yang dibagikan langsung oleh Aurelie ke pengikutnya.
Keputusan ini menarik perhatian publik karena bertujuan mendukung edukasi dan kesehatan mental, bukan keuntungan finansial.
Kisah Pilu di Balik Broken Strings
Dirilis secara mandiri pada 10 Oktober 2025, Broken Strings merupakan memoir personal Aurelie yang mengisahkan pengalaman pahitnya semasa remaja.
Buku ini menceritakan bagaimana ia menghadapi hubungan manipulatif dan tidak sehat akibat praktik child grooming oleh seorang pria dewasa, yang ia samarkan dengan nama Bobby.
Memoar ini disajikan dengan jujur, tanpa romantisasi, sebagai refleksi dampak psikologis jangka panjang dari relasi toksik.
Kutipan-kutipan buku yang beredar di media sosial memicu percakapan publik tentang pengalaman traumatis tersebut, hingga akhirnya membuat nama Aurelie Moeremans menjadi trending topic di X.
Adapun alasan Aurelie membagikan buku secara gratis untuk memberikan dukungan emosional dan edukasi bagi orang lain yang mungkin pernah mengalami hal serupa.
“Niat awalnya adalah, kalau aku bisa menyelamatkan satu saja ‘Aurelie kecil’ lain di luar sana, semua yang terjadi sama aku nggak sia-sia. Aku release ini karena memang hanya ingin membantu perempuan-perempuan agar nggak usah mengalami apa yang aku alami,” tulis Aurelie di akun Instagramnya.
Keputusan ini juga mempermudah akses masyarakat untuk membaca memoar dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, sehingga pesan tentang bahaya child grooming dan dampak psikologisnya dapat tersebar lebih luas.
Sementara itu sejak dibagikan secara bebas, Broken Strings mendapatkan respons besar dari pembaca.
Banyak yang mengaku tersentuh, bahkan merasa terbantu menghadapi trauma pribadi mereka sendiri. (*).
Editor : Yohanes Palen