CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Kabar perginya Doraemon dari RCTI sempat membuat publik Indonesia diliputi nostalgia dan kekhawatiran.
Namun, fakta terbaru menegaskan satu hal penting: Doraemon tidak menghilang dari televisi nasional Indonesia. Ia hanya berpindah rumah.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Santosa Amin, pengisi suara karakter Suneo versi Indonesia, yang membantah anggapan bahwa Doraemon akan lenyap dari layar kaca Tanah Air. Menurutnya, Doraemon tetap tayang, hanya saja tidak lagi di RCTI
“Doraemon bukan berhenti tayang, tapi pindah stasiun,” ujar Santosa Amin, memberi kelegaan bagi jutaan penggemar lintas generasi yang tumbuh bersama robot kucing biru dari abad ke-22 itu.
Tak dapat dimungkiri, berhentinya Doraemon di RCTI menutup satu bab penting dalam sejarah televisi Indonesia. Selama puluhan tahun—sejak era 1990-an—RCTI menjadi “rumah” bagi Doraemon, menemani pagi dan akhir pekan keluarga Indonesia.
Tanpa seremoni perpisahan, Doraemon perlahan menghilang dari jadwal siaran RCTI sejak awal 2025. Namun kepergiannya bukan akhir cerita, melainkan tanda perubahan strategi industri pertelevisian nasional.
Dikutip dari Radar Semarang, pindahnya Doraemon ke stasiun televisi lain menjadi bukti bahwa kartun legendaris ini masih memiliki nilai siar tinggi, bahkan di tengah gempuran platform digital dan layanan streaming.
Belum adanya pernyataan resmi dari RCTI membuat publik berspekulasi. Namun secara industri, langkah ini sejalan dengan tren televisi nasional yang kini lebih fokus pada program hiburan dewasa, sinetron prime time, dan reality show.Sementara itu, konten anak-anak—khususnya animasi—mengalami reposisi.
Doraemon, sebagai merek global dengan basis penonton kuat, memilih bertahan di televisi nasional lewat jalur baru, alih-alih tenggelam di tengah perubahan zaman.“Ini bukan soal ditinggalkan penonton, tapi soal strategi siar,” ujar seorang pengamat televisi yang menilai Doraemon masih menjadi magnet rating di segmen keluarga.
Bagi masyarakat Indonesia, Doraemon bukan sekadar tontonan anak-anak. Ia adalah simbol masa kecil, ruang belajar moral, dan pengikat kenangan keluarga. Dari kantong ajaibnya, lahir cerita tentang persahabatan, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi konsekuensi.
Kabar bahwa Doraemon tetap tayang di TV nasional menjadi angin segar, terutama bagi keluarga yang masih menjadikan televisi sebagai ruang kebersamaan, bukan sekadar layar individual di genggaman. Berakhirnya penayangan Doraemon di RCTI memang menutup satu era, tetapi tidak mematikan warisan. Dengan kepastian bahwa serial ini tetap hadir di stasiun televisi nasional lain, Doraemon membuktikan dirinya sebagai ikon lintas zaman yang mampu beradaptasi. (*)
Editor : Weny Firmansyah