Di Lapangan Cenderawasih Biak, setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu sore, sebuah pemandangan tak biasa tersaji.
Bukan sekadar latihan olahraga biasa, melainkan sebuah pertunjukan dedikasi dan harapan yang dipimpin oleh seorang abdi negara.
Di tengah gemuruh teriakan instruksi dan dentuman pukulan pada samsak, sosok Aipda Marlon Rumbiak, Bhabinkamtibmas dari Kampung Ambroben dan Sumberker, menjelma menjadi lebih dari sekadar penegak hukum.
Ia adalah pendidik, pembina, dan pelopor kebangkitan tinju Biak melalui sasana yang ia dirikan sendiri: Ambroben Boxing Club.
LAPORAN: ISMAIL, BIAK NUMFOR
Di balik seragam dinasnya, Aipda Marlon Rumbiak sebenarnya adalah seorang mantan atlet tinju.
Karena kecintaanya yang mendalam pada olahraga keras ini, ia pun termotivasi untuk membuka sasana dan merangkul anak-anak jalanan maupun kaum muda di Biak yang memiliki hobi serupa.
"Tinju adalah hobi saya, dan di Biak, olahraga ini sangat diminati," ujarnya saat ditemui di Lapangan Cenderawasih sembari menunggu anak-anak didiknya tiba di Sasana.
Namun, motivasi utamanya jauh melampaui sekadar hobi. Ia ingin mengembalikan kejayaan tinju Biak yang sempat redup terlalu lama.
"PON kemarin (2021) tidak ada anak Biak lagi yang mewakili Tinju Papua.”
“Ini pukulan sekaligus jadi motivasi, kenapa kita orang Biak dulu sangat terkenal dengan tinju, tapi sekarang sudah semakin redup? Kita hebat-hebat dalam tinju, sebenarnya" kenangnya, penuh semangat.
Ambroben Boxing Club, yang telah beroperasi selama lebih dari setahun, menjadi oase bagi sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan dan usia, mayoritas adalah remaja berusia 12-30 tahun.
Didampingi asisten pelatih, Jhon Bonsapia, seorang mantan atlet tinju Biak yang juga punya nama, Aipda Marlon menorehkan jejak positif yang nyata di masyarakat.
Salah satu fokus utama sasana ini adalah merangkul anak-anak jalanan. Mejaga agar mereka bisa terkontrol dan tidak melampiaskan pada hal negatif.
"Kami juga merekrut anak-anak jalanan, yang biasanya aktivitas kurang jelas di luar. Daripada mereka menyalurkan energi ke aktivitas yang tidak jelas, kami ajak mereka bergabung," jelas Aipda Marlon.
Ia teringat kisah Mike Tyson, petinju legendaris yang juga berangkat dari jalanan.
"Kita jangan remehkan mereka. Mereka mungkin ingin menyalurkan emosi, tapi dalam hal yang positif. Karena wadah tidak tersedia, mereka sering salah gunakan energi itu ke hal negatif," imbuhnya.
Sasana ini terbuka untuk siapa saja, termasuk mereka yang putus sekolah, siswa-siswi, hingga masyarakat umum, bahkan kaum perempuan.
Agustina Swabra (21), salah satu petinju perempuan muda dari Biak, merasakan langsung dampak positifnya.
"Boxing mengajarkan kita untuk disiplin, juga mental dan fisik kita," tutur Agustina.
Baginya, tinju juga merupakan bentuk perlindungan diri.
"Bagi perempuan, bisa sebagai bentuk perlindungan diri dari orang jahat," katanya.
Ia mengapresiasi dedikasi Aipda Marlon.
"Pelatih kami tidak melihat satu orang saja, tapi melihat kami semua, kami diberikan motivasi dan semangat setiap hari," jelas Agustina Swabra.
Yang menarik, seluruh sesi latihan di Ambroben Boxing Club adalah gratis.
"Tidak ada pungutan biaya, mereka mungkin hanya siapkan bawa air minum dari rumah, atau ongkos transportasi sendiri," kata Aipda Marlon.
Baginya, ilmu dan pembinaan yang diberikan adalah kontribusi terbaik kepada masyarakat.
"Kalau dari dan untuk kami, ilmu yang kami berikan itulah kontribusi kami ke masyarakat," tegasnya.
Bagi mereka yang menunjukkan potensi menonjol, Aipda Marlon bahkan memberikan pembinaan khusus, baik teknik maupun taktik.
Ia optimis, suatu saat nanti, bibit-bibit unggul dari Ambroben Boxing Club akan mewakili Biak Numfor di ajang nasional.
Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Bupati, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora), Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub), Kepala Dinas Pendapatan Daerah, hingga Kapolres dan Kapolsek Biak Kota.
"Kami berterima kasih kepada Pak Bupati dan Wakil Bupati lewat dinas yang sudah memberikan kami bantuan, juga kepada Bapak Kapolres, Wakapolres, dan Kapolsek Biak Kota," ujarnya.
Meskipun tantangan cedera dan izin orang tua selalu ada dalam olahraga keras ini, Aipda Marlon melihat masa depan cerah.
Ia berharap adanya kejuaraan internal daerah sebagai ajang menjaring bibit-bibit potensial, sekaligus memicu pertumbuhan sasana-sasana baru.
"Dengan eksistensi Sasana Ambroben Boxing Club, sejumlah sasana baru sudah bermunculan. Sudah mulai berkembang, teman-teman atlet sudah mulai aktif, atletnya juga sudah mulai banyak," tuturnya bangga.
Digelarnya turnamen tinju di Biak, baik di GOR maupun lokasi ikonik seperti Hanggar, diyakini tidak hanya akan mengaktifkan semangat olahraga, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal dan UMKM.
"Ini bisa kembali lagi mengaktifkan ekonomi di Biak," pungkasnya.
Kisah Aipda Marlon Rumbiak dan Ambroben Boxing Club adalah cerminan nyata dari semangat "Polri Untuk Masyarakat."
Lebih dari sekadar menjaga keamanan, ia membuktikan bahwa dengan kepedulian dan dedikasi, seorang anggota Polri dapat menjadi agen perubahan positif, merangkul generasi muda, dan merajut kembali harapan untuk masa depan yang lebih baik, satu pukulan demi satu pukulan, di atas ring tinju Biak. (*)
Editor : Gratianus Silas