Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

SEJARAH Bandara Frans Kaisiepo: Dibangun saat Perang Dunia 2, Dinamai Bandara Mokmer

Gratianus Silas • 2024-04-29 17:23:18
Bandara Frans Kaisiepo yang dulunya bernama Bandara Mokmer di Biak, Papua.
Bandara Frans Kaisiepo yang dulunya bernama Bandara Mokmer di Biak, Papua.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Kementerian Perhubungan resmi mencabut status internasional di 17 bandara di Indonesia.

Satu di antaranya Bandara Frans Kaisiepo.

Pencabutan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31/2024 (KM 31/2004) pada 2 April 2024 lalu.

Hal ini disayangkan, apalagi kala mengetahui bahwa bandara di Kota Biak, Provinsi Papua, itu memiliki sejarah panjang di dunia penerbangan Indonesia.

Bahkan, Bandara Frans Kaisiepo sudah ada sejak masa Perang Dunia 2.

Dibangun Jepang pada 1942

Meletusnya Perang Dunia ke - II di kawasan Asia - Pasific, membawa dampak tentara Jepang menduduki Irian Jaya/Biak pada tahun 1942.

Dalam usahanya memenangkan perang, maka dibangun beberapa pangkalan angkatan laut dan angkatan udara termasuk di Biak, tepatnya di perkampungan Ambroben dibangun satu landasan pesawat udara.

Hal ini guna menunjang mobilitas tentara, logistik dan lain - lain dengan ukuran 2000m x 40m.

Pembanungan Lapangan Terbang Ambroben, yang kemudian menjadi Bandara Mokmer sebelum berganti lagi menjadi Bandara Frans Kaisiepo.
Pembanungan Lapangan Terbang Ambroben, yang kemudian menjadi Bandara Mokmer sebelum berganti lagi menjadi Bandara Frans Kaisiepo.

Lapangan terbang tersebut berlokasi di daerah perkampungan Ambroben dan pelaksanaannya dikerjakan oleh tenaga manusia yang bersifat padat karya atau romusha.

Lapangan terbang yang berlokasi di Ambroben dibangun pada tahun 1943 dan selesai tahun itu juga, sudah dapat beroperasi untuk menampung kegiatan pesawat-pesawat udara bermesin satu dan bermesin ganda dari tentara Jepang.

Dikuasai Angkatan Udara Australia

Pada 16 Nopember 1944, sekutu berhasil mengalahkan Jepang dan menguasai lapangan terbang di Ambroben.

Dengan peralatan yang serba lengkap mereka membangun semua fasilitas termasuk prasarana angkutan udara untuk mobilitas tentara, logistic dan basis pertahanan.

Di Biak dibangun beberapa landasan lapangan terbang yaitu: lapangan terbang (Boroku Manuhua) di perkampungan Boroku, di Samau dibangun lapangan terbang Sorido dan di perkampungan Ambroben dibangun lapangan terbang Mokmer yaitu bekas lapangan terbang Jepang yang diperpanjang serta diperluas dengan ukuran (3000m x 40m).

Lapangan terbang tersebut dipergunakan RAAF (Royal Australia Air Force) atau Angkatan Udara Australia yang bertugas sebagai tentara Sekutu.

Pendudukan tentara Sekutu di Biak berakhir menjelang akhir tahun 1946.

Diberi Nama Bandara Mokmer oleh Pemerintah Belanda

Pada 1947, perang usai dan Belanda masuk dan menguasai lapangan terbang ini.

Sejak itu, lapangan terbang di tepi Pantai Ambroben ini dinamai Bandara Mokmer.

Dengan adanya surat keputusan HAK PAKAI oleh Gubernur Nieuw Guinea atas nama Angkatan Laut Belanda di Biak, Nomor:38/a.2/1935 tanggal 17 – September – 1953 sehingga lapangan terbang Boroku yang digunakan oleh Bureau Luchtvaart ditutup, karena untuk operasi penerbangan komersial, dan Belanda mencarikan lokasi baru dan pilihan jatuh pada bapangan terbang Mokmer bekas lapangan terbang Jepang/RAAF (Royal Australia Air Force).

Pada tahun 1952 Bureau Luchtvaart melakukan pembangunan lapangan terbang pada lokasi kampung Ambroben dan pembangunan di kerjakan secara bertahap.

Tahap pertama dibangun untuk dapat menampung jenis pesawat DC – 3 dan selesai pada tahun 1953/1945.

Untuk mendukung keberadaan bandara ini, Belanda melakukan beberapa pembangunan, termasuk membangun hotel yang hanya berjarak 2 menit jalan kaki dari bandara.

Hotel tersebut didirikan oleh maskapai milik Belanda, KLM, dan dinamai RIF Hotel.

Peletakan batu pertama dilakukan tahun 1952, dengan tujuan menjadikan Biak sebagai bagian dari rute penerbangan internasional KLM.

Selanjutnya kegiatan penerbangan komersial mulai dialihkan ke pelabuhan udara Mokmer dari lapangan terbang Boroku (Manuhua).

Tahap–tahap pembangunan pelabuhan udara Mokmer untuk dapat menampung pesawat udara jenis DC – 8.

Permulaan pelaksanaan test landing dilakukan pada Desember 1959.

Setahun kemudian, KLM membuka rute penerbangan Biak-Tokyo-Amsterdam.

Sayangnya, hal ini tak berlangsung lama.

Berganti Jadi Bandara Frans Kaisiepo dan Dikelola Pemerintah Indonesia

Pada 1962 penguasaan Bandara Mokmer diserahkan ke UNTEA (United Nations Temporary Executive Administration), Badan PBB yang mengurus Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) Irian Barat.

Setelah penyerahan kedaulatan Irian Barat ke Indonesia pada 1 Mei 1953, UNTEA baru menyerahkan penguasaan Bandara Mokmer ke tangan Indonesia tahun 1969.

Di bawah pengelolaan pemerintah Indonesia, nama Bandara Mokmer diubah menjadi Bandara Frans Kaisiepo pada 1984.

Frans Kaisiepo sendiri merupakan nasionalis Indonesia asal Biak yang dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional atas usahanya seumur hidup untuk mempersatukan Irian Barat dengan Indonesia.

Sebelum masa krisis moneter 1998, Bandara Frans Kaisiepo melayani rute penerbangan internasional ke Amerika Serikat.

Posisi strategis bandara ini yang dekat Samudra Pasifik dan berlokasi di ekuator membuat Garuda Indonesia memasukkan Biak dalam penerbangan internasional ke Amerika Serikat.

Pada periode 1996-1998, Garuda membuka rute Jakarta Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles dengan pesawat berbadan lebar MD-11.

Bahkan sebenarnya bandara ini sanggup didarati pesawat sebesar Boeing 747 seri 400.

Namun sangat disayangkan, rute internasional melintasi Samudra Pasifik ini terhenti karena hantaman krisis ekonomi.

Padahal bandara yang dibangun di atas litologi batu gamping (limestones) alias batu karang ini amat kokoh dan bersifat keras.

Bandara ini juga menempati posisi keempat sebagai bandara dengan landasan pacu terpanjang di Indonesia setelah Bandara Internasional Hang Nadim di Batam, Bandara Internasional Kualanamu di Medan, dan Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang.

Kini, dengan dicabutnya status internasional, maka Bandara Frans Kaisiepo kini berstatus Bandara Domestik.

Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I itu melayani penerbangan domestik ke Jayapura, Makassar, Jakarta, Serui, maupun Nabire. Bandara Frans Kaisiepo merupakan bandara yang dulunya melayani rute penerbangan internasional ke Amerika Serikat.

Posisi strategis bandara ini yang dekat Samudra Pasifik dan berlokasi di ekuator membuat Garuda Indonesia memasukkan Biak dalam penerbangan internasional ke Amerika Serikat.

Pada periode 1996-1998, Garuda membuka rute Jakarta Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles dengan pesawat berbadan lebar MD-11.

Bahkan sebenarnya bandara ini sanggup didarati pesawat sebesar Boeing 747 seri 400.

Namun sangat disayangkan, rute internasional melintasi Samudra Pasifik ini terhenti karena hantaman krisis ekonomi.

Padahal bandara yang dibangun di atas litologi batu gamping (limestones) alias batu karang ini amat kokoh dan bersifat keras.

Bandara ini juga menempati posisi keempat sebagai bandara dengan landasan pacu terpanjang di Indonesia setelah Bandara Internasional Hang Nadim di Batam, Bandara Internasional Kualanamu di Medan, dan Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang.

Kini, dengan dicabutnya status internasional, maka Bandara Frans Kaisiepo kini berstatus Bandara Domestik.

Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I itu melayani penerbangan domestik ke Jayapura, Makassar, Jakarta, Serui, maupun Nabire. (*)

Editor : Gratianus Silas
#Jepang #papua #australia #Bandara Frans Kaisiepo Biak #los angeles #Frans Kaisiepo #Irian Jaya #menhub #Irian Barat #Perang Dunia 2 #BIAK #belanda #Ceposonline.com #hawaii #menteri perhubungan #Jayapura #Biak Numfor #angkatan udara